<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984</id><updated>2011-07-28T23:19:52.465-07:00</updated><category term='Telisik'/><category term='Diary'/><category term='Sejarah'/><category term='Profil'/><category term='Potret'/><category term='Budaya'/><category term='Opini'/><category term='Refleksi'/><category term='Translate'/><category term='Sastra'/><title type='text'>Kacong Academy</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2364574021823483734</id><published>2010-10-29T12:49:00.000-07:00</published><updated>2010-10-29T12:55:16.310-07:00</updated><title type='text'>Dari Kasus Sayyid Qutb Hingga Aksi Membakar Al-Qur’an Sedunia;  Sinyal Keharusan Reinterpretasi Ayat Qitâl (Perang)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Garamond, serif; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Aksi membakar al-Qur’an sedunia, demikian pemberitaan itu menghiasi media di seluruh dunia, pekan ini. Sebenarnya ini bukan yang pertama. Pada masa Islam primordial, kasus semacam ini sudah biasa dialami oleh Rasul saw. dan kaum Muslimin, dan terbukti mereka bisa keluar dari krisis ini. Apa yang diteriakkan kelompok fundamentalis Kristen di Florida, Amerika. adalah hal yang biasa-biasa saja. Al-Qur’an sempat mengabadikan kasus-kasus serupa saat sang Rasul dituduh “penyihir”, “pembohong”,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;“pemfitnah” dll. Bagaimana Rasul saw. menyikapinya? Di sini kita diajak untuk kembali membuka lembar-lembar sejarah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Kelompok ini mengklaim bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci kaum Muslimin adalah sumber malapetaka yang mendoktrin pengikutnya untuk berbuat anarkis bahkan mengalirkan darah. “Islam agama kekerasan” tandas Terry Jones, pemimpin Dove World Outreach, yang bermarkas di Florida, AS itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Trauma yang tersisa sejak tragedi 11 September 2001 silam, yang menelan korban hampir 1000 orang lebih, sah-sah saja. Bahkan hampir seluruh masyarakat dunia turut mengutuk tragedi itu, termasuk kaum Muslimin sendiri. Tindakan ahumanis kelompok garis keras Islam itu sama sekali tak bisa disebut sebagai ajaran Islam, yang datang sebagai agama damai. Tindakan anarkis dengan melegitimasi ayat-ayat keagamaan seperti itu hanya bisa timbul dari interpretasi serampangan, dan tak bersandar pada akal sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Ayat-ayat &lt;i&gt;Qitâl&lt;/i&gt; (perang) yang termaktub dalam al-Qur’an sering disalah interpretasikan demi kepentingan individu maupun kelompok. Di sisi lain mereka seakan tak pernah membaca ayat-ayat &lt;i&gt;Rahmah&lt;/i&gt; (kasih sayang) yang bertaburan di dalamnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Sejatinya Ada banyak faktor yang melatar belakangi tindakan anarkis semacam itu: di antaranya sosial, politik, atau psikis sang pelaku. Sayyid Qutb, seorang penulis Mesir yang banyak mengilhami kelompok fundamentalis Islam misalnya, sebelum dibui oleh pemerintah masa itu, terlihat biasa-biasa saja. Namun ketika pemerintah mengeluarkan surat penangkapan terhadap semua pemimpin Ikhwân al-Muslimin (IM), termasuk di dalamnya Sayyid Qutb. Seketika karya-karya Qutb yang ditulis di balik jeruji besi menjadi beringas dan menyeramkan. Karya-karya Qutb kemudian acapkali menjadi santapan kelompok radikal Islam untuk melegitimasi tindakan anarkis yang mereka lakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bercermin dari kasus diatas, bahwa tindakan anarkis sejatinya tak hadir dengan ‘keluguannya’. Ia didorong oleh faktor-faktor lain. Sesunggunya al-Qur’an yang multi tafsir itu adalah kitab suci yang mengajarkan kedamain, toleransi dan sederet etika agung pada pembacanya, sehingga mampu menciptakan tatanan kehidupan dunia yang ideal. Kalaupun ada beberapa ayat yang menyuruh untuk mengangkat senjata, itu hanya diperbolehkan dalam situasi tertentu (baca: darurat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Ayat-ayat &lt;i&gt;Qitâl &lt;/i&gt;tak bisa lepas dari konteks dan realitas yang melingkupinya. Teks-teks suci itu tak boleh tercerabut begitu saja dari “realitas” sebagai neraca untuk memahaminya. Apa yang kemudian dipahami secara ‘telanjang’ oleh kelompok fundamentalis Islam adalah ketololan. Teks tak hadir dengan lugu, ia hadir dalam dinamika tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Reaksi yang kemudian mengendap ke permukaan akhir-akhir ini merupakan sesuatu yang alamiah. Menurut penulis, aksi kaum Muslimin yang jauh dari nilai-nilai luhur agama dan humanisme, serta reaksi tak proporsional dari kelompok radikal agama lain, sama-sama tak bisa dibenarkan. Mestinya kita obyektif menyikapi krisis semacam ini secara kolektif. Menyalahkan agama tertentu bukan sikap yang tepat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Kekerasan yang berdalih agama tak hanya terjadi dalam Islam, tapi hampir semua agama di dunia. Bahkan apa yang dipertontonkan oleh negara paling rasis, Israel, saat ini juga kerap melegitimasi pada teks-teks distorsif Talmud. Begitu pula misi perang Salib I &amp;amp; II yang pernah menghiasi penggalan sejarah peradaban manusia di abad pertengahan. Semua berusaha menjustifikasi naluri kolonial-barbar mereka pada masing-masing kitab sucinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Rasanya, rentetan kasus yang tak kunjung usai seperti yang kita saksikan melalui media adalah&lt;i&gt; home work&lt;/i&gt; terberat, bukan hanya bagi kaum Muslimin tapi seluruh umat manusia. Penduduk dunia sudah gerah dengan lakon kekerasan yang dipertontonkan oleh kelompok superior pada kelompok inferior maupun sebaliknya sebagai reaksi dari ketertindasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Mari kita kembali pada ayat-ayat &lt;i&gt;Qitâl&lt;/i&gt;. Perang dalam Islam diperbolehkan ketika kita merasa terancam atau diserang. Perang yang dikenal dalam Islam tak lebih dari sikap defensif (baik demi agama, harta dan harga diri). Sudah menjadi hukum alam bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam beberapa karakter, ada yang memiliki tabiat baik dan ada yang buruk. Seringkali eksistensi kita tak disenangi oleh sekelompok orang yang tak biasa menyaksikan perbedaan. Apa yang dianggapnya berbeda adalah salah, dan bukan tak mungkin akan menghantarkannya untuk berbuat lebih, anarki misalnya. Saat itulah sikap defensif menjadi keharusan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Ayat &lt;i&gt;Qitâl&lt;/i&gt; hanya boleh dipraktekkan dalam situasi tertentu. Ia hanya &lt;i&gt;wasîlah&lt;/i&gt; (perantara/sarana) untuk menuju kedamaian abadi. Ingat perang bukan tujuan! &lt;i&gt;Futûhât&lt;/i&gt; (penaklukan-penaklukan) Islam yang membentang sepanjang sejarah merupakan keputusan yang disepakati bersama: untuk menbebaskan rakyat negeri yang ditaklukkan dari kelaliman pemerintah sebelumnya, meski penulis tak menutup mata dari catatan sejarawan yang mengklaim bahwa&lt;i&gt; Futûhât Islam&lt;/i&gt; memiliki tendensi politik. Namun tegasnya, penaklukan-penaklukan itu awalnya mempunyai misi suci sebagai upaya dekolonisasi dari pemerintah lalim dan otoriter sebelumnya. Terbukti, kaum Muslimin tak hanya mengeruk keuntungan dan memeras kekayaan dari negeri yang ditaklukkannya, tapi kemudian membangunnya sehingga bisa sampai pada puncak peradaban yang mengagumkan. Bedakan dengan motif imperialisme Barat!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Apa yang kemudian kita saksikan dari aksi-aksi teror kelompok ekstrimis yang mengangkangi nama Islam adalah sebuah sikap pecundang dari orang-orang yang haus darah, meminjam istilahnya Fahmi Huwaidi &lt;i&gt;“tak mengenal bahasa selain bahasa kekerasan”&lt;/i&gt;. Selain kedangkalan pemahaman agamanya, ada semacam phobia-modernitas. Layaknya orang Badui yang tersesat di keramaian kota, gagap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Islam adalah agama inklusif yang tak pernah menutup pintu dari setiap perubahan, termasuk modernisme. Sejarah mencatat bahwa Islam adalah agama yang selalu bisa berakselerasi dengan zaman. Bahkan moderenitas yang dicapai Barat saat sekarang ini banyak berhutang budi pada Islam. Perhatikan catatan obyektif Gustav Lobon berikut &lt;i&gt;“Seandainya bukan karena Arab-Islam, Barat tak akan pernah menikmati kejayaannya.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bagi penulis, ayat &lt;i&gt;Qitâl&lt;/i&gt; semakin menemukan momentumnya untuk tak lagi dipahami sebagai “perintah”—meski redaksi ayatnya memakai bentuk &lt;i&gt;amr&lt;/i&gt; (perintah)-- ketika seluruh negara yang tergabung dalam PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) menandatangani konvensi penghapusan sistem perbudakan dan penjajahan dalam berbagai bentuknya pada 1-12-1949 M. Ayat &lt;i&gt;Qitâl&lt;/i&gt; bisa kita pahami sebagai &lt;i&gt;al-irsyâd&lt;/i&gt; (petunjuk). Hal ini bukan berarti mengenyampingkan perintah Tuhan yang termaktub dalam al-Qur’an, tapi lebih pada upaya kontekstualisasi al-Qur’an itu sendiri. Bukankah kita sepakat bahwa tak semua bentuk &lt;i&gt;amr&lt;/i&gt; (perintah) yang ada dalam al-Qur’an bisa dimaknai sebagai perintah &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Dimuat di majalah Afkar PCINU-Mesir edisi 55 dengan tema Islam Pasca Kolonial&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2364574021823483734?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2364574021823483734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2364574021823483734&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2364574021823483734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2364574021823483734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2010/10/dari-kasus-sayyid-qutb-hingga-aksi.html' title='Dari Kasus Sayyid Qutb Hingga Aksi Membakar Al-Qur’an Sedunia;  Sinyal Keharusan Reinterpretasi Ayat Qitâl (Perang)'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2640369336248242220</id><published>2010-08-28T02:03:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T02:16:14.318-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Purifikasi Agama; Sebuah ‘Laku Mengangkangi Agama’</title><content type='html'>“... Setiap kelompok yang muncul dari masa ke masa, sejatinya adalah reaksi untuk menjawab problematika kekinian”&lt;br /&gt;[Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purifikasi agama sebuah terma menggiurkan, mendendang di telinga setiap muslim ghayyur (punya kepedulian lebih pada agamanya), dan membuat kita mengamini sebagai “misi suci”. Berawal dari asumsi “Islam yang terkontaminasi”, langkah purifikasi menjadi suatu keharusan. Di masa Ahmad Bin Hambal, persetubuhan Islam dan peradaban bangsa-bangsa adidaya masa lampau (Yunani, Persia, dan Romawi) mencapai titik yang mencengangkan. Filsafat sebagai produk Yunani telah demikian akrab dikaji oleh akademisi muslim kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai agama yang inklusif, tak pernah menutup jendela peradabannya dari bangsa lain. Semenjak orasi nabi SAW “ Hikmah serupa harta temuan bagi setiap muslim, di mana dan kapanpun kalian temukan maka rengkuhlah” jendela itu masih [terus] terbuka lebar serta tak seorangpun berhak menutupnya. Al-Qur’an sendiri sebagai kitab suci umat ini, dengan cemerlang berhasil membuka mata bangsa Arab Badui yang kolot menjadi bangsa penakluk dengan misi damai. Kisah-kisah kejayaan umat masa lampau, baris-baris kata yang diarabisasi (musta’rab) dalam al-Qur’an, dll. secara tak langsung telah memancing bangsa Arab masa itu untuk berpetualang mencari tahu kebenaran kisah, maupun dari mana akar “kata asing” yang dimuat al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian akselerasi peradaban yang mengusung modernitas (setidaknya masa itu) ditengarai telah jauh bergeser dari Platform agama Islam awal. Ahmad Bin Hambal, raksasa ilmuwan Islam abad II, merasa terpanggil untuk mengambil sikap tegas guna purifikasi agama dari hal-hal bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Hambal mendapat perlakuan tak semena-mena dari penguasa Abbasiyah yang mendaulat ideologi Muktazilah sebagai ideologi resmi Negara. Konspirasi tokoh-tokoh Muktazilah dan penguasa masa itu mendakwa sekte lain, yang dirasa berseberangan dengan ideologi negara untuk diberangus. Ibnu Hambal bersikukuh bahwa al-Qur’an itu qadim (tak berawal karena kalam Allah), bukan hadist (baru) seperti yang diimani oleh negara masa itu, meski konsekwensinya ia harus dibui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sejarah ‘dengan ringan membalik tangan’ dan Mutawakkil diangkat sebagai khalifah, kini giliran pengikut Sunni yang mendapat angin untuk melestarikan ajarannya. Muktazilahpun mendapat getahnya. Karya-karya spektakuler mereka diberangus habis, hingga mungkin yang tersisa hanya dalam hitungan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik selalu membutuhkan landasan ideologi untuk memantapkan kebijakan kenegaraan. Maka tak heran kalau dari masa ke masa -sepanjang sejarah Islam yang membentang- ideologi menjadi semacam martir bagi kepentingan politik oknum yang haus kekuasaan. Pembenaran ideologis terkadang senyawa dengan kepentingan politik, sehingga tercipta keharmonisan dua unsur yang sejatinya berbeda: penguasa yang gila jabatan dan agamawan yang silau dengan ideologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benarnya bila seorang sejarawan menulis “Sejarah selalu mengulangi dirinya”, meski realita dan konteksnya berbeda. Di masa kini, kita dipaksa menonton parodi kelompok ekstrimis Islam (Wahhabiyah) yang kembali berdalih dengan gerakan purifikasi agama telah ‘bertindak aneh’ terhadap saudaranya sesama muslim. Mereka adalah generasi ‘culun’ Islam yang sok tahu mengenai Islam. Bagi mereka, Islam hanya tampil dalam satu wajah; Islam kita. Sementara yang lain, adalah bid’ah, syirik, bahkan kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini diidentifikasi kuat berafiliasi pada faham-faham konstruktif yang diusung Ibnu Taimiyah. Meski ketika ditelusuri lebih jauh, terkesan mencopot konstruks yang dibangun Ibnu Taimiyah secara parsial, sehingga bisa dibilang “Faham Taimiyah yang tak utuh”. Hal itu wajar saja, mengingat sosok Muhammad Bin Abdul Wahhab, sebagai pendiri Wahhabisme modern, sempat mendapat kontrak politik bersama King Saud, penguasa Nejd (Saudi Arabia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditemukan sumber minyak terbesar dunia di Saudi Arabia. Negara yang awalnya hanya dihuni kabilah-kabilah yang bertebaran di gurun sahara semenanjung Arabia, kini menjelma menjadi salah satu negara terkaya dunia dengan petro dollarnya. Wahhabiyah seperti kejatuhan durian, mereka menjadi semakin bergairah melancarkan praktek-praktek keagamaannya. Bahkan ‘arabisasi Islam’ yang mereka usung mendapat respon yang cukup massif dari kalangan muslim abangan. Dengan dana melimpah dan gerakan terorganisir rapih, Wahhabisme pelan tapi pasti, sanggup bernyanyi merdu di tengah kegamangan umat muslim yang nyinyir menyaksikan dunia yang semakin hedonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jargon “purifikasi Islam” menjadi alternatif paling menggiurkan bagi mereka yang emoh mendalami Islam secara utuh. Konsep ketuhanan (tauhid) diacak-acak, sehingga di tangan Wahhabiyah serupa film kartun yang disukai anak-anak, remaja, dan orang tua. Asal tahu saja, di masa lalu kajian tauhid merupakan kajian yang sangat&lt;br /&gt;bergengsi dan menjadi salah satu ikon kematangan berpikir intelektual muslim. Namun sekarang, tauhid menjadi begitu mudah dan dangkal. Motif tampilnya Wahhabiyah, bagi penulis, merupakan bentuk pendangkalan agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain purifikasi agama yang mereka tawarkan sebagai trademark (merek dagang), ada juga syahwat menghidupkan kembali tradisi berijtihad. Memang hampir semua muslim meyakini bahwa pintu ijtihad masih terbuka, dan setiap intelektual muslim selalu dituntut berkreasi sehingga sanggup menghadirkan Islam yang lebih dialogis dan ramah terhadap lingkungannya. Namun ‘fatwa serampangan’ yang didengungkan Nashiruddin al-Albani, seorang pendiri sempalan dari Wahhabiyah yang juga memiliki banyak pengikut, bahwa bertaklid pada Imam-imam madzhab merupakan tindakan bid’ah yang dilarang oleh agama, telah menimbulkan gejolak di kalangan umat Islam itu sendiri. Setidaknya, pengikut al-Albani akan mengklaim bahwa umat Islam sejak masa Imam Malik, Hanafi, Syafii, dan Hambali hingga kemunculan al-Albani, telah terjerumus dalam perilaku salah dan tak satupun dari jutaan umat Islam itu menyadarinya, absurd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, tradisi ijtihad yang mereka koar-koarkan itu kembali hadir dalam satu peran antagonis; kebenaran hanya ada pada Imam-imam kami, yang lain salah. Terbukti, tak seorangpun dari pengikut Wahhabiyah yang berani mengkritisi [secara terbuka] Imamnya. Ini dilematis, dari satu sisi mereka menuduh pengikut madzhab sebagai pelaku bid’ah karena taklid dan di sisi lain mereka membebek murni pada Imam-imamnya. Ibarat pepatah Arab bilang “Membumi hanguskan seluruh kota untuk membangun sebuah istana.” sebuah sikap irasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ijtihad ala Wahhabiyah juga masih ambigu. Kita lihat, meski motif kemunculan Muhammad Bin Abdul Wahhab dinilai sama dengan renaissance Muhammad Abduh di Mesir: purifikasi agama. Namun pisau analisis yang dipakai oleh kedua tokoh ini berbeda, bila Ibnu Abdul Wahhab selalu mengungkung pemahaman keagamaannya pada teks, maka Abduh lebih mengandalkan nalar logika. Hasilnya, yang pertama kaku, keras, dogmatis, pragmatis, dan statis, yang kedua lebih lentur, toleran, membaur dengan tradisi daerah, dan sanggup bersanding mesra dengan modernitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami teks dibutuhkan analisa jernih sehingga tak terjerembab dalam ‘asumsi kosong’, karena teks tak selugu yang kita lihat. Sejatinya teks selalu berdialog dengan realitas sosio-kultural, sosio-politik, dan psikologi penulisnya. Ia tak sesederhana pembacaan awal kita, ia juga tak sekonyol idiom ‘cinta pada pandangan pertama’. Namun Wahhabiyah dengan misi pendangkalan agamanya, telah mencerabut teks dari konteks. Wahhabiyah kemudian mengiming-imingi pembaca dengan “Inilah agama Islam sebagaimana nabi SAW dan para sahabatnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dalam metode dakwah, Wahhabiyah seperti tak pernah mengenal urgensi kesantunan layaknya legitimasi al-Qur’an. Mereka meloncat, dari yang semestinya berdakwah dengan kalam hikmah, kemudian mauidzah hasanah (nasehat baik), pada tradisi jidal (debat). Tak hanya itu, kata bid’ah, syirik, sampai kafir, demikian renyah meluncur dari mulut-mulut kelompok puritan ini. Padahal Imam Malik jauh-jauh hari sudah mengultimatum “Jika kau mendapati seorang muslim terjerembab dalam jurang kekufuran dari beberapa arah, namun ada kemungkinan dia masih mukmin, meski hanya dari satu sudut pandang. Maka jangan sekali-kali kau menuduhnya [telah] kafir”. Ungkapan ini kemudian dipopulerkan kembali oleh Muhammad Abduh sebagai reaksi atas menggugusnya fenomena takfir (saling mengkafirkan) di tubuh kaum muslimin. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2640369336248242220?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2640369336248242220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2640369336248242220&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2640369336248242220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2640369336248242220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2010/08/purifikasi-agama-sebuah-laku.html' title='Purifikasi Agama; Sebuah ‘Laku Mengangkangi Agama’'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-7497766596214482568</id><published>2010-08-25T09:07:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T09:16:20.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pesona Perpustakaan Islam Klasik</title><content type='html'>“Buku serupa penghibur yang tak akan datang saat kau sibuk. Tak suka basa-basi membuang waktu. Buku adalah kawan yang tak akan menyakitimu, kawan yang tak akan menipumu, kawan yang tak hanya memanfaatkanmu. Buku adalah penasehat tanpa melecehkanmu”. Demikian ungkap salah seorang cendikiawan muslim masa silam, Ahmad bin Ismâil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, penulis tak hendak mengajak pembaca bernostalgia dengan kemegahan peradaban Islam klasik semata. Namun lebih tertarik pada adagium raksasa pemikir Mesir, Abbas Mahmud Al-Akkâd, yang pernah menulis “Perpustakaan adalah simbol kemajuan peradaban sebuah bangsa”, sekaligus berharap bisa menginspirasi pembaca tentang urgensi kepustakaan dalam membentuk peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kita pelajari semasa sekolah dasar, bangsa Sumeria (abad 6 SM) adalah bangsa pertama yang mengenal seni baca-tulis. Demikian pula seni mengumpulkan data, informasi, dan dokumen penting lainnya. Setidaknya penemuan arkeologi dari kota-kota kuno bangsa ini telah menegaskan bahwa bangsa Sumeria kerap mengabadikan catatan perundangan, teologi, sejarah, dan legenda pada lempengan batu liat, yang tersimpan rapi di salah satu kuil di Mesopotemia. Bahkan di perpustakaan Ashurbanipal saja terpendam lebih dari 30.000 tablet tanah liat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Yunani kuno, kita dikenalkan pada beberapa pustakawan: diantaranya ada Polycrates, sang Raja tiran yang menjajah Athena. Selain Raja dia juga kolektor buku. Euripedes, sang penyair yang gila buku. Dan tentunya Aristoteles sendiri, sang Failasuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barat, perpustakaan pertama didirikan oleh Julius Cesar, kaisar Romawi, yang mengaku banyak terinspirasi oleh apa yang dia saksikan di Yunani dan Alexandria. Ia kemudian berinisiatif mendirikan beberapa pusat bacaan (perpustakaan), yang membentang di seantero negeri Romawi: mulai dari perpustakaan Porticus Octaviae -dekat teater Marcellus-, kuil Apollo Platinus, hingga Capitoline Hill. Konon, sikap Cesar ini adalah bentuk permintaan maafnya pada ratu Alexandria masa itu, Celeopatra: karena telah ceroboh membakar lebih dari 400.000 koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan Alexandria, saat negeri itu ditaklukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Cina, sebagai salah satu bangsa tertua juga tak mau ketinggalan. Pada masa kekaisararan Qin (abad 3 SM), perpustakaan menjadi saksi kemegahan peradaban yang mereka bangun. Meski sistem klasifikasi buku, baru dipraktekkan oleh dinasti Han (abad 2 SM) yang datang setelahnya. Pada saat itu, katalog perpustakaan ditulis pada gulungan sutera yang disimpan dalam kantong terbuat dari kain sutera pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Islam, kegemaran mengoleksi buku tak hanya menjangkiti kalangan borjuis dan penguasa, tapi juga rakyat jelata. Barangkali risalah Islam yang bermula dengan turunnya surat Iqra’ telah mengilhami khalifah dan rakyatnya untuk bersama menggemakan budaya baca. Sehingga mereka seperti ‘keranjingan’ untuk mengoleksi buku-buku, yang dianggapnya unik dan berkualitas tinggi. Bahkan ketika tentara Romawi berhasil diusir dari kawasan Kostantinopel dan sekitarnya, yang pertama kali dijadikan syarat pelepasan tawanan oleh khalifah masa itu adalah dengan barter buku-buku Yunani, yang selama ini hanya menghiasi ruang pribadi para raja atau tersimpan di rak-rak buku gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Islam klasik bisa diklasifikasi dalam dua macam: pertama milik pribadi atau perorangan, kedua milik negara yang lazimnya didirikan bersebelahan dengan lembaga lainnya, semisal mesjid atau sekolah. Meski disebut milik pribadi tapi perpustakaan Islam masa itu bisa diakses layaknya fasilitas umum. Pustaka pribadi milik Ali bin Yahya bin Al-Munajjim yang berlokasi di perkampungan Karkur kawasan Baghdad misalnya, berhasil menjadi favorit pecinta ilmu yang datang dari seluruh penjuru negeri. Fenomena ini tak lepas dari pelayanan istimewa yang memanjakan pengunjung; selain dibebaskan membaca, menyunting, menyalin, pengunjung juga mendapat beasiswa dan fasilitas penginapan sehingga tak disibukkan dengan pekerjaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perpustakaan umum, khalifah atau penguasa akan menunjuk seseorang untuk menjadi direktur perpustakaan (khâzin al-Maktabah), yang mengkoordinir kepala bagian tertentu. Sebab perpustakaan masa itu sudah cukup sistematis: di sana ada bagian percetakaan (dengan cara menyalin teks karena memang belum ada alat cetak), penjilidan untuk menjaga keutuhan buku, dan bahkan cleaning service sendiri. Setiap perpustakaan, baik besar maupun kecil, telah menyiapkan katalog lengkap yang memudahkan pengunjung untuk mengakses buku yang sedang diperlukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang paling mengesankan dari pelayanan pustaka era itu adalah fasilitas beasiswa yang sangat memanjakan pengunjung. Di masa kini, hampir tak dapat kita temui perpustakaan dengan fasilitas semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan Bait al-Hikmah Baghdad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini penulis hanya akan memotret perpustakaan terbesar yang melahirkan cendikiawan Muslim masa keemasan. Mungkin yang paling layak disebut pertama kali adalah Bait al-Hikmah di Baghdad, ibu kota daulah Abbasia. Ketika khalifah Al-Mansûr (170 H) berkuasa, manuskrip-manuskrip yang dikoleksinya sempat membuat sesak istana khalifah. Sampai kemudian keponakannya, Harun Al-Rasyid, naik tahta. Al-Rasyid-lah yang kemudian berinisiatif untuk mengeluarkan buku dan manuskrip dari dalam istana dan membangun perpustakaan yang bisa dinikmati oleh khalayak umum. Ia kemudian diberi nama Bait Al-Himah. Inilah perpustakaan pertama dan terbesar dalam sejarah bangsa Arab-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bait al-Hikmah, ada semacam stand khusus terjemah manuskrip kuno dari Yunani, Romawi, dan Persia. Megaproyek ini dikomandani oleh Yuhana bin Masawiyah, yang diprioritaskan untuk menterjemah teks-teks Suryani ke dalam bahasa Arab. Adapun teks-teks Persia yang mengupas tentang ilmu filsafat dan astronomi diterjemah oleh Abu Sahl al-Fadl bin Nubikht, sebagai penerus proyek Ibnu al-Muqaffa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat al-Rasyid tutup umur, Al-Makmun putera beliau yang melanjutkan roda pemerintahannya, tak mau kalah untuk berkonstribusi mengembangkan Bait Al-Hikmah. Ia mengirim beberapa pakar ke Asia Tengah, India, Ethiopia, dan kawasan Kaukasus untuk mendapat tambahan koleksi perpustakaan negara. Konon, untuk terjemah dari Yunani ke Arab saja, pemerintah menghabiskan dana sekitar 300 ribu dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Al-Azîz Billah Kairo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Fatimiyah yang berdiri di Kairo bisa dibilang sebagai sebuah negara otonomi Abbasiyah. Bahkan dianggap akan menggoyah eksistensi Abbasiyah di Baghdad. Tak hanya persaingan politik dan madzhab yang menghiasi perjalan dua dinasti Islam tersebut, tapi juga budaya dan pemikirannya. Meski secara historis, dinasti Fatimiyah relatif lebih muda 1 ½ abad dari Abbasiyah yang berdiri pada abad kedua, tapi kebijakan Fatimiyah tak kalah bersaing dari induknya.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan ini didirikan oleh khalifah Al-Aziz Billah (365 H) setelah naik tahta menggantikan ayahandanya, Al-Mu’iz Lidinillah. Awalnya perpustakaan ini hanya berawal dari hobi baca sang khalifah, yang tak segan membelanjakan hartanya demi sebuah buku yang sedang diburu. Konon setiap kali khalifah Al-Aziz menemukan sebuah buku yang ‘menyihir’nya, dia akan segera menyuruh nussakh untuk menggandakan. Bahkan kitab al-Ainnya Al-Khalil Bin Ahmad saja digandakan sampai 30 eksemplar. Perpustakaan ini terus berkembang hingga koleksi buku yang ada mencapai jutaan. Menurut Dr. Musthafa al-Siba’i jumlah berkisar antara 1-2 juta kolesksi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dikira koleksi buku yang ada saat itu hanya sebagai ekspresi bangga diri dan persaingan politik semata layaknya masa dinasti Ustmaniyah, tapi khalifah Al-Aziz Billah benar-benar seorang penguasa yang memiliki perhatian khusus pada buku. Ibnu Khalkan bercerita bahwa sang khalifah kerap keluar masuk perpustakaan, mengawasi sendiri koleksi buku-bukunya, dan bahkan berjam-jam membaca dan mendiskusikannya pada para penasehat dan ilmuwan yang sengaja diundangnya ke Kairo.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan Al-Zahra’ di Cordoba Spanyol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dinasti Abbasiyah berhasil menggulingkan Umawiyah (132 H), di saat yang sama beberapa penguasa Umawiyah yang melarikan diri berhasil membuka dunia baru, Maroko-Spanyol. Diantara pemimpin Umawiyah yang paling fenomenal adalah Abdurrahman Al-Dâkhil. Semenjak Andalusia ditaklukkannya, para penguasa Umawiyah seperti ‘mendapat angin’ untuk mempertahankan eksistensinya, di Andalusia inilah mereka membangun peradaban baru.&lt;br /&gt;Masa keemasan Andalusia dapat disaksikan ketika khalifah VIII, Abdurrahman Al-Nâshir, naik tahta. Andalusia menjadi kiblat ilmu, seni, dan sastra dunia. Al-Nâshir menjadi sosok di balik kejayaan Andalusia, ia berhasil mendidik putera mahkotanya menjadi pribadi yang cinta ilmu. Al-Mustanshir, gelar itulah yang disematkan pada putera mahkota. Di masa kepemimpinan Al-Mustanshir, perpustakaan ini didirikan. Para pakar kepustakaanpun dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri untuk mewujudakan pelayanan terbaik buat rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita menarik ketika Al-Mustanshir mendengar bahwa di Baghdad ada sebuah buku baru – tepatnya Al-Aghâni karya Al-Ashbihâni-, dengan serta merta ia mengirim 1000 dinar emas demi mendapat salinan nuskhah kitab Al-Aghâni tersebut. Saat itu pula buku tersebut bisa dinikmati di Andalusia sebelum warga Baghdad bisa menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang membedakan tradisi perpustakaan di Timur (meliputi Baghdad, Kairo, dan sekitarnya) dan Barat (Spanyol, Maroko). Pertama jika di Baghdad menterjemahkan literatur kuno ke dalam bahasa Arab, maka di Còrdoba menterjemahkan teks-teks buku berbahasa Arab ke bahasa Latin. Kedua para ilmuwan muslim di Baghdad sibuk menyelami literatur-literatur klasik untuk memperkaya khazanah Islam, sementara di Còrdoba ‘melompat jauh’ untuk memperkenalkan literatur Arab-Islam pada bangsa Eropa, yang waktu itu masih mempelajari spirit modernitas ala Islam Còrdoba. Ketiga di Baghdad peran perempuan dalam dunia pustaka terpinggirkan, namun di Còrdoba cenderung lebih perduli jender: tercatat lebih dari 170 wanita bertugas sebagai penulis dan penterjemah di perpustakaan Al-Zahrâ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab adalah: ke mana khazanah kekayaan Islam masa lalu itu? Setidaknya kita bisa mengungkap dua faktor untuk menjawabnya: Pertama faktor internal, di mana kaum muslimin masa itu sudah tak berdaya dan termakan oleh politik yang memecah belah. Sehingga syahwat kekuasaan lebih mendominasi, pendidikanpun terbengkalai: akibatnya koleksi buku di perpustakaan banyak tak terawat atau bahkan dijual murah dan covernya dibuat pelapis sendal. Kedua faktor eksternal, meliputi 1. Agresi Tar-tar yang membumi hanguskan Baghdad. Koleksi buku Bait Al-Hikmah banyak dibuang ke sungai Furat dan Tigris 2. Gelombang perang Salib yang berakhir dengan runtuhnya dinasti Umawiyah di Andalusia. Koleksi buku umat Islampun dihabisi, sehingga yang tersisa saat ini hanya beberapa koleksi di perpustakaan Escorial Madrid 3. Konflik antar madzhab; selain korban nyawa, karya-karya yang ditulis menurut ideologi masing-masing madzhab juga menjadi sasaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-7497766596214482568?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/7497766596214482568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=7497766596214482568&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/7497766596214482568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/7497766596214482568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2010/08/pesona-perpustakaan-islam-klasik_25.html' title='Pesona Perpustakaan Islam Klasik'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-4018063248538026722</id><published>2010-01-27T22:59:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T23:16:20.483-08:00</updated><title type='text'>Tarian Gaudy Old Style untuk Gus Dur</title><content type='html'>Waktu itu saya menghadiri sebuah diskusi reguler SAS Center yang digelar sebulan dua kali. Salah seorang presentator menulis sebuah artikel tentang tasawauf (saya sudah lupa judulnya) dengan menggunakan font Gaudy Old Style. Saya sendiri takjub dengan tampilan elegan dan apik font ini. Sesampai di flat, saya langsung membuka laptop dan mencari: kira-kira font apa yang dipakai kawan saya itu? Ternyata Gaudy Old Style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai detik ini, saya masih merasa nyaman menggunakan font ini, meski terlihat irit dalam spasi sehingga tulisan yang seharusnya sudah penuh satu halaman jika memakai Gaudy Old Style akan tampak setengah halaman. Tapi bagi saya, setidaknya tak membuat bosan dan melelahkan ketika membaca. Bahkan beberapa artikel Gus Dur yang saya koleksi dalam format Notepad, ketika ingin kembali membaca saya segera mengcopynya terlebih dahulu di Microsoft Word dengan pilihan font Gaudy Old Style. Tentunya setiap orang mempunyai pilihan masing-masing, seperti Brad Pitt yang merasa nyaman dengan pasangannya, Angelina Jolie.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semenjak wafatnya Bapak Demokrasi dan Pluralisme Indonesia (meminjam istilah SBY), saya semakin dibuat penasaran dengan sosok nyentrik ini. Gus Dur yang semasa hidup sering melawan arus dan tradisi dengan ide-ide ‘gila’ tentunya, telah menyita perhatian media, baik lokal maupun internasional, hampir sebulan penuh. Bahkan hampir semua tokoh internasional turut berduka dan merasa kehilangan dengan wafatnya mantan Presiden RI ke 4 tersebut, beliau seperti keluar dari kodratnya sebagai cucu seorang ulama besar Nusantara, menjadi tokoh yang disegani sekaligus disukai semua golongan tanpa melihat setatus agama, bahasa, dan ras tertentu. Gus Dur adalah tokoh multidimensi yang mendunia dan terbukti sanggup menerobos sekat-sekat dunia Pesantren yang membesarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya Gus Dur, bagi saya memberi kenangan tersendiri yang cukup menggelitik. Pasalnya, saya yang sore itu berkunjung ke rumah seorang karib yang kebetulan seorang aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), sambil tertawa dia menyodori saya sebuah sms “Alhamdulillah khilafah akan segera berjaya di Indonesia, karena satu dari pejuang demokrasi sudah mati (Gus Dur) sore ini.” kira-kira demikian bunyi sms itu. Dua hari setelahnya, PCINU Mesir segera memaklumatkan pada warganya untuk melaksanakan shalat ghaib bersama di Griya Jawa Tengah. Saya kembali terkaget, katika salah seorang pentolan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kifayah&lt;/span&gt; (salah satu anak organisasi yang bernaung di bawah Persis) menyapa di tengah perjalanan, dan di sela obrolan basa-basi kami dia sempat menyinggung wafatnya Gus Dur, tentunya dengan senyum simpul terselip di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sampai meninggalpun seorang Gus Dur masih menyisakan sejuta kisah untuk dikenang, termasuk bagi saya; pengagumnya. Bagi saya wafatnya tokoh ini adalah petaka, mungkin bagi yang lain bisa jadi dianggap sebagai “berkah”, termasuk beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan menancapkan ideologi anti demokrasi seperti yang saya sebut tadi. Gus Dur memang bukan manusia sempurna tanpa cacat dan cela, tapi setidaknya beliau sudah mengajarkan kita banyak hal (silahkan baca kembali artikel-artikel yang pernah ditulis oleh Gus Dur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang bebas berpendapat mengenai figur eksentrik Gus Dur. Apabila ada nilai-nilai positif yang diperjuangkannya sudah selayaknya kita lestarikan, sebaliknya kalau ada yang dirasa tak sesuai dengan cita-cita luhur keutuhan berbangsa dan bernegara harus segera kita campakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bangga dengan keislaman kita, namun bukan berarti semua harus diislamisasi. Kebebasan beragama yang dijamin dalam undang-undang dasar NKRI sudah cukup. Bagi seorang muslim sejati, agama terlalu sakral untuk diformalisasi. Ketika rukun Iman dan Islam yang diyakini bisa ia jalankan dengan hati ikhlas, damai, dan dibumbuhi toleransi maka negara itu sudah cukup untuk kita sebut “negara Islam”. Kalaupun dalam Islam dikenal konsep jihad, maka kita harus cermat memahaminya. Karena makna Jihad sesungguhnya adalah merengkuh kebebasan beragama kita, bukan memaksakan agama kita agar dipeluk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goresan tinta emas sejarah adalah saksi: bahwa Nabi dan sahabat tak mengangkat bendera Jihad kecuali untuk tujuan merebut kembali kebebasan melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai muslim yang taat. Di saat hak-hak itu telah kembali, maka Islam segera menjadi simbol agama paling toleran di dunia. Sebagai bukti, banyak situs dan peninggalan kaum pagan yang bisa kita saksikan di bumi-bumi taklukan Islam, bukan dengan berulah melempar granat dan bom bunuh diri ingin menghancurkan simbol dan jargon keagamaan atau bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu hanya satu dari sekian pesan yang saya tangkap dari sosok Gus Dur. Pluralisme yang diperjuangkannya mengakar kuat pada kecintaannya terhadap negeri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“gemah ripah loh jinawi”&lt;/span&gt; ini. Beliau tak ingin bangsa yang telah berhasil merebut kemerdekaannya dengan cucuran keringat dan darah pejuang yang mati syahid, akhirnya akan ambruk dalam keranda-keranda kelompok dan aliran yang saling tikam. Kemajemukan dengan masyarakat yang heterogen di negeri ini harus dijaga, jangan sampai ada “tangan-tangan jahil” menggilasnya, meski dengan alasan apapun (termasuk formalisasi syariat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanggihan tekhnologi dan pesatnya informasi sudah selayaknya dijadikan pelajaran bahwa kita tak lagi hidup di ‘jaman Onta atau Kuda’. Merupakan sebuah ironi atau bahkan ilusi ketika kita mengimpikan sebuah komunitas Islam yang terlepas dari kemajemukan bangsa-bangsa di dunia, semisal dalih mendirikan Khilafah yang ekslusif. Kita hidup dalam era kebebasan dan keterbukaan, semuanya bisa diwujudkan tanpa harus memperjual belikan agama yang suci. Bahkan jika ada seorang muslim merasa ditindas dan diperkosa hak-haknya, ia bisa berteriak sekencangnya dan dalam hitungan detik dunia akan segera memberitakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini terlalu muda untuk kehilangan sosok Gus Dur, semoga di masa mendatang akan lahir ribuan atau bahkan jutaan Gus Dur yang turut mamperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga arwah Gus Dur mendapat siraman rahmatNya dan diampuni segala dosa yang diperbuat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis&lt;br /&gt;28 Januari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-4018063248538026722?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/4018063248538026722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=4018063248538026722&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/4018063248538026722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/4018063248538026722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2010/01/tarian-gaudy-old-style-untuk-gus-dur.html' title='Tarian Gaudy Old Style untuk Gus Dur'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-5793659349603982473</id><published>2010-01-02T06:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T06:29:14.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Catatan Awal Tahun 2010</title><content type='html'>“Aku tak mau menjadi pecundang.” Demikian kata itu terus menghantui hari-hariku. Gambar demi gambar keluarga sering menyapa di sela lamunanku: ada Ibu, adik-adik, sepupu, dan kawan-kawan kecilku, bukan sebagai penghibur, tapi penunggu bak hantu di sebuah rumah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hariku di Kairo penuh ketidak pastian, ketidak disiplinan, ketidak berdayaan, selain ketololanku yang semakin membatu. Yah… aku merasa bahwa nikmat yang Allah berikan tak ada yang kurang; dari mulai kesehatan fisik hingga kecerdasan otak (meski tak seencer Einsten). Namun aku seperti hewan yang tak tau bagaimana mensyukuri nikmat, goblok.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau alasan kesempatan sering membuat beberapa orang menyerah, maka kesempatan itu selalu tersenyum. Namun entah bagaimana, aku selalu akan menyiakannya. Bahkan dalam 24 jam sehari, setidaknya aku menghabiskan 8 jam tidur, 8 jam ngenet, dan 8 jam lainnya entah ke mana. Buku-buku yang aku beli dari Darul Ma’arif tempo itu belum satupun aku sentuh. Kepalaku senut-senut katika tangan mulai menjamah buku-buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;memelototi &lt;/span&gt;laptop Fujitsu Siemens-ku, tak ada lagi yang bisa kukerjakan. Buku diktat kuliah yang telah habis kulahap seminggu yang lalu, tak pernah lagi kusentuh. Seperti umumnya kawan mahasiswa, yang lebih suka menggunakan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) menjelang ujian, akupun demikian. Padahal nilai akademik yang bagus tak bisa diraih melalui sistem borok seperti itu. Tapi sebenarnya ada alasan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; laten&lt;/span&gt; lainnya: aku masuk dalam daftar orang yang tak bisa membaca sebuah buku untuk kedua kalinya kecuali buku tersebut benar-benar menyihirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai detik ini aku sadar bahwa masih banyak yang bisa aku lakukan selain memaki diri, menyesali diri, dan merasa kehilangan diri. Sungguh aneh! mirip dengan bangsa Arab yang dipecundangi Israel di depan mata, bukan karena jumlah mereka sedikit atau persenjataan perang mereka kurang canggih (karena baru-baru ini Kerajaan Saudi telah membeli pesawat perang termutakhir dari Uwak Sam) tapi lebih pada mental kerdil. Mental untuk berubah seakan hanya ada dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses, yang menjadi bagian terpenting sejarah perubahan manusia tak pernah menyadarkanku dari mimpi perubahan itu sendiri. Telah banyak kubaca, telah banyak kusaksikan, dan telah banyak kudengar, meski tak satupun kupraktekkan. Nilai-nilai kehidupan, bagiku seakan tak ada nilainya. Semu, untuk kemudian melilitku dalam lembah penyesalan. Bahkan malam yang kerap menghiburku dengan puji-pujian sunyinya, saat ini hanya mau datang dalam wujud yang benar-benar asing sehingga aku semakin terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubenturkan kepalaku pada dinding ketidak berdayaan berharap dinding itu pecah atau kepalaku yang terbelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Januari 2010 (jariku terasa kaku untuk menulis angka “2010”). Apakah setiap perbahan itu selalu membuat kita kaku dan kurang nyaman? barangkali ia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-5793659349603982473?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/5793659349603982473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=5793659349603982473&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/5793659349603982473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/5793659349603982473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2010/01/catatan-awal-tahun-2010-aku-tak-mau.html' title='Catatan Awal Tahun 2010'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-7059753081887633569</id><published>2009-12-21T21:17:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T21:22:11.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Penat</title><content type='html'>Kontemplasi jadul, hanya ingin posting!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktu melelahkan, tiada ungkapan yang paling mendamaikan selain “Rehatlah barang sejenak, supaya pikiran menjadi fresh kembali”. Kepenatan yang menghimpit kita sehari-hari adalah karunia tak terhingga, tanpa penat kita tak akan bisa merasakan nikmatnya rehat.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carilah penat maka imbalanmu adalah rehat, jangan pernah menganggap penat sebagai momok sebab di sanalah entitasmu dihargai, dan saat itulah kamu telah menjadi orang yang berharga. Meloloskan diri dari penat adalah favorit tiap orang, padahal secara tidak sadar telah menjerumuskan diri dalam keranda ketidakberdayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada ceritanya, kesuksesan bisa diraih dengan santai, enjoy, dan tanpa penat. Penat adalah setengah dari kesuksesan itu sendiri, bagaimanapun hasil yang anda raih. Ingat usaha anda tak ada yang sia-sia meski gagal (versi orang umum) kerap mendera, asal niat tulus ikhlas menyertai tiap langkah anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT tak pernah ‘iseng’ menanyakan apa pencapaian yang anda raih, namun usaha apa yang anda tempuh, bagaimana cara dan kemana anda optimalkan pencapaianmu? Demikian pertanyaan-pertanyaan itu (pasti) menyapamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari ulasan singkat di atas, bukan berarti anda tidak berhak untuk bersantai atau berehat. Kita bukanlah robot tak pusar, kita sadar bahwa kita mempunyai batasan dan kelemahan. Kita adalah makhluk Tuhan dengan jiwa dan raga yang keduanya mempunyai hak yang sama. Tak adil, bila memberi porsi keduanya dengan tidak seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya para Malaikat yang diciptakan Allah tanpa rasa lelah, manusia tidak. Manusia diperbolehkan menikmati apa saja sebatas tidak menyalahi aturan-aturan Tuhan, dia boleh makan sepuasnya asal tidak sampai ishraf (berlebihan yang dilarang agama), dia boleh memiliki rumah megah, mobil mewah selama dia mampu mensyukurinya, dia juga diperbolehkan menikah dan mempunyai anak. Semua itu adalah fasilitas Tuhan yang tidak diberikan kepada siapapun, kecuali kapada makhlukNya yang bernama “manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski disebut fasilitas, namun tak jarang ia membuat manusia lalai akan tugasnya sebagai “Khalifah Allah”. Saat itulah manusia melupakan orientasi asalnya untuk menghamba hanya pada Allah. Menusia kemudian berpaling karena tersilaukan oleh fasilitas-fasilitas tadi, sehingga tanpa disadari dia telah memilih fasilitas-fasilitas itu sebagai Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuhankan fasilitas-fasilitas ini tidak harus menyembah dan bersujud di hadapan benda-benda tersebut dengan membakar kemenyan. Mencintai dalam hati lebih dari segalanya atau memposisikannya di atas Keagungan Allah sudah cukup untuk menyebutnya sebagai sekutu bagi Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui sebatas mana kecintaan kita pada Allah dan kecintaan kita pada fasilitas yang Allah anugerahkan, kita bisa mengukurnya di saat kita tertimpa musibah kehilangan barang titipan Allah tersebut. Bila kehilangan ini membuat anda setres dan seakan dunia sudah berakhir apalagi bunuh diri, maka saat itulah anda bisa menilai cinta anda pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima dengan ketentuan Allah adalah cermin mukmin sejati. “Menerima” di sini bukan berarti lepas tangan ketika ada musibah dan hanya tawakal pada takdir, hal ini salah. Ketika anda kehilangan sesuatu yang anda miliki, anda wajib melapor pada pihak yang berwajib. Kalau tidak, buat apa anda membayar pajak pada negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semua ada aturannya. Menerima semua apa yang ditakdirkan Allah (simpanlah sikap ini dalam hati sebagai bukti keimanan terhadap Kekuasaan absolut Tuhan), sementara usaha untuk mencari solusi dari problem yang sedang dihadapi tetap dan harus anda jalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naif, bila anda menyatakan beriman namun tanpa amal. Sifat menerima adalah iman anda dan melapor pada yang berwajib adalah amal anda. Ini hanya contoh sederhana yang bisa anda kembangkan sendiri. Nabi sendiri secara tegas berucap “I’qil fa tawakkal”  tambatkan tungganganmu kemudian tawakallah pada Tuhanmu. Ringkasnya, berusaha dulu selebihnya anda perbanyak berdoa dan berserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepenatan yang kerap menyelimuti hari-hari kita; seperti pekerjaan yang tak jua usai, nasib yang tak jua berubah, dan keinginan-keinginan yang mengendap tanpa ada wujud nyata telah memeras energi dan pikiran kita. Semestinya kita bisa membuat skema yang jelas untuk mewujudkan impian-impian tadi, mulailah dari yang termudah atau teremeh atau terkecil. Molekul-molekul kecil ini bila anda rajin mengumpulkannya, di masa mendatang akan membuat semua mata terbelalak, percayalah!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-7059753081887633569?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/7059753081887633569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=7059753081887633569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/7059753081887633569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/7059753081887633569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/12/penat.html' title='Penat'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2901748242784281573</id><published>2009-09-20T17:21:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T07:04:40.843-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Sekuel 'Nyonya Tua' Blog Vs 'Isteri Muda' Fesbuk</title><content type='html'>Di tengah malam nan sepi, di ujung ruas hari lebaran. Hasratku untuk menulis di blog 'angker' ini berdebur, ada kerinduan dahsyat setelah sekian lama tenggelam dalam pelukan 'isteri baruku' fesbuk. Iseng-iseng kucoba mengunjungi blog-blog kawan Masisir (mahasiswa Mesir), ternyata sama: angker tanpa penghuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa ini? mengapa rumah-rumah mewah itu sekarang terlihat lengang dan berdebu. Jangankan pengunjung yang datang, si empunya saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;emoh &lt;/span&gt;untuk sekedar menyapu dan membersihkan rumahnya. Ah, blog-blog itu seperti kota mati. Kabar teraktual yang aku terima, adalah akibat kekejaman isteri-isteri baru, fesbuk.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fesbuk adalah cewek manis, manja, dan centil. Hanya MUI yang pernah memfatwa HARRAM (baca dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tasydid&lt;/span&gt;), mungkin karena kesulitan menjalankan aplikasikannya. Meski terbilang isteri muda, namun pengalamannya dalam merayu, bergenit-genitan, bahkan bercinta, ia tak kalah dengan Cleopatra sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya tukang ojek, presiden pun kesemsem sama 'anak gadis' Mark Zuckerberg ini. Ia berhasil menyihir hampir 300 juta pengguna di seluruh dunia; melebihi jumlah penduduk Indonesia. Omsetnya pun terus melonjak naik, Zuckerberg cuma bilang "“Awal tahun ini, kami berharap cash flow positif tercapai di sekitar tahun 2010, dan saya sangat puas dengan pendapatan yang kami peroleh di kuartal terakhir ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan istimewa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ala&lt;/span&gt; fesbuk benar-benar memanjakan penggunanya. Selain mempererat tali silaturrahi antar keluarga, ia juga memudahkan anak-anak muda mencari pasangan (perhatikan: bila fesbuker sudah jarang posting di wall, ada indikasi bahwa dia telah mendapatkan pasangan yang cocok dan memilih aktif di message yang lebih privat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena kehebatan sihirnya, 'makhluk abu-abu' ini tak jarang membuat penggunanya lena, lupa waktu, lupa tugas, lupa janji, lupa makan, lupa matikan kompor, dan lupa-lupa lainnya. Di beberapa belahan dunia, fesbuk telah terbukti menjadi arsitek di balik meningkatnya kriminalitas, dari sekedar saling olok di forum sampai menghantarkan beberapa penggunanya ke liang lahat (lihat kasus Hayley Jones). Mungkin yang terbaru adalah kasus pemukulan seorang isteri oleh suaminya di Bekasi, akibat cemburu melihat perubahan setatus fesbuk isterinya dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;married&lt;/span&gt; ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;single&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fesbuk menjadi salah satu fenomena abad ini, ia mencatat sejarah spektakuler dan berhasil menyatukan kemajemukan penduduk bumi. Fesbuk adalah 'agama' baru, yang sanggup meleburkan semua entitas manusia, tanpa sekat-sekat ras, bangsa, dan negara. Ia adalah pisau bermata dua layaknya media lain, tergantung siapa dan bagaimana memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara blog, tetap sebagai si Nyonya tua penunggu rumah tua nan wibawa. Hanya mereka yang tak tau balas budi, yang sudi melupakan isteri tua. Bukankah Raditya Dika menjadi penulis terkenal gara-gara catatan konyolnya di blog? bukankah Bang Arif sukses menerbitkan  novel-novelnya (Eniwei Its Cairo Uncensored- Fatimeh Goes to Cairo) di Indonesia karena blog? Jadi, 'mukjizat' blog belum sepenuhnya kalah dengan 'sihir' fesbuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar catatan untuk mengusir sunyi, semoga berkenan. 'Met lebaran &amp;amp; mohon maaf lahir-bathin buat semua rekan/rekanita Masisir. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kullu 'am wa antum bi khair&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2901748242784281573?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2901748242784281573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2901748242784281573&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2901748242784281573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2901748242784281573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/09/sekuel-nyonya-tua-blog-vs-isteri-muda.html' title='Sekuel &apos;Nyonya Tua&apos; Blog Vs &apos;Isteri Muda&apos; Fesbuk'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6805948417043434086</id><published>2009-08-21T04:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-22T09:01:21.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Aku Bukan Lelakimu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:100%;"&gt;Selepas natijah (nilai) ujian keluar, aku bergegas menuju pusat telepon murah yang berada di beberapa titik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hayy&lt;/span&gt; 10 Madinat Nasr, Kairo, untuk menghubungi keluarga. Dalam hidup kita kerap dibuat tersenyum dengan kabar-kabar baik, namun tak jarang hidup menjadi kejam dengan menghunjamkan kabar buruknya. Semua ada hikmah, yang baik menuntut kita agar bisa bersyukur dan labih baik, sementara yang buruk mengajarkan kita bersabar dan cerdas dalam mencari solusi bagi problem yang sedang dihadapi.&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"  style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Jayyid (predikat nilai baik), mungkin itulah yang membuat hatiku berbunga bak musim semi. Aku yang siang itu berpeluh dan kepanasan karena memaksa untuk menerobos kerumunan manusia berjubel di sepanjang jalanan kota Kairo merasa kekesalanku terbayar. Mogok kerja, demikian berita yang hangat hari itu, lebih dari 1200 sopir dan kondektur bus berdemo di depan kementrian transportasi Mesir, para awak bus segala jurusan itu menuntut kenaikan gaji, yang kabarnya hanya 4% dari penghasilannya sehari, sementara di Alexandria mencapai 12% sehari (koran Almashri Al-Youm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang mendengar kabar itu otomatis juga turut bahagia terutama Ibu, lantas Ibu mencecarku dengan pertanyaan klasik; bagaimana dengan beasiswa? Yah…sudah sedewasa ini aku memang masih sebagai pecundang, tak bisa lepas dari beban orang tua, sungguh prestasi yang menyedihkan. Mendengar kata-kata itu, imajinasiku menerawang jauh membayangkan adik-adikku yang sudah mulai menempuh jenjang pendidikan di Pesantren. Pasti biaya yang dikeluarkan ortu setiap bulannya tidak sedikit, bisikku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa obrolanku dengan Ibu deras menerobos dimensi ruang dan waktu, hingga sampai pada titik terserius mengenai “tunangan”. Ada selaksa sejuk menelusuk pori-pori, berjibaku dan mengaduk-aduk seisi perasaanku. Aku memang telah cukup umur, kalau hanya sekedar bertunangan, siapa takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyi’ yang saat ini dituakan dalam keluarga besar kami adalah tokoh sentral di kawasan desa Pakong dan sekitarnya. Beliau perempuan tangguh yang mendidik santri (aku tidak tau pasti jumlahnya) bak anak kandungnya sendiri, telah membisiki Ibu perihal setatusku, yang kebetulan masih sebagai cucu jauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyi’ Pakong, demikian kami biasa memanggilnya, berinisiatif menjodohkan aku dengan salah seorang cucunya atau mungkin cicitnya. Perempuan paruh baya ini berapologi hendak membaiatku sebagai ganti dari Kiai Rahbini, suami beliau sekaligus kakek kami, yang meninggal di Mekah hampir setengah abad silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keseriusan ini Ibu tak bisa menghindar, beliau sebagai orang yang sangat mengerti aku menjawab “InsyaAllah, tapi Mun’im masih belum selesai studinya”. Usut punya usut ternyata Abah Muhajir (Ayah tiri yang paling berjasa dalam hidupku) telah menyepakati pertalian ini meski belum berani mengambil langkah lebih jauh. Ibarat pedagang, masih dalam taraf tawar menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri sebagai manusia normal ikut senang, siapa yang tak mau menjadi menantu dari orang paling berpengaruh dan terpandang. Setidaknya ketika aku pulang aku bisa langsung turun berkiprah di tengah masyarakat. Namun di sisi lain aku seperti merasakan adanya trauma sejarah. Contoh paling kongkrit adalah Ibu, akibat dari perjodohan sebelah pihak yang dilakukan orang tua masa lalu, beliau terlibat perceraian beruntun. Tak hanya Ibu, kakak perempuannya Obhe’ juga pernah menjadi korban dari tradisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, mungkin petuah ini pas untuk melukiskan suasana hatiku. Perjodohan tidak selamanya memberi efek negative, apalagi didasari tujuan luhur, menyambung tali silaturrahim. Namun prakteknya yang cenderung sebelah pihak, membuat si gadis nampak sebagai barang dagangan yang seenaknya diperjual belikan. Para orang tua masa lalu jarang sekali bersikap arif ketika memilihkan jodoh buat anak gadisnya, mereka terkesan menjustifikasi bahwa apa yang baik buat mereka pasti baik buat anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi seperti ini harus direkonstruksi, masyarakat Madura yang agamis biasanya selalu menggantungkan tindakannya pada klaim-klaim agama, bila perjodohan itu dilasanakan dengan dalih mengikuti madzhab Syafii maka kita harus tau bahwa di sana masih terdapat madzhab Hanafi yang cenderung lebih lunak menyikapi perjodohan. Perjodohan dalam madzhab Syafii dinilai kurang humanis karena seorang gadis (bukan janda) tidak mempunyai hak atas pilihannya, sementara madzhab Hanafi tegas mengatakan bahwa memilih juga hak para gadis karena merekalah yang akan menjalankan pernikahan bukan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai antisipasi awal aku hanya bisa menjawab dengan nada bercanda “Emang di sana ada yang cantik?” Ibu berucap “Cantik semua kok”. Bagaimanapun aku tak akan mengulangi kesalahan sejarah, pernikahan itu sakral dan tak bisa diputuskan secara tergesa-gesa apalagi ada kesan diskriminasi pada perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan tipe laki-laki yang kompetitif tapi juga tidak gampangan, bagiku kecocokan visi antara pasangan sangat penting. Perempuan harus mendapat porsi sama dengan pria dalam hal ini, kesepakatan gadis yang akan menikah denganku haruslah dipertanyakan sejak awal dan tak boleh ada keterpaksaan. Sebab awal akan menentukan akhir sebuah cerita, aku tak percaya kalau keserasian bisa diraih bila sudah berumah tangga kelak, karena menikah bukan permainan lotre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era modern ini, tanpa memandang status remaja manapun, biasanya mereka sudah memiliki pujaan hati (baca: pacar), aku tak mau dianggap “virus” yang membuat suasana hati seorang gadis berantakan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Pedekate&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; sewajarnya aku anggap sangat urgen dalam proses menjalin sebuah hubungan yang kita sepakati “sakral”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata coba-coba dalam kamus pernikahan, setiap pasangan yang akan mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga harus mencapai sebuah kesepakatan bersama untuk saling mengisi kekurangan pasangannya, saling menghibur kala didera musibah, dan saling berbagi kebahagiaan, serta berjanji untuk tak ada lagi tabir-tabir rahasia antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus tau bahwa manusia tak ada yang sempurna, dalam pergaulan sehari-sehari saja kita sering menemukan ketidak cocokan dengan seorang kawan, pun demikian dengan pasangan kita kelak. Tak ada pasangan yang 100% cocok dengan pasangannya, mereka sendirilah yang harus berusaha cocok dengan pasangan lainnya, dan hal itu tidak mudah kecuali bila sebelumnya sudah tumbuh embrio-embrio CINTA atau paling tidak ada kesan saling pengertian antar keduanya. Barangkali bila setiap pasangan menyadari bahwa pasangannya adalah amanat Allah yang tak boleh diabaikan, maka akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;langgeng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pernikahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku berkesempatan mengenalmu kelak, sebagai suamimu, maka aku bersumpah akan menjadi pasangan paling bertanggung jawab (tentunya semampuku). Bila ternyata takdir berbicara lain, maka aku akan selalu mengingatmu dalam sujudku sebagai bentuk syukur karena telah diberi kesempatan untuk mengenalmu. Karena saat aku menulis artikel ini aku bukan lelakimu dan kamu bukan perempuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana aku, kamu pastinya ada dalam entry anak-anak shaleh dan shalehah yang selalu menaruh hormat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;takdzim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pada orang tua. Tapi kita harus sadar bahwa kitapun mempunyai hak pribadi yang tak mau bila diabaikan orang lain. Terus terang aku paling tidak bisa untuk mendurhakai orang tua terutama Ibu. Jadi, aku pikir tak ada salahnya kita berkenalan terlebih dahulu. Kalau memang tak menemukan alasan untuk melanjutkannya kepelaminan, kita pasti punya cara sendiri untuk menyampaikan sikap, tentunya tanpa melukai pihak manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tak mau menikahi seorang perempuan hanya dengan alasan kepentingan keluarga, meski aku tau keluarga adalah segalanya bagiku. Cinta dan pernikahan tak bisa dipisahkan, menikah tanpa cinta adalah kejahatan tak termaafkan, karena isensi pernikahan sejatinya mengarah pada objek utama: menciptakan rumah tangga yang dihiasi taman &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;mawaddah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; (cinta) dan bertabur bunga-bunga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;rahmah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; (kasih sayang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special dedikasi buat ‘calonku’ di taman mimpi&lt;br /&gt;21 Aguatus 2009 M/1 Ramadlan 14230&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6805948417043434086?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6805948417043434086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6805948417043434086&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6805948417043434086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6805948417043434086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/08/aku-bukan-lelakimu.html' title='Aku Bukan Lelakimu'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-4370824480300814181</id><published>2009-08-10T01:54:00.001-07:00</published><updated>2009-08-19T05:39:50.051-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Trend Mahasiswi Bercadar ala Ayat-ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bila anda pernah bertanya pada wanita muslimah yang memakai cadar, maka jawabannya pasti bermacam. Nina Mahasiswi tingkat III Syariah misalnya, mengaku memakai cadar dengan alasan di Mesir banyak debu, sementara Wiwik mahasiswi tingkat I Ushuludin, beralasan agar lebih dihormati orang Mesir, ada juga yang dengan motif agar tidak digodain pria hidung belang. Namun mayoritas dari mereka tak ada yang mengaku karena prinsip ideologi. Meski ada satu-dua orang yang mamakai cadar dengan alasan perintah agama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ada niat mengusik kebebasan berekpresi wanita muslimah manapun,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;belakangan malah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;saya  sedikit terusik dengan kasus “ikon Jilbab dunia Arab” Marwa Al-Syarbini yang ditusuk 18 kali oleh pria rasis di pengadilan Dresden Jerman hingga tewas. Seperti biasa, media-media barat bungkam bahkan terkesan antipati dengan kasus tersebut. Meski ada yang memberitakan, tak satupun yang memajangnya di halaman utama, beda dengan kasus Neda Sulthana yang tertembak bersama beberapa demonstran pro Mir Mousavi di Iran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cadar Sebagai Ideologi Agama atau Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burkuk, dalam bahasa Arab berarti penutup kepala perempuan yang hanya memperlihatkan kedua mata dari balik kain (lihat Ibnu Al-Mandzur). Kemudian dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan “Cadar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri, pakaian khas timur tengah ini masih terlihat asing terutama di perkotaan. Sesekali mungkin akan terekspos media saat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) atau kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera) melakukan aksi demo anti Israel. Ada juga beberapa pesantren di Indonesia yang mulai menerapkan wajib cadar bagi santriwati saat keluar pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu belum ada dari mereka yang secara terang-terangan dan terbuka mengklaim sebagai ideologi Islam yang wajib dijalankan oleh setiap muslimah. Barangkali hal ini dirasa tak etis karena menyalahi Ijma Jumhur Ulama dari madzhab empat dengan madzhab Hambali sebagai pengecualian, apalagi akhir-akhir ini perempuan bercadar kerap dihubungkan dengan jaringan teroris. Kalaupun ada yang berani memvonis sebagai kewajiban agama, itu terjadi pada islam minoritas, yang dipandang banyak berbenturan dengan ayat-ayat ahkam oleh M. Al-Ghazali (lihat Qadlaya Al-Mar’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis prolifik dari Al-Azhar ini memberikan contoh sederhana dengan ayat 31 Al-Nur, yang memerintahkan laki-laki maupun perempuan menjaga pandangan pada selain mahramnya. Kalimat “Yaghuddu” dan “Yaghdudna” dalam ayat tersebut akan tumpul dan impotent, sebab perintah menahan pandangan tak lagi berfungsi karena setiap perempuan sudah mamakai cadar, jadi tak perlu lagi kaum laki-laki menundukkan pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas, marilah kita runut penuturan Qasim Amin dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;magnum opus&lt;/span&gt;-nya Tahrir Al-Mar’ah: Perempuan-perempuan Yunani masa lalu juga memakai hijab seperti yang dipakai wanita di Timur sekarang. Bahkan para pengikut Kristus juga memakainya hingga abad 13 M untuk melindungi wajah mereka dari panas dan debu. Kemudian wanita muslimah zaman Nabi banyak memakainya meski masih terbatas kalangan berduit. Hingga akhirnya turunlah wahyu yang mempertegas pemakaian hijab dalam surat Al-Ahzab, Al-Nur dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini terungkap bahwa cadar sama sekali bukan budaya istimewa Arab apalagi Islam, agama hanya mengingatkan muslimah yang taat agar menutup tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Cadar tak bisa lagi disebut sebagai perintah agama meski agama tak pernah melarang seorang wanita muslimah memakai cadar. Cadar adalah warisan masa lalu yang masih dilestarikan sebagai kekayaan budaya timur tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenomena Cadar di Kalangan Masisir (Mahasiswi Mesir)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan mahasiswi Indonesia di Mesir? Mahasiswa/i adalah insan yang matang dalam berfikir, cermat dalam bersikap. Mereka adalah manusia yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melek&lt;/span&gt; dalam berbagai bidang, tak ada yang sanggup memprovokasi apalagi mengintimidasi kedewasaan para calon pemimpin bangsa masa depan. Mereka adalah manusia-manusia merdeka yang tak bisa diracuni oleh iming-iming apapun. Cara berfikir, sikap, dan mental mereka dibentuk berdasarkan pribadi dan bacaan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin pilihan mahasiswi untuk memakai cadar di Mesir adalah hasil kontemplasi panjang yang tidak tergesa-gesa apalagi hanya membebek pada teman. Sebab kita semua tau pasti bahwa cadar sama sekali bukan standart kesalehan seorang muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa sih keuntungan mamakai cadar? Kan hanya bikin ribet? Seorang kawan mahasiswi menjawab sambil berkelakar “yang jelas saat di bus wanita  bercadar akan lebih mudah mendapatkan tempat duduk di tengah penumpang yang berdesakan”. Sementara Rozi seorang kawan yang ngebet banget ingin menikahi wanita bercadar dengan tanpa malu (maaf) mendambakan kulit putih muslimah yang memakai cadar. Saya yang mendengar pengakuan Rozi, menjawab sekenanya “ kalau dasarnya hitam, ya hitam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kreativitas Mahasiswi Bercadar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusul rilisnya film fenomenal AAC (Ayat-ayat Cinta) tahun lalu, di Mesir semakin hari saya lihat semakin menjamur Aisya-aisya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ala&lt;/span&gt; AAC dengan cadar-cadar khasnya. Entah mata saya yang mulai rabun? Atau memang benar begitu? Yang jelas saya termasuk mahasiswa yang kecewa dengan fenomena ini, karena tak bisa lagi menikmati pemandangan terindah ciptaan Tuhan. Saya akhirnya semakin bingung memilih calon isteri kelak, mungkin kegelisahan M. Al-Ghazali ada benarnya “Jangan salah bila kelak pemuda muslim lebih memilih wanita non muslimah karena tak dapat memandang langsung wajah-wajah teduh bekas ibadah wanita muslimah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semakin miris menghadapi fenomena mahasiswi bercadar yang terlihat semakin menarik diri dari panggung kreativitas masisir. Mereka seperti risih berjumpa mahasiswa di forum-forum kajian maupun pentas seni. Entah kalau ternyata WIHDAH sebagai wadah khusus mahasiswi mesir telah mencapai independensinya sehingga sanggup mengakomodasi segala bentuk aktivitas dan kreativitas mahasiswi. Yang saya amati forum-forum diskusi, kajian dan dialog ilmiyah yang sarat ilmu itu selalu sepi dari mahasiswi bercadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan ini tentunya sangat kontradiktif dengan perempuan-perempuan muslimah masa Nabi, yang sangat bergairah menghadiri rutinitas pengajian Nabi dan para Sahabat. Apa mungkin forum-forum tadi ditengarai sudah tidak kondusif? Bisa jadi begitu. Namun sejauh ini tak pernah ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi di sana, sebab kita semua sabagai mahasiswa Al-Azhar mengerti koridor-koridor agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam moment-moment tertentu, kadang muslimah bercadar perlu melepasnya, semisal makan di warung atau restoran. Bagi mereka yang bercadar tak harus bersembunyi dan tak ada salahnya bila sesekali memilih pendapat Jumhur Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin saat mereka pulang ke tanah air. Bila ternyata masyarakat sekitar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sock&lt;/span&gt; dan tidak siap menerima perubahan anda yang bercadar, maka lepaslah untuk sementara waktu. Kenyataannya, mayoritas warga Indonesia tak biasa menghadapi ustadzah yang memakai cadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung kami ada seorang ustadzah yang baru pulang dari univ. Al-Ahgof Yaman, dia termasuk lulusan terbaik ketika di pesantren sampai masa kuliah. Kecerdasan dan kealimannya diakui oleh guru-gurunya, namun ustadzah tersebut tak sanggup memikat hati masyarakat bahkan kemudian dijauhi karena tak bisa lepas dari cadar yang dipakainya. Selain itu, beliau terkesan idealis dan tertutup dari pergaulan masyarakat sehingga kehadirannya dirasa tak pernah ada oleh warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qasim Amin menyayangkan pemahaman Hijab yang disalah artikan pada masanya, di mana perintah Hijab dipahami sebagai larangan keluar rumah sekaligus perintah menutup diri dari pergaulan umum. Bahkan lebih jauh, ada yang meyakini suara perempuan sebagai aurat. Akibatnya tak ada lagi sopan santun antara pria muslim ketika berjumpa wanita muslimah, semisal untuk sekedar saling beruluk salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cadar yang membuat muslimah terpinggirkan seperti kasus di atas sudah sepatutnya dihindari. Memberikan manfaat bagi orang banyak lebih mendesak dari sekedar mempertahankan keyakinan yang masih dabatebel, bukankah Nabi sendiri ketika dihadapkan pada dua pilihan selalu memilih yang termudah. Pendapat Jumhur, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;why not?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marwa Al-Syarbini dan Fatwa Abduh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Marwa Al-Syarbini kembali mengingatkan kita pada tokoh reformis abad 20 Al-Imam Muhamad Abduh yang pernah mengeluarkan fatwa “nyeleneh”: Bagi perempuan muslimah boleh memakai pakaian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ala&lt;/span&gt; Barat saat mereka tinggal di Barat, dengan catatan tetap menutupi aurat tubuhnya. Fatwa ini seakan menyadarkan kita akan relevansi dan elastisitas ajaran Islam yang ditawarkan Abduh. Seandainya Marwa dan wanita muslimah lain di Eropa mempertimbangkan fatwa tersebut, saya yakin pelecehan semacam itu tak perlu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh kita sepakat, bahwa Allah tak menilai kwalitas ketakwaan hambanya dari pakaian dan penampilan jasmaniyah. Asal tau saja, hampir semua PSK di Yaman memakai cadar, biasanya mereka menjajakan barang dagangannya melalui sopir-sopir taksi yang beroperasi di sepanjang jalanan kota Sana’a, Hudaidah, dan Aden menjelang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup      &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimah yang santun tanpa cadar jelas lebih dinamis dan elastis bergaul untuk menambah wawasan dan menjaring teman-teman silaturrahim yang luas. Sikap tertutup bukan sikap muslimah sejati, sebab setiap muslimah apalagi mahasiswi dituntut memperhatikan tetangga dan masyarakatnya. Dia tak boleh antipati dengan problematika sosial masyarakat yang melingkupinya. Bersembunyi di balik secarik kain penutup muka adalah sebuah tindakan munafik, bila ternyata masyarakat sekitar sedang merindukan kehangatan sikap dan pancerahan nasehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan dengan seorang wanita Mesir bercadar yang bekerja sebagai kasir toko dekat flat yang kami tinggali, cadar tidak menghalangi dirinya untuk menyapa dan berbasa-basi dengan pembeli bahkan dengan kami sebagai orang asing. Perangainya lembut dan hangat meski kami tak bisa melihat senyum manisnya, padahal dia mengaku masih gadis dan belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya wanita bercadar Mesir itulah yang membuat saya tak ragu untuk menyapa dan berbasa-basi. Biasanya perempuan bercadar, setidaknya bagi saya, terlihat serem dan sangat berwibawa untuk saya sapa apalagi mengobrol dengannya. Di samping juga khawatir salah orang, sebab dari pengalaman saya selama ini sulit untuk membedakan antara Nina dan Wiwik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di www.nu.or.id edisi 11/08/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08 Agustus 2008&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahiroh Jadidah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-4370824480300814181?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/4370824480300814181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=4370824480300814181&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/4370824480300814181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/4370824480300814181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/08/trend-mahasiswi-bercadar-ala-ayat-ayat.html' title='Trend Mahasiswi Bercadar ala Ayat-ayat Cinta'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-400289841581035284</id><published>2009-07-14T13:00:00.001-07:00</published><updated>2009-07-14T13:24:31.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Kakek dan Peti Kotak Ajaibnya</title><content type='html'>Peti kotak itu berwarna biru, mungkin peninggalan kompeni, atau bisa jadi pembelian Kakek ketika tour tahunannya ke Surabaya, tepatnya di pasar favorit beliau, pasar Turi. Tak ada yang tahu, karena memang tak ada yang bertanya atau lebih tepatnya tak ada yang berani bertanya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kakek Hasan dengan segala dominasinya sebagai tokoh masyarakat adalah satu dari sekian memorial kami yang amat sangat berharga. Beliau seorang tokoh yang bersahaja, alim, kharismatik dan super disiplin (istiqomah). Segala lika-liku kehidupan masyarakat, tak ada yang boleh lepas dari amatannya. Beliau adalah pemimpin sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekotak peti tua itu memuat segala pernik dan perlengkapan paling berharga beliau, dari mulai pisau potong hewan kurban sampai kain kafan mayat, dan tentu juga sejumlah uang. Ibarat agen FBI, hanya beliau yang boleh membuka dan menutup kotak “ajaib” ini. Tak seorangpun boleh mengutak-atik kotak kesayangan yang terlihat nangkring manja di samping tempat tidurnya, bahkan tidak juga Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyebutnya ajaib, sebab apa saja yang dibutuhkan dalam kesehariannya pasti ada dalam kotak besi ini. Ia merupakan bagian terpenting dalam kehidupan Kakek, meski sampai saat ini belum ada yang tau dari mana asalnya barang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut prediksiku, peti tersebut didapat dari Surabaya. Berdasarkan adanya beberapa peti serupa yang juga dimiliki oleh beberapa sesepuh kampung kami, selain itu di pasar-pasar lokal tempat kami tinggal, tak pernah aku jumpai peti kotak semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setiap bulan Ramadan tiba, Surabaya akan segera menjadi tujuan utama dari tour tahunan Kakek. Selain tali silaturrahim dengan beberapa santrinya, moment ini juga dipergunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi zakat fitrah yang beliau kumpulkan dari mereka. Pendapatannya lumayan buat menyongsong lebaran Idul Fitri secara sederhana bersama keluarga dan warga di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok kakek yang kokoh dan keras dengan prinsip yang diyakininya, membuatnya menjadi seorang tokoh yang disegani di kalangan tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Meski begitu, beliau sangat santun dan ramah terhadap siapa saja, bahkan anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak mungkin dilupakan oleh generasai penerusnya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Himmah&lt;/span&gt; (semangat)nya dalam menambah pengetahuan keagamaannya, bahkan sampai tua renta beliau masih dan terus menghadiri majlis-majlis taklim Kyai-kyai di kota Bangkalan guna menambah wawasannya atau paling tidak mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang pernah diterimanya dulu semasa di Pesantren, apalagi di masa tuanya ini, mata rabun Kakek semakin tak bisa diajak kompromi untuk sekedar mambaca kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas ini berlangsung dua kali dalam seminggu. Hidupnya hanya untuk ilmu dan masyarakat, tak ada yang lain. Padahal untuk bisa ke kota, beliau harus berjalan kaki sejauh 2 Km untuk sekedar bisa menyetop mobil angkot di jalan beraspal. Tapi, hal itu sama sekali tidak bisa memadamkan api semangat petualangan ilmiyahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap adzan Subuh menjelang, beliau sudah bangun. Selanjutnya menuju Mesjid yang ada di depan rumah untuk mengimami para jemaah yang sudah menanti. Selepas Subuh, lelaki yang dikaruniai cucu-cicit lebih dari 30-an orang ini, mengajar ngaji anak-anak muda kampung, termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua sholat lima waktu selalu beliau laksanakan dengan berjamaah bersama beberapa warga di Mesjid kesayangannya. Selain peka terhadap ritual ibadah, beliau juga sangat peka terhadap kondisi sosial  warga. Apabila ada yang sakit, beliau akan menjadi orang pertama yang menjenguk, kalau ada yang meninggal beliau akan menjadi pelayat paling dinanti yang akan membawakan kain kafan sekaligus mengukur dan memotongkannya sendiri buat si mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan masyarakat dalam arti sebenarnya, demikianlah aku melihat sosok Kakek. Tak seperti umumnya para pemimpin masyarakt zaman sekarang  yang hanya ‘memanfaatkan’ masyarakat bukan ‘memberi manfaat’ pada masyarakatnya. Prinsip hidup beliau adalah memberi sebanyak-banyaknya tanpa mengharap pujian apalagi imbalan. Keikhlasan dan kejernihan hati terpancar jelas dari air muka tokoh ini. Tak ada yang diinginkannya selain Ridla dan Sorga Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penempaan panjang dan liku-liku hidup telah membentuk kepribadian Kakek menjadi sosok yang sulit untuk dicarikan penggantinya. Beliau menjadi “ruh” dalam keluarga sekaligus “tiang penyangga” segala ketimpangan sosial dalam masyarakat kami. Dialah guru spiritual warga yang telah menyatu dengan hati. Keberadaannya lebih dari sekedar tokoh tapi sudah dianggap orang tua bagi setiap warga yang setia menunggu nasehat-nasehat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya mereka yang tidak obyektif yang berani menilai wawasan keilmuan Kakek pas-pasan. Beliau adalah seorang alim yang benar-benar matang dan berpengalaman seluas samudera. Matan-matan kitab klasik, semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sullam Tufiq, Safinatun Naja&lt;/span&gt; dll sudah beliau hafal sejak kecil dan bahkan sudah mendarah daging. Al-Qur’anpun demikian, meski mengaku tidak pernah menghafal kitab suci ini, namun saat mengajar kami, beliau tidak pernah terlihat memegang mushaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila keilmuan para ulama masa kini terbatas pada pembacaan mereka di buku dan kitab serta teori-teori kosong di kepala saja, maka keilmuan Kakek melampaui semua dimensi tersebut. Ilmu dan praktek nyata sudah akrab dijalaninya dalam mengarungi tiap sisi kehidupan. Beliau adalah tokoh yang banyak makan garam kehidupan, yang tidak pernah sembunyi saat masyarakat memerlukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal beliau isi peti kotak Kakek berhamburan dibagi-bagikan oleh paman kepada anak-cucu yang berminat mewarisi barang paling berharga ini (setidak berharga di mata Kakek yang sederhana). Selanjutnya kotak kesayangan Kakek yang berupa seonggok besi tak berguna itu ditinggal begitu saja, sekarang tak ada yang tau di mana keberadaan kotak peti Kakek, persis seperti saat beliau membawanya ke rumah dulu (mungkin saat itu aku belum lahir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sesuatu yang sudah tak berguna selayaknya dibuang saja, logika ini sama sekali tidak salah. Apalagi yang dibuang hanya sebuah peti kotak klasik yang tentunya sudah tidak layak pakai. Namun Aku selalu berharap ajaran dan petuah-petuah Kakek tidak bernasib sama dengan peti kotak beliau. Petuah-petuah beliau bisa terus hidup dan terpatri dalam jiwa para anak-cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special dedication for his Grandchild and Lovers&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-400289841581035284?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/400289841581035284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=400289841581035284&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/400289841581035284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/400289841581035284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/07/kakek-dan-peti-kotak-ajaibnya.html' title='Kakek dan Peti Kotak Ajaibnya'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2923496378024524391</id><published>2009-06-11T08:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T09:03:11.773-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Abe yang Malang Mengemis Pengampunan Kyai</title><content type='html'>Aku memang tidak seperti pengejar mimpi pada umumnya, arahku tidak jelas dan agendaku juga tidak nyata. Apa yang aku impikan di masa depan sama sekali tak terimaji dalam ruang mimpi itu. Sehingga tak heran bila aku terkadang berbelok arah ke kiri dan ke kanan hanya ikut arus. Aneh dan sangat menyedihkan, meski aku sadar bahwa hidup harus dimenej sejak dini dan ia tidak mengenal istilah, apa kata nanti deh…, namun aku masih tetap tak perduli.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku pernah ingin menjadi Kyai tulen yang hanya mengurusi kitab-kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bulukan&lt;/span&gt; (berdebu) dengan segelintir santri yang kolot. Orientasiku waktu itu hanya ingin selamat dari api neraka, semua ini gara-gara aku sering menyaksikan para Syeikh sufi dengan sorban panjang dan jenggot lebatnya . Pernah juga aku bermimpi di masa mendatang, aku harus kaya dan dermawan, untuk bisa memarginalkan angka kemiskinan di kampungku, yang semakin hari semakin membengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi pertamaku harus kandas, gara-gara ada seorang kawan menasehati, bahwa cita-cita ingin menjadi kyai bukan cita-cita yang benar sebab para Kyai sendiri tak ada yang bercita-cita seperti itu, cita-cita semacam itu pasti menyimpan unsur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;riya &lt;/span&gt;(ingin dipuji orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaksa menanggalkan baju kebesaran Kyai ini, apalagi peluang ke sana susah, melihat fenomena para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lora&lt;/span&gt; (anak Kyai) yang mulai menjelma menjadi Kyai cadangan dari abah-abahnya yang sudah berumur. Jadi bagi aku yang hanya seorang anak Kyai kampung, yang tentunya juga kampungan, tak cocok untuk bersaing merebut tahta mereka, pasti kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan masalah keilmuan atau leadership, namun lebih pada kenyataan sistem aristokrasi yang mengakar kuat dalam tradisi kami sebagai warga Madura, yang menghamba dan membudakkan diri di hadapan para Kyai (untuk lebih sopan jangan dulu menyebut mereka para “Nabi Madura”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah bermimpi bisa menggoncang apalagi merubah sistem aristokrasi di Madura, para Kyai sangat menikmati posisi mereka sebagai Sultan-sultan terhormat di kepulauan dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa ini. Warga Madura? Apa lagi, mereka itu khawatir “kwalat dan kena bala” jika berani menggugat tahta para Sultan (baca: Kyai) yang dari hari ke hari terlihat seperti agen resmi Kapitalis yang sedianya hanya memperkaya diri dan bukan menjadi pengayom masyarakat, mereka menghisap dan memperalat masyarakatnya sendiri tanpa ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai serupa dengan tuan tanah zaman kompeni, yang suka mengambil keuntungan bejibun dan merintah ini-itu tanpa ada yang bisa protes. Di sisi lain mereka serupa para Nabi yang terbebas dari dosa, dengan keramahan ala-keraton Solo, dan senyum menawan mengalahkan senyuman Brad Pitt si bintang Hollywood itu. Warga yang berhasil sungkem dan mencium tangan Kyai, meyakini bahwa hal itu adalah ritual pelebur dosa, bila sungkeman mereka diterima oleh Kyai itu berarti tobatnya juga diterima oleh Allah. Sebenarnya ritual seperti ini tidak hanya ada di kalangan warga Madura, dalam tradisi keagamaan umat Kristiani kita kenal dengan istilah “pengaduan dosa” di hadapan Pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sedang mencoba mempropaganda pembaca, ada banyak bukti nyata yang bisa aku ceritakan di sini. Ceritanya begini, salah seorang anak sepupu Ibuku (paham gak?), suatu hari diusir gurunya (Kyai) dari Pesantren tempat dia belajar sekaligus mengajar hampir sepuluh tahun lebih tanpa alasan jelas. Namun seperti aku bilang tadi, sepahit apapun keputusan Kyai tidak boleh ada yang protes, sebab Kyai itu dikaruniai “Ilmu Makrifat” sejenis ilmu yang bisa mengetahui apapun yang ghaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Kyai ini menjadi pukulan berat pada mental Abe (nama samaran keponakan yang diusir), dia kemudian menjadi pria kampung yang tertutup dan tak bisa bergaul bebas dengan warga sekitar, dia seakan telah menjadi pelaku kriminal paling kejam yang baru dibebaskan dari penjara Nusa Kambangan. Bahkan saat dia ingin mengakhiri masa lajangnya dan mencoba melamar salah satu gadis tetangga kampung, Abe ditolak mentah-mentah. Identitas Abe sudah di&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blacklist&lt;/span&gt; warga yang dari kecil mengenalnya, sungguh menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa dilakukan Pamanku sebagai tokoh di kampung kami hanya meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat salah satu keponakannya ini. Hampir sebulan sekali beliau sowan ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalem&lt;/span&gt; (rumah Kyai) untuk peleburan dosa keponakannya, hingga suatu saat meluncurlah “sabda agung” dari mulut suci Kyai yang memberitahu bahwa Abe sudah dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abe yang mendengar kabar ini meloncat kegirangan, dengan berbusa-busa dia menceritakan pada setiap kenalannya; bahwa dia telah dimaafkan oleh Kyai. Hal ini dirasa perlu untuk memperbaiki kembali citranya yang remuk diamuk persepektif jahiliyah warga Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Abe tidak akan pernah bisa berhasil 100% mengembalikan kepercayaan warga pada dirinya yang telah roboh akibat “sabda semu” Kyai. Aku sempat berfikir, bila Abe memang salah mengapa Kyai tidak mudah untuk memaafkannya? Bukankah seorang Kyai dituntut mempunyai hati yang pemaaf, penyayang dan belas kasih yang seluas samudera. Apa susahnya memaafkan seorang Abe? Yang nyata-nyata masih tercatat sebagai muridnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepaket dengan kasus Abe, adalah tradisi ‘menggelikan’ yang biasa dilakukan para begundal dan preman Madura. Sekotor dan sekeji apapun kelakuan mereka di luar sana, mereka pasti menyempatkan diri sowan ke para Kyai bila mereka pulang ke Madura, tentunya dengan membawa segepok uang yang tidak diketahui dari mana asalnya. Para Begundal Madura meyakini bahwa sowan dan mencium tangan Kyai akan meringankan penghitungan dosa di akhirat kelak. Sebab Kyai, yang diyakini sudah mendapat tiket ke Sorga itu, akan memintakan syafaat pada Allah buat mereka kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah tau pasti, dari mana asalnya doktrin-doktrin ini meracuni otak mayoritas masyarakat Madura. Ia seperti kebenaran absolut yang tak mungkin lagi dibantah apalagi dirubah. Ada yang bersumsi, bahwa ini adalah pengaruh ajaran Tasawuf. Tapi Tasawuf yang mana? di kitab apa? Al-Ghazali sebagai bapaknya kaum Sufi misalnya, terang-terangan menolak taklid buta seperti tradisi salah dari sebagian sekte Sufiyah (lihat Mizan al-Amal karya al-Ghazali, hal: 403).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tradisi aristokrasi semacam ini yang dipilih oleh Nabi dan Sahabat-sahabatnya? Jelas bukan. Abu Bakar yang memangku Khilafah Islam pertama, dengan nada keras berorasi  di depan pembesar Sahabat dan kaum muslimin waktu itu “Aku memang pemimpin kalian, tapi aku bukan yang terbaik di antara kalian. Orang yang mempunyai posisi kuat di kalangan mereka akan menjadi orang lemah di depan hukum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas sikap acuh tak acuh dari para Kyai dengan fenomena di atas merupakan konspirasi keji yang berujung pada pembodohan massal warga, sebab diamnya Kyai telah menghalangi warga dari pengetahuan hakiki; bahwa yang makshum (terbebas dari dosa) hanya para Nabi, Kyai selalu bisa salah dan harus bersikap dewasa ketika dikritik karena mereka manusia biasa, bukan Nabi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Mei 2009 M&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2923496378024524391?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2923496378024524391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2923496378024524391&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2923496378024524391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2923496378024524391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/06/abe-yang-malang-mengemis-pengampunan.html' title='Abe yang Malang Mengemis Pengampunan Kyai'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-3820133352504449216</id><published>2009-05-03T03:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-03T03:51:03.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Ambisi dan Kebahagian: Sebuah Kontemplasi dari Potret Kehidupan Nenek Kampung</title><content type='html'>Ada titik bosan dalam diri manusia tanpa terkecuali, kesendirian terkadang menjadi obat bagi sebagian orang namun tak jarang ada yang memilih untuk berbagi dengan yang lain. Ya, manusia adalah makhluk Tuhan yang identik dengan ketergantungan antara satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap dari mereka mempunyai hak privasi yang tidak boleh dicampuri, hak-hak inilah yang terkadang  memaksa sebagian dari mereka untuk mewujudkannya meski harus mengabaikan atau bahkan menyakiti saudaranya sesama makhluk Tuhan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Manusia memang mempunyai ego semenjak awal penciptaannya, sehingga tak heran bila psikolog atau filosof abad 19-awal 20an kerap menitik beratkan manusia pada sifat lahiriahnya ini. Tak aneh bila kemudian logika ini melahirkan sikap “curiga berlebihan” antara satu dengan lainnya, didasari prinsip bahwa “Bilapun mereka mengenyampingkan egoismenya, hal ini tak lebih dari sebuah kamuflase tersembunyi untuk mencapai tujuan pribadinya tadi” ungkap Freud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika ini tak murni benar, atau bahkan salah kaprah. ia tak lebih dari kepanjangan dari teori Evolusi Karl Mark yang pada masa itu menjadi bacaan wajib para akademisi di Eropa dan banyak meracuni pola pikir beberapa pemimpin Negara di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan sederhana dari kesalahan teori ini mudah, semisal kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Tak satupun dari mereka berani mengatakan bahwa kasih sayang tersebut hanya sebuah kamuflase dan kepentingan pribadi si Ibu. Jadi, sebenarnya apa yang disebut keikhlasan dan ketulusan itu nyata ada. Teori inilah yang kemudian dikembangkan oleh banyak kalangan psikolog modern. Mereka dengan sangat jeli meriset dan menganalisa bahwa dalam diri manusia selalu ada dua unsur yang saling bertolak belakang, baik-buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi positif diri, demikian teori ini kemudian dikenal. Berfikir secara positif dan melempar jauh racun-racun sifat kebencian, menjadi idaman tiap insan dewasa ini. Mereka sudah lelah bertikai, letih menyimpan kecuriga antara sesama. Apalagi energi negatif ini hanya membawa mereka pada perpecahan dan peperangan yang berkepanjangan. Tak salah kalau dari mereka ada yang berucap bahwa kecurigaan berlebih hanya membuang umur, kebencian dan amarah hanya mambuat umur lebih pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam banyak kasus dijelaskan, bahwa selain pola makan, pikiran tenang, selalu merasa bahagia, dan menikmati hidup dengan semestinya menjadi faktor yang tak kalah penting. Orang yang tinggal di desa misalnya, bisa berumur sampai 80-90 tahun, sedangkan mereka yang tinggal di kota relatif berumur lebih pendek.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai nenek dan kakek yang masih hidup sampai sekarang, padahal dia sudah dikaruniai banyak cicit (bukan hanya cucu), Barangkali kesederhanaan berfikir, kesederhanaan pola makan, dan kesederhanaan cara hidup menjadi faktor  utama mengapa mereka masih sehat meski sudah cukup umur. Padahal mereka tak ada aktifitas olahraga, maupun biaya untuk cek kesehatan seperti lazimnya orang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep sederhana dengan ambisi -sebagai manusia yang tamak- ditekan sedemikian rupa sehingga tidak pernah berhasrat untuk bisa mengambil lebih dari apa yang dibutuhkan dalam kehidupan. Pikiran mereka terfokus pada kehidupan setelah dunia, yakni akhirat. Berarti mereka hanya sekumpulan manusia tak berguna? Tak ada ambisi, apa istimewanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan di atas hanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;banyolan&lt;/span&gt; penganut Marxisme yang banyak melahirkan bencana bagi kemanusiaan. Adalah salah besar, menuduh seseorang tak punya ambisi. Saya kira semua dari kita sepakat bahwa setiap manusia hidup pasti mempunyai cita-cita dan ambisi terlepas apapun profesi dan bagaimanapun strata sosial orang tersebut, meski memang frekuwensi ambisi dan cita-citanya beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat nenek saya, sebagai tipikal orang tua yang senang memberi dan berbagi dengan sesama. Beliau sangat antusias bila ada tamu yang datang apalagi kami (cucu-cucunya), beliau akan berusaha sebisa mungkin membuat tamu yang berkunjung nyaman, dan ingat, membuat nyaman tidak harus dengan hidangan yang mewah. Sambutan hangat dengan hidangan ala kadarnya sudah cukup untuk membuat hati tamu menjadi nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana meriah dan obrolan hangat yang terpancar dari rumah sederhana nenek menjadi tempat favorit bagi para tamu, terutama kami cucu-cucunya. Mereka orang kampung ternyata lebih bisa mengartikan apa makna ambisi dan kebahagiaan. Sementara kaum Materialisme hanya bisa berkoar sana-sini tanpa bisa menghadirkan bukti teorinya secara nyata dan riil, mereka abai dengan apa yang disebut sebagai kebahagiaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ruhaniyah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, bukan pekerjaan mudah untuk bisa membuat orang lain nyaman, senang, dan bahagia. Ini sebuah pencapaian yang tak bisa diukur secara materi. Akan sulit untuk bisa mendapatkan manusia yang punya karakter sepeti nenek. Dan perlu dicatat, bahwa penghormatan terhadap tamu dengan tujuan membuat orang lain bahagia termasuk sebuah ambisi bukan sekedar keterpurukan seorang pecundang, seperti yang diungkap kalangan Marxis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kita sangat membutuhkan manusia-manusia yang mempunyai hati seperti ibu dan berjiwa sosial tinggi seperti nenek. Di tengah kehidupan yang serba materialistik, manusia-manusia agung ini sama persis dengan sumber mata air di tengah gurun yang keberadaannya selalu dicari dan dibutuhkan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek meski hidup sangat sederhana tapi naluri beliau untuk selalu berbagi tak terperikan. Acapkali, ketika saya berkunjung ke rumahnya, beliau selalu menyambut saya -cucunya- dengan muka yang berseri-seri. Tak hanya itu, sebelum saya pamit pulang, biasanya beliau selalu menyelipkan uang meski tak seberapa nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, nilai sebuah materi sama sekali tidak penting. Ungkapan nenek “Ini ada sedikit uang buat beli  es di jalan” tak bisa dinilai dengan apapun, bahkan lebih romantis kecupan Majnun-Laila dalam syair-syairnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah tau apa sebenarnya yang ada dalam pikiran wanita tua renta ini, jiwa asihnya seakan tak pernah lekang oleh goresan zaman yang jauh lebih tua darinya. Sebatas pembacaan saya, beliau ingin agar anak-cucunya bisa mempunyai sifat-sifat terpuji seperti yang beliau contohkan dan sama sekali tak ingin menularkan virus-virus kebencian pada generasi penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indah perangai dan akhlak wanita tua ini. Seandainya bisa menghiasi pribadi tiap orang, saya yakin kita tidak butuh lagi badan perdamaian PBB dunia. Sebenarnya nilai-nilai luhur inilah yang mau ditularkan oleh Al-Qur’an melalui Rasul SAW dan para Sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ar-Rahman&lt;/span&gt;, Sang Pengasih, adalah satu dari nama-nama Tuhan yang sedianya ingin mengajarkan umat manusia pada sikap welas asih. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ar-Rahim&lt;/span&gt;, Sang Penyayang, supaya umat manusia bisa berdampingan tanpa melihat ras, suku, bahasa, dan warna kulit serta agama. Menjauhi  rasa benci dan hanya mendasari kesehariannya dengan  sifat Rahman-RahimNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Tulisan ini saya dedikasikan buat nenek saya: Hajjah Zuhrah, Hajjah Zubaidah puteri-puteri Kyai Muhammad Fadlil (yang kesemuanya telah wafat), nenek saya yang tinggal di Timur Gunung (masih hidup dan sehat) dan untuk semua nenek-nenek yang ada di planet bumi, I love you my all Grannies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 April 2009&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qohirah Jadidah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-3820133352504449216?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/3820133352504449216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=3820133352504449216&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3820133352504449216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3820133352504449216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/05/ambisi-dan-kebahagian-sebuah.html' title='Ambisi dan Kebahagian: Sebuah Kontemplasi dari Potret Kehidupan Nenek Kampung'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-8012099166994418917</id><published>2009-04-23T15:12:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T15:13:58.777-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>Syairku mengering&lt;br /&gt;Perasaanku hampir mati kehausan&lt;br /&gt;Akalku mulai meronta&lt;br /&gt;Nafsuku menggelepar bak anjing&lt;br /&gt;Ruhku terlihat membuka dan menutup matanya&lt;br /&gt;tanda ia tak kuasa menahan coba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari semakin gelap&lt;br /&gt;Hujan berdebu, membisu&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1240524712_0"&gt;Mata&lt;/span&gt; nanar terhalang awan hitam&lt;br /&gt;Ragaku menelanjang mengerjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;Aku dicumbu sekaligus dipecundangi sang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 April 2009&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-8012099166994418917?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/8012099166994418917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=8012099166994418917&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/8012099166994418917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/8012099166994418917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/04/waktu.html' title='Waktu'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-1993105078574901332</id><published>2009-04-22T07:15:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T02:23:23.989-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pemilu di Madura; Pesta Demokrasi Atau Bencana?</title><content type='html'>Demokrasi, mungkin sebuah kata yang masih asing dalam paradigma masyarakat Madura yang terkenal kolot, keras, namun sangat agamis. Mereka menjadi ikon keterbelakangan dan ketidakberdayaan di tengah kemelut modernisasi yang diusung masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca pemilu 9 April lalu, masyarakat ikut merayakan pesta demokrasi ini, meski mereka sendiri tidak tau apa fungsi dan dampak yang akan terjadi selepas pemilu. Sebagaimana yang lalu-lalu, kondisi ekonomi dan pendidikan masyarakat tak akan ada perubahan yang signifikan. Mereka selalu saja dipecundangi para elit politik, diperas, dan diperalat akibat kebodohan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya para tokoh di Madura, dari semua elemen masyarakat, bisa lebih cermat membaca situasi krisis ini. Namun seperti agen-agen matang kapitalis, para tokoh ini tak lebih dari lintah yang menghisap materi dan energi warga. Mereka sepertinya sangat paham bahwa pendidikan yang maju akan berdampak negatif pada kedudukan para tokoh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewanti-wanti masyarakat dengan dogma-dogma beracun masa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jahiliyah&lt;/span&gt; menjadi pemandangan yang biasa di madura. Persisnya "Jangan biarkan Masyarakat cerdas, sebab mereka akan menggugat". Sistem aristokrasi yang dijalankan para tokoh sangat manjur menundukkan 'keras kapala' warga. Dari satu sisi, Saya melihat hal ini positif bila diarahkan pada hal-hal yang positif pula, bukan malah dibuat 'sarana' yang merugikan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa berita pemilu yang terus Saya ikuti, setidaknya ada 2 opsi yang Saya tangkap: 1. Kesadaran warga yang tak mau lagi diinterfensi oknum tertentu katika memilih, terbukti dengan melejitnya perolehan suara Gerindra dan Demokrat di salah satu kota yang menjadi 'sarang' Kyai. Di Bangkalan misalnya, dua Partai ini berhasil mengungguli Partai-partai berbasis NU, yang pada pemilu sebelumnya menang mutlak di daerah ini (baca jawapos 21 April 2009). 2. Beberapa kekhawatiran yang menggelayut di mata, Saya merasa prihatin atas aksi nekat beberapa Caleg yang gagal tidak terpilih, dengan mengerahkan masa menghancurkan kantor camat di Tanah merah-Bangkalan (baca surya.co.id 22 April). Tokoh-tokoh Madura, terlepas berlatar belaknag apa saja, harus ikut andil memajukan pendidikan berpolitik warga. Mereka harus lebih bisa bersikap arif menghadapi pemilu ini, bukan dengan kepala panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pembunuhan ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) desa Sendir Lenteng-Sumenep, Moh Hasyim, yang digorok hingga tewas. Pasti membuat miris para pambacanya (surya.co.id 22 April), tindakan bar-bar seperti ini memang dianggap banyak kalangan sudah mendarah daging dalam tradisi masyarakat Madura. Namun Saya mempunyai pandangan ke depan, bahwa tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Carok&lt;/span&gt; ini bisa dikerdilkan, asal semua lapisan masyarakat ikut andil dalam memarginalkan tradisi yang turut memberi kesan jelek pada warga Madura secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dari tadi Saya seperti mengkambing hitamkan para tokoh? Hal itu bukan tanpa alasan, dalam banyak kasus, tokoh masyrakat (baca: Kyai) Madura sudah menjadi semacam pemegang otoritas mutlak dalam setiap tindak-tanduk masyarakat, dari mulai masalah yang bersifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;duniawi&lt;/span&gt; maupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukhrawi. &lt;/span&gt;Mereka adalah poros paling menentukan maju-mundurnya peradaban di Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tokoh masyarakat bisa lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melek &lt;/span&gt;membaca posisi diri dan masyarakatnya. Saya yakin 10 tahun mendatang, kita bisa menyaksikan masyarkat Madura berdiri sejajar dengan kawasan lain di tanah air, baik dalam pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma dan antusiasme masyarakat terhadap para tokoh bisa menjadi sarana yang sangat berarti untuk perjalanan Madura ke depan. Tapi, kalau mereka (tokoh) belum juga sadar dan masih berkutat dalam dunianya, tanpa mau perduli dengan keadaan masyarakat, maka sulit mewujudkan impian-impian di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkorban lebih banyak menjadi tuntutan yang tak bisa ditawar bagi tokoh-tokoh Madura. Sudah tak masanya lagi, menjadikan warga sebagai 'martir' yang hanya diambil manis sepah dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 April 2009&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABYAAAAUCAYAAACJfM0wAAAABHNCSVQICAgIfAhkiAAAAAlwSFlzAAAK8AAACvABQqw0mAAAAB90RVh0U29mdHdhcmUATWFjcm9tZWRpYSBGaXJld29ya3MgOLVo0ngAAAAWdEVYdENyZWF0aW9uIFRpbWUAMDQvMDQvMDhrK9wWAAACA0lEQVQ4jbXVz0sUYRjA8e+u6xqlKJUaBZuUh6AfhyCEpUN/QIR0skMh6iHwsKe6lFu4HjpJhy5BS1CsZtDSrYMYdPHUZauDbhcpi7bEH2DOtjvP83aY3dFxxi1hfeAd3nlhPu/zPjPvOyHgKnsQEQDz60kaaKuTuRpqHxqMAKBWvVCoJOjAxqqj60Q1Y3fg05dWki/OMjt3+L+A+KklRvs+cia2VhtOTsYpN5wgl4nReTCM6s7o96UyA6kFkpNK9tZMEFx0B2bnO8hlYky/L5N9V2TDsinbgohi207fFqGxwZDoO0T67nEu9FseAyAMODWuNqC9LczUTBGrKIgqqgYRQdSgqogovy2b8YkCxzqiBBlOxuJ/earqIqqKbMfVsLYuGGMIMnb8KkTUk60HNwapTOqGCYLVDzdGDH9Km1mKiDOBMe4qmqJbl+g1wu5gtQGFZWHw8gFam/GXoILubwpxf+go336WCDJ8pYh35xkYayZ9J8aVi52+lZgt18VCif7RBeLd+X+XItX7nJHXyvkb6wD8eHOOqekVEuNffZM4icyR6s34SuGDTx/Jk715D4CTIy959XaFB0/n+Tw2TMu+jUDcMby3vg2yPW4/WuTxtYe0RJd9D9eKmodQT1eOxKVn9HR9qJZ1l3DABgGYuD7sdGR36CZsrFXqeNADhNijX9NfAyI+Sz1Sug0AAAAASUVORK5CYII=" style="position: absolute; visibility: hidden; z-index: 2147483647; left: 120px; top: 794px;" id="kosa-target-image" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-1993105078574901332?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/1993105078574901332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=1993105078574901332&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/1993105078574901332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/1993105078574901332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/04/menyoal-urgenitas-pendidikan-politik-di.html' title='Pemilu di Madura; Pesta Demokrasi Atau Bencana?'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-1071663004867895639</id><published>2009-03-23T22:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T04:21:31.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Peradaban Uang</title><content type='html'>Uang, entah kapan ditemukan, dipergunakan, diburu, diperebutkan, diributkan. Kata “di” yang sejak awal mengiringinya adalah indikasi bahwa ia hanya salah satu alat (washilah), perantara seseorang guna mendapatkan impian dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat Hadist disebutkan, kalau tidak salah di Shahih Muslim, ketika uang pertama kali diciptakan, Iblis dengan serta merta menghapirinya seraya menciumnya 3x sembari berkata: Mungkin sulit memalingkan anak Adam dari Tuhan, tapi dengan ini akan lain ceritanya. Setidaknya uang inilah yang akan membuat mereka lupa Tuhan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era ini, uang telah sampai pada titik terendah. Dulu ia berbentuk emas, kemudian perak, kemudian perunggu, kemudian besi, hingga yang paling mengerikan adalah bentuk kertas. Sama sekali tidak ada harga, bahkan anak kecilpun bisa menyobeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu orang tak perduli, ia masih menghipnotis. Kita tak bisa menghitung penipuan, penggelapan, pembunuhan sesama saudara. Ini menjadi bukti bahwa sinar uang sama sekali tidak pudar. Padahal kaum Sufi sudah mati-matian menyadarkan, menghalang-halangi dari tipu daya makhluk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kesesuaian gaya dan karakter uang dengan hawa nafsu yang Allah ciptakan dalam diri tiap manusia, menjadi faktor utama ketidak berdayaan mereka terhadap kedikdayaan sihir uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinis banget! Mungkin itulah perasaan anda ketika membaca tulisan ini. Saya bukan memandang sinis kekuatan positif uang. Sebenarnya uang adalah pisau bermata dua. Bahkan sebuah lembaga sosial-keagamaan sekalipun tak bisa lepas dari kekuatan positif ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, dalam beberapa karya fenomenalnya DR. Muhammadil Ghazaly, penulis produktif Mesir, mengatakan “Siapa bilang uang hanya membawa petaka”, lebih lanjut Ghazaly memberi sampel bahwa uang telah, terus menjadi fenomena yang mengiringi perjalanan anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, uang telah menemani seseorang tertawa, sedih, menangis, bahkan mati. Sehingga terkadang kita lupa bahwa ia hanya salah satu alat untuk meraih kebahagiaan atau kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, beberapa hari ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mood&lt;/span&gt; saya sedang tidak yahud gara-gara uang. Saya yakin bukan hanya saya, mungkin juga anda. Kertas ini bahkan telah banyak ikut campur urusan pribadi kita. Ini benda apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Maret 2009&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-1071663004867895639?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/1071663004867895639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=1071663004867895639&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/1071663004867895639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/1071663004867895639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/03/uang.html' title='Peradaban Uang'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-3618155523283186690</id><published>2009-03-20T01:56:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T22:13:13.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Menyikapi Islam Radikal Dan Pengalaman Politik Turki</title><content type='html'>Menjelang pemilu April 2009 mendatang, kondisi perpolitikan tanah air semakin membara, pamflet-pamflet, papan-papan reklame, sampai kaos-kaos yang mengusung nama sebuah partai tertentu adalah rentetan hiruk pikuk pemilu. Mahasiswa-mahasiswi Mesir sebagai bagian dari komponen bangsa juga tak mau ketinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15-16 Maret 2009, PPMI bekerja sama dengan beberapa kelompok kajian, SASC dan Ghazalian Center mengadakan acara workshop yang diberi tema “Pemikiran Politik Islam Kontemporer” yang mengambil tempat di pesanggrahan KPMJB.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang pada hari pertama menghadirkan narasumber-narasumber Mesir dan hari kedua diisi oleh beberapa narasumber lokal ini, berlangsung meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Thabrani Basya, pegiat rumah budaya Akar yang sangat familiar, membuka acara tersebut dengan pembacaan puisi yang bertema “Pemilu”. Kemeriahan pemilu yang tak diimbangi dengan pendidikan politik yang memadai menjadi bidikan utama dalam puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Narasumber pertama menyampaikan makalahnya, seluruh anggota workshop melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Untuk makalah pertama yang mengacu pada isu-isu kelompok yang muncul dalam Islam, disampaikan oleh seorang pakar politik Timur-tengah sekaligus ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Mesir, Jend. DR. Husein Syarief Abdul Sami’. Beliau termasuk pengamat yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;concern&lt;/span&gt; mengkaji perkembangan pergerakan Islam, khususnya di Timur-tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berasumsi bahwa pergerakan Islam yang sempat vakum akibat runtuhnya Khilafah di Turki 1944 M bisa diidentifikasi kembali kemunculannya mulai 1970-an, di mana geliat keagamaan mulai terlihat di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi sosial misalnya, bisa kita saksikan dengan menjamurnya pembangunan Mesjid-mesjid, berdirinya Yayasan-yayasan keagamaan seperti Tahfidz Al-Qur’an sampai pemberian&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ifthar&lt;/span&gt; (buka puasa Cuma-cuma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari sisi pemerintahan dan birokrasi sudah mulai diselipkan hukum perundangan Islam, semisal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahwal Al-Syahksiyah&lt;/span&gt; (hukum perdata) perundangan keluarga sesuai syariat Islam. Hingga isu paling hangat masa itu: Islam adalah agama sekaligus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daulah&lt;/span&gt;, Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disayangkan memang, karena bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran keagamaan yang telah lama tenggelam ini, harus muncul beberapa pergerakan Islam yang tergolong radikal, dan kelompok ini tak bisa dibilang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika umat Islam tidak bisa membaca secara cermat kemunculan mereka, akan membawa malapetaka yang bisa mengancam eksistensi umat Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengambil sempel dari gerakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ikhwanul Muslimin&lt;/span&gt; (IM) di Mesir, meski telah banyak memberi sumbangsih terhadap kemajuan umat. Organisasi besutan Hasan Al-Banna ini telah melahirkan sempalan-sempalan yang sangat meracuni umat Islam. Semisal IM yang berada dibawah komando Syukri Musthafa, organisasi “haram” ini mendapat label abadi sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jamaat Al-Takfir&lt;/span&gt; (kelompok yang mudah mengkafirkan orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Syukri Musthafa “Siapa saja yang taklid maka dia kafir”, telah menjadi dogma bagi pengikutnya, sehingga mereka beranggapan bahwa siapapun yang taklid pada madzhab empat berarti halal darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, pria yang mengaku mendapatkan gelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;license&lt;/span&gt;-nya dari universitas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ain Syams &lt;/span&gt;Kairo&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;jurusan hukum ini banyak mengupas devinisi sampai corak dari masing-masing kelompok pergerakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa, beliau memberi solusi yang bisa dipakai guna meminimalisir pergerakan Islam garis keras. Dialog dan lobi masih menjadi solusi utama menurutnya, tak kalah penting adalah sosialisasi Islam yang ramah, humanis dan penuh toleransi harus menjadi prioritas utama setiap elemen umat, terutama para ulama’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak sanggup berbahasa Arab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fusha&lt;/span&gt; dengan baik, namun penyampaian beliau cukup memuaskan peserta workshop. Sebab acapkali beliau menanyakan, apakah penjelasannya sudah cukup dipaham? Bila tidak, beliau dengan senang hati akan mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah DR. Ahmad Shafsafi, pakar bahasa sekaligus kebudayaan Turki, menjadi pembicara kedua. Pria Mesir kelahiran 1940 yang pernah tinggal selama 5 tahun di Turki ini, memang khusus didatangkan Panitia sebagai pemakalah yang akan merunut peta keagamaan dan perpolitikan yang semakin memanas di Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti banyak disorot media internasional, Turki telah menjelma sebagai kekutan baru perpolitikan dunia, ia seperti menjadi ancaman bagi Barat namun juga harapan bagi Timur. Keberanian PM. Rajab T Erdogan, menunjuk A. Sharon sebagai gembong Teroris di muka umum, menjadikan popularitas negeri bekas khilafah Ottoman ini semakin bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shafsafi yang memulai makalahnya dari Dinasti Saljuk (1037 M) yang terbentang dari Anatolia hingga ke Punjab di belahan selatan asia sebagai cikal bakal sejarah Turki Islam, berargumen bahwa konstribusi bangsa Turki terhadap Islam sangatlah besar. Saljukiyah misalnya telah berjasa menjadi benteng kekuatan Islam di Barat dari serangan kaum Salibis. Dasar Negara Saljuk yang dibangun berdasarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tasamuh&lt;/span&gt; (toleransi) dan keadilan, membuat semua pemeluk agama hidup bersebelahan secara harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana juga Ottoman (Ustmani) telah menyumbangkan nyawa ribuan tentaranya dari gempuran tentara Salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika melihat rentetan sejarah sebelum terjadi revolusi modern Turki yang dipimpin Musthafa Kamal Attaturk. sebenarnya keislaman bangsa Turki termasuk matang dan mengakar. Tak heran, bila kemudian setelah bangsa Turki bersujud di bawah sistem sekuler, semangat keislaman mereka sama sekali tidak luntur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui gerakan bawah tanah kaum Sufi, masyarakat bisa tetap meneguk selaksa ajaran-ajaran Islam meski itu secara diam-diam. Aliran Naqsabandy yang terbanyak pengikutnya di Turki telah berhasil melestarikan agama dan berhasil mengeluarkan kader-kader pemimpin masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shafsafi menyimpulkan, bahwa konsep sekuler yang dianut warga Turki mempunyai pemahaman berbeda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Almaniyah&lt;/span&gt;, Sekularisme Turki bukan pemisahan agama dari kehidupan Masyarakat. Tapi, pemisahan agama dari kantor-kantor birokrasi, dan sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;Dengan target utama menghapus Bahasa Arab dan Al-Qur’an dari kehidupan warga, Sekularisme Turki bisa dibilang gagal total. Bahkan mereka semakin kehilangan simpati masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Badi Al-Zaman Sa’id Al-Nursi adalah tokoh paling berpengaruh dibalik pertahanan kaum Islamis, Al-Nursi adalah dalang di belakang gerakan Islam modern di Turki. Sejumlah pemimpin negara tersebut, mayoritasnya adalah Sarjana-sarjana yang pernah mengenyam pendidikan dari Madrasah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rasail Al-Nur&lt;/span&gt; yang kesohor itu, Termasuk Rajab Erdogan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah kelompok modernis Islam yang meyakini bahwa jargon-jargon keagamaan bukanlah prioritas utama untuk ditonjolkan. Sehingga tak heran, bila pemerintahan AKP (partai Keadilan dan Pembangunan) bisa duduk harmonis bersama kaum sekularis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh AKP menghindari sebisa mungkin terjadinya konflik dengan pihak Sekuler, mereka memilih memotivasi ritual-ritual keagamaan tanpa mengucapkannya di depan media. Semisal, para pejabat tersebut pergi bersama ke mesjid untuk sholat Jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan AKP memimpin perpolitikan di Turki dengan elegan, seakan telah menjadi sebuah tawaran baru bagi Negara-negara Islam lainnya. Sistem pemerintahan AKP dianggap sangat dinamis untuk dijadikan acuan dekade ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, mereka juga manusia yang tidak makshum dari kesalahan. Jadi, sudah semestinya kita kembali pada adigium yang mengatakan “Ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk” pesan Safsyafi diakhir makalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-3618155523283186690?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/3618155523283186690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=3618155523283186690&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3618155523283186690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3618155523283186690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/03/mesnyikapi-islam-radikal-dan-pengalaman.html' title='Menyikapi Islam Radikal Dan Pengalaman Politik Turki'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-5041753053986896082</id><published>2009-03-06T01:19:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T01:38:43.283-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Perempuan Terpasung Dalam Dekapan Century21</title><content type='html'>Rabu 4 Maret 2009, sebuah kantor berita yang bermarkas di Saudi Arabia menurunkan berita yang cukup menggelikan dengan tema "Empat Bulan Penjara Plus Jilid 40 Kali Terhadap Nenek 70 Tahun Asal Syria".&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri yang menjadi kiblat sholat bagi kaum muslimin di seluruh dunia karena letak Ka'bah yang tertanam di atas ubun-ubunnya, dan menjadi rujukan Sarjana-sarjana Barat dan Timur ketika mengambil sampel Negara Islam penganut madzhab Sunni. Inilah Negeri kaum borjuis modern, dengan kekayaan minyak yang melimpah ruah. Negeri yang dengan culas memandang sebelah mata tetangga-tetangganya yang kelaparan, dan membusungkan dada karena berhasil menjadi cukong abadi uwak Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah institusi keagamaan yang menyebut diri Panitia Amar Makruf Nahi Munkar telah melakukan dakwaan terhadap seorang nenek berumur 70 tahun berkebangsaan Syria. Nenek tersebut dijerat hukuman pidana 4 bulan plus 40 kali jilid (pukulan dengan rotan) sebelum dipulangkan ke negaranya, hanya karena ketahuan mendiami sebuah rumah bersama dua orang pria muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pria tersebut sempat melakukan pembelaan, dengan dalih; Pria pertama adalah anak susuannya dan kedua sebagai pengantar roti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;delevery&lt;/span&gt;. Namun akhirnya pembelaan ini ditolak karena tidak sanggup menghadirkan bukti dan saksi. Nenek 70 tahun itu akhirnya divonis bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Mahkamah Amar Makruf Nahi Munkar mau berfikir secara logis, apa yang bisa diperbuat nenek-nenek berumur 70an. Berbuat mesum?, terlalu naif menuduh dia berbuat begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi terhadap perempuan seperti ini sudah lumrah terjadi di Saudi. Perempuan-perempuan Saudi dipasung layaknya Iblis, tak ada seorangpun -selain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mahrom&lt;/span&gt;- yang boleh melihatnya meski itu hanya wajah dan tangan. Mereka tak mau tau dengan perdebatan yang terjadi di kalangan ulama (klasik maupun kontemporer) tentang hukum pemakaian Cadar bagi kaum hawa. Padahal perdebatan tersebut, sebenarnya memberi indikasi ketidak harusan bagi perempuan untuk memakai cadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Wahabi (para pengikut Muhamad Bin Abdul Wahab) yang mendominasi kebijakan-kebijakan keagamaan kerajaan Saudi, cenderung menarik perkara yang furu'iyah ke ushuliyah, sehingga tak jarang hukum islam yang mestinya mengusung anomali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Rahmatan lil Alamin"&lt;/span&gt; menjadi sebuah hukum yang kejam, keji, kaku dan menyeramkan di tangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di sebuah media dotkom, www.islamonline.com, menurunkan berita kontroversial, ada seorang perempuan bercadar menjadi pembaca berita di salah satu stasiun TV lokal Arab Saudi. Meski kejadian ini banyak mendapat kecaman, bahkan dari ulama Saudi sendiri, tapi tetap ditayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi dan pemasungan kreativitas kaum hawa serta sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di sana memang banyak luput dari sorotan media internasional. Hal ini dikeranakan kuatnya cengkraman keluarga Saud terhadap media lokal. Hampir semua media lokal tak diberi ruang sama sekali untuk mengkritisi sistem kebobrokan pemerintah, mereka hanya bisa memuji dan bergenit-genitan terhadap Raja. Bahkan Amerika, yang berteriak lantang terhadap pelanggaran HAM, tak berkutik di hadapan Saudi. Sebab Amerika dan negara maju lainnya mempunyai ketergantungan terhadap pasokan gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kasus di atas setidaknya membuka mata kita akan sebuah fenomena ketidakadilan yang diterima perempuan-perempuan muslim. Mereka tak ubahnya seperti burung dalam sangkar yang suatu waktu bisa dijual atau bahkan disembelih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana perempuan-perempuan muslim yang biasa menghadiri peperangan bersama Nabi dan Sahabat-sahabatnya, seperti diungkap dalam buku-buku sejarah. Mengapa di era modern ini masih ada yang menerapkan sistem Jahiliyah, sistem pembodohan massal terhadap perempuan?.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-5041753053986896082?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/5041753053986896082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=5041753053986896082&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/5041753053986896082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/5041753053986896082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/03/perempuan-terpasung-dalam-dekapan.html' title='Perempuan Terpasung Dalam Dekapan Century21'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-4239612576729103986</id><published>2009-02-22T05:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T05:42:35.763-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Ocehan Malam</title><content type='html'>Hari-hari menjemukan, setiap labirin yang kulalui selalu gelap tanpa cahaya, namun Aku yang menggendong sekantong mimpi tak pernah bergerak mundur. Beberapa losmen ilmiyah coba kutelusuri satu persatu, hanya peta dan data yang kudapat. Selanjutnya Aku tak pernah tau apa yang mesti kuperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang pengumpul data adalah penguasa abad ini, Aku tak lantas percaya.  Betapa banyak pengumpul data dipecundangi oleh penguasa dan harta.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat beberapa kali terhenti, mencoba menata ulang asa yang mulai retak karena erosi waktu. Ada semacam janji tak pasti menggelayut ringan di pelupuk mata, ia kemudian mengilhami hati yang mulai kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debur magma dari kedalaman ambisiku menggericik, membangunkan tiap penghuni nadi-nadiku. Ia kemudian menggelegar seakan mau memotong tiap persendianku. Kucoba berteriak, tapi malam itu benar-benar lengang, yang tersisa hanya jejak langkah para musafir sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesiap, mungkinkah Aku telah tertinggal bersama mimpi-mimpi ini?! Tak ada jawaban. Sesekali Aku meraung bak srigala lapar, menampar wajah bak Majnun Laila, menunduk lesu untuk kemudian terhempas dalam jerami kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampa, adalah penyesalan tak berujung bagi pengumpul data sepertiku. Aku semakin yakin akan titik zenith kelemahanku. Tak aneh bila seorang Socrates menelanjangi dirinya sambil ngoceh (gila) di pusat kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa orang yang telah menarik air liurnya, hanya karena telah dipecundangi mimpi dan ambisinya. Semakin kau kejar, ia akan semakin jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpuasan, telah menghantarkan Adolf Hitler ke ujung peluru bedilnya sendiri. Memalukan, Mao yang dielukan bak dewa telah mempertalikan rakyatnya sendiri dengan kelaparan yang terus mendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah kau permalukan mereka dengan puisi-puisi sufistikmu, sebab mereka akan menertawakanmu. Petuah bijak para filosof, bagi mereka tak lebih dari tontonan opera besutan Shakepearse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah hujan rahmatMu akan mengguyuri jiwa-jiwa kering ini. Hingga emosi tak lagi mendustai hati, dan lidah-lidah kotor itu kembali menyucikanMu dalam alunan Subhanallah…Walhamdulillah…Walailahaillah…Allohu Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;br /&gt;22 Pebruari 2009 M&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-4239612576729103986?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/4239612576729103986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=4239612576729103986&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/4239612576729103986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/4239612576729103986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/02/ocehan-malam.html' title='Ocehan Malam'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-9220212602337239718</id><published>2009-02-15T09:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T09:10:16.278-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Ikuti Kata Hati</title><content type='html'>"Ikuti kata hati", demikian biasa orang tua membisikiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyejukan, simpel, dan penuh makna. Tapi herannya sampai detik ini aku belum pernah puas dengan isensi pesan di atas. Ia seperti kata yang sangat bertuah, turun temurun dari seorang bijak ke orang bijak lainnya. Tak pelak sebuah hadist Nabi juga pernah menyinggungnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Istafti qalbaka&lt;/span&gt;, demikian sabdanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa interpretasi tokoh mencoba menjelaskan, semisal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imam Al-Ghazaly&lt;/span&gt;; hati mempunyai dua pemahaman, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pertama&lt;/span&gt;: daging yang berbentuk seperti daun terbelah (sanaubari) yang terdapat di dada sebelah kiri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kedua&lt;/span&gt;: perasaan halus yang bersifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rabbany ruhany&lt;/span&gt; mempunyai kaitan erat dengan yang pertama, perasaan inilah yang menjadi isensi manusia (sebab hati dalam artian yang pertama dipunyai juga oleh seekor hewan), hati dalam pengertian yang kedualah yang membedakan manusia, ia kemudian mampu mengetahui, memahami, dan bersikap.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita memahami kecenderungan Al-Ghazali yang tak mau menyebut otak sebagai perangkat dalam diri manusia yang membuat dia mampu mengetahui, memahami, dan bertindak. Hal ini tak lepas dari anggapan sang Imam bahwa otak tak lebih dari sekedar alat bagi manusia untuk bisa mendapat pemahaman yang kemudian di transformasikan ke hati. Jadi, sebenarnya hatilah yang memahami bukan otak. Kenyataan ini kabur dari pemahaman banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena sifatnya yang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; robbany &lt;/span&gt;(bersifat ketuhanan) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ruhany&lt;/span&gt; (bersifat halus seperti ruh) maka tak berlebihan bila Nabi dengan tegas menyatakan; tanyakan hatimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dewasa ini saya kemudian bertanya dalam hati, lantas kenapa ada segelintir orang yang dengan dalih mengikuti kata hati, nyata-nyata telah salah jalan. Sebut saja aliran-aliran sesat yang akhir-akhir ini banyak menghiasi pemberitaan di media. Ada semacam paradoks dalam kaitan ini yang mendesak adanya sebuah pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya pasti tak sederhana, sebelumnya harus kita pisahkan dulu makna hati, dan hawa nafsu. Sering kata hati dijadikan tumbal saat seseorang mengejar ambisi nafsu-emosinya. Bisikan hati acapkali dijadikan kambing hitam dalam upaya mewujudkan keinginan kotornya. Tak pelak orang cenderung berkilah saat dia salah dengan slogan entengnya "saya hanya mengikuti kata hati pak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konotasi hati yang memberi kita pengertian akan sebuah kemurnian, kebersihan, jauh dari kesan manipulasi, intimidasi dan distorsi, kerap menjadikan kita terpedaya dan tak sanggup memilah antara yang betul-betul kata hati atau emosi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian canggihnya makhluk ciptaan Allah yang satu ini, membuat kita sering merasa menjadi makhluk terlemah dan tak kuasa melawan diri. Hati telah mempermainkan manusia sedemikian rupa, sehingga tanpa dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;delivery&lt;/span&gt; sebelumnya, manusia bisa merasakan senang, sedih, kecewa, bahagia, marah, iba dan centeng-centengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan beberapa pakar filsafat dan tasawuf telah menuliskan karya-karyanya dalam berjilid-berjilid buku, hanya untuk mengungkap apa rahasia hati. Semisal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Ghazaly&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ihya Ulumudien&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Abu Thalib Al-Makky&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Qut Al-Qulubnya&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibnu Al-Jauzy&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Latha’if&lt;/span&gt; dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dipungkiri lagi, semua ini bermuara pada ungkapan seorang teragung di planet bumi dan tak pernah dikenal sebagai pembohong sejak masa kanak-kanak Muhammad SAW yang memberi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;statement&lt;/span&gt; dasar bahwa hati ada di antara dua telunjuk Tuhan. Tuhanlah yang membuatnya berubah-rubah, maka tak heran bila hati menjadi bagian terpenting manusia, bahkan ada prakata tak bisa disebut manusia bila tidak punya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo.&lt;br /&gt;15 Pebruari 2009 M&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-9220212602337239718?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/9220212602337239718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=9220212602337239718&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/9220212602337239718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/9220212602337239718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/02/ikuti-kata-hati.html' title='Ikuti Kata Hati'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-3164320463221566795</id><published>2009-01-29T00:50:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T00:58:08.377-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Sisa Perasan Otakku</title><content type='html'>Pagi ini langit di pinggiran kota Kairo hangat menyapa pori, teman sekamar sudah minggat belingsatan dikejar waktu term pertama usai. Al-azhar, sebuah nama yang mencoba  mengakrabi tiap generasi manusia meski tak pernah menjumpainya, corong risalahnya seakan menyeruak di setiap kerumunan manusia yang tenggelam dalam kecongkakan dunianya yang materialistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sisa kekuatan dalam diri kucoba membuka jendela, menghirup udara pagi. Jauh di ujung pertigaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saraya &lt;/span&gt;aku mencoba mencari-cari mangsa, menginspirasi diri yang terus meronta, sudah semingguan ini jiwaku menggelinjang, mengumpat tak tau malu. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang salah? Tak jelas. Ada sebuah sistem angkuh yang sulit aku tembus, ia seperti dilengkapi perangkat lunak dengan anti virus paling canggih, bahkan Mbah Google pun tak akan bisa mengaksesnya. Masa depan, begitulah sistem itu mencuri hati tiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang terkapar lesu dengan angan-angan tabu, berjibaku dalam ranai emosi penuh dentuman egoku. Serampangan bait-bait kematian sering menjejali mimpi-mimpiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini bisa saja mengharu biru, esoknya bau anyir darah menyesakkan rongga hidung. Kehidupan seenaknya saja menaikkan dan menurunkan voltase. Kemaren aku merasa seperti seorang raja dengan “jari telunjuk mukjizat” memerintah semauku, tapi pagi ini ia menelanjangiku menjadi seorang budak dina yang dilelang di jantung pasar loak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, tak biasanya aku dipertontonkan keajaiban ini. Selayaknya para Nabi yang mengemban wahyu, Aku tak tau diri mengemban malu. Iblis-iblis menertawaiku, mencoba menghibur dengan tiupan seruling khas dari negeri Jahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa Aku tak terhibur, bagiku Iblis-iblis itu hanya segerombolan kurcaci yang sepantasnya menghibur Putri Salju dalam negeri Dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupicingkan mata kearah jarum jam, 10:08 pagi. Sama dengan kemaren, bedanya kemaren Aku duduk manis di auditorium &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Dzahaby&lt;/span&gt;, memeras otak, melumat ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya  Aku belum maksimal dalam ujian kali ini”, tak ada jawaban. Selalu saja penyesalan yang datang terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keadilan Allah, sungguh mempesona. Ada semacam nilai ektas yang bisa dipetik dari tiap penyesalan. Buktikanlah, bukan hanya dengan mengumbar kata seperti politisi tapi dengan memasuki mimbar khalwat para Sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sudah cukup? Belum. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keep on fighting!!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Januari 2009&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-3164320463221566795?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/3164320463221566795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=3164320463221566795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3164320463221566795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3164320463221566795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/01/sisa-perasan-otakku.html' title='Sisa Perasan Otakku'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6578078200116303132</id><published>2009-01-22T02:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T01:29:55.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Translate'/><title type='text'>Fatwa Iblis ala-Negeri Zionis</title><content type='html'>Diterjemahkan dari www.alarabiya.net edisi:&lt;br /&gt;Sabtu 20 Muharram 1430 H-17 Januari 2009 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah keluar beberapa fatwa dari para Rabbi Yahudi sebagai bentuk pemberkatan bagi tentara zionis dalam agresi Israel ke Gaza pada 27 Desember silam, diantaranya berisi kebolehan bagi para tentara zionis membantai tanpa ampun warga Gaza meski itu anak kecil atau perempuan sebagai “hukuman” bagi mereka yang dianggap musuh. Bahkan seorang Rabbi mereka menegaskan “tidak ada masalah seandainya terpaksa membunuh sejuta atau lebih warga Gaza” pernyataan ini disiarkan oleh salah satu TV lokal Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi Mardicheu Ellychoe yang diklaim sebagai tokoh sentral dalam sekte agama Yahudi terbesar, menyurati PM Ehud Olmert dan sejumlah Jendral perangnya, dengan sepucuk surat singkat yang biasa disebar oleh Rabbi ini setiap hari sabtu di sejumlah Sinagog yang tersebar di Israel. Dalam surat singkat tersebut diungkap sebuah kisah fiktif Syaqiem bin Hamur yang dinukil dari perjanjian lama (Talmud) guna menjustifikasi setiap misi pembantaian massal terhadap siapa saja yang memusuhi kaum Israel.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kantor berita “Al-Watan” yang terbit di Saudi Arabia, Ellychoe sebagai mantan Rabbi tertinggi di kawasan timur Negeri haram ini bertutur “sesungguhnya gambaran ini bisa kita praktekkan di Gaza, di mana seluruh warganya tidak ada yang berupaya menghentikan roket-roket al-Kassam pejuang Hamas”. Bahkan secara terbuka dia menghimbau Olmert agar melanjutkan agresi “gila” ini sebagai tindakan legal dalam doktrin zionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ellychoe menambahkan bahwa mengorbankan seorang saja tentara Israel, guna menghindari rakyat sipil adalah tindakan bodoh tak termaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kantor berita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Heret&lt;/span&gt; dilansir beberapa fatwa para Rabbi yang tertulis “sudah seharusnya aturan-aturan yang termaktub dalam Talmud segera diperaktekan ke kelompok pinggiran Gaza”. Rabbi Yestrael Rozeen seorang kepala tertinggi perguruan Thoumess dan anggota majlis para Rabbi pernah memuat fatwanya di Koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Heret&lt;/span&gt; juga pada 26 Maret 2008 yang menginstruksikan penghapusan (penghabisan) bagi siapa saja yang mempunyai rasa dengki terhadap zionis (anti-semit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rozeen menambahkan bahwa dalam Talmud tertulis kebolehan membunuh laki-laki, anak-anak bahkan ibu-ibu yang masih menyusui serta para lansia sekalipun, seraya mengambil sempel kisah distorsi dalam Talmud yang mengungkap bahwa kaum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amaliqah&lt;/span&gt; (orang pinggiran) yang telah berlaku tidak adil pada kafilah yang dipimpin Moses ketika mereka dalam perjalanan menuju Jerussalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi agung dari kota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sofeed&lt;/span&gt; Shalomo Ellychoe menyatakan “jika tentara kita terbunuh seratus orang maka kita harus membalasnya dengan membunuh seribu orang, jika tentara kita yang terbunuh 1000 orang, maka tentara musuh harus mati 10 ribu orang, begitu seterusnya bahkan sampai sejuta orang sekalipun. Sebab dalam Talmud, Salomo melanjutkan, kami akan lanjutkan pengusiran terhadap musuh dan kami tidak akan berhenti sampai semua binasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepaket dengan fatwa iblis ini, adalah fatwa yang keluar dari ketua para Rabbi di kawasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dlaffa&lt;/span&gt; barat Dolf  Lyeer yang menginstruksikan pelenyapan terhadap warga-warga tak berdosa Gaza, di mana fatwa ini diperkuat oleh para Rabbi yang berada di kawasan pencaplokan al-Quds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan semua fatwa di atas adalah instruksi pemboman ke seluruh kawasan jalur Gaza, yang diprakarsai Rabbi agung dari partai keagamaan Syass, Govadia Josseff atas isyarat peluncuran roket-roket dari pesawat tempur. Tak hanya itu, pelenyapan kelompok Hamas berlaku bagi setiap anggotanya meski mereka berada dalam rumah atau tempat tidur sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu sebuah polling yang dilakukan di Unversitas Baar Ilune Israel menyatakan lebih dari 90% agamawan mereka, menganjurkan agar segala fatwa yang telah dikeluarkan oleh para Rabbi ini segera diperaktekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan senyawa juga keluar dari serdadu-serdadu yang dianggap taat beragama, bahwa apapun bentuk fatwa yang dikeluarkan para Rabbi dan disepakati oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenneset&lt;/span&gt; tak seorangpun berhak menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Januari 2009 M&lt;br /&gt;Tajammuk Khomis, New Cairo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6578078200116303132?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6578078200116303132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6578078200116303132&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6578078200116303132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6578078200116303132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/01/fatwa-iblis-ala-negeri-zionis.html' title='Fatwa Iblis ala-Negeri Zionis'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6014087671806299280</id><published>2009-01-07T01:05:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T01:20:14.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>Perempuan Perkasa Itu Kini Telah Tiada</title><content type='html'>Jam 4 Subuh perempuan paruh baya ini bangun dari peraduannya, dia kemudian bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu’ dan kemudian shalat Tahajud, Hajat dan lain-lainnya hingga Subuh menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Subuh dia segera  ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Langgar &lt;/span&gt;(Musholla atau Surau) yang berada  tepat di belakang rumahnya, dalam rangka menjadi Imam bagi para gadis-gadis kampung yang sudah menginap dari kemaren sore. Selepas Subuh perempuan berputera 3 ini (karena sebagian besar anak-anaknya meninggal semasa kanak-kanak) mengajar gadis-gadis kampung; mengaji al-Qur’an dan sorogan kitab-kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;turast&lt;/span&gt; yang sudah dihafalnya di luar kepala sejak kecil.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski beliau bukan tergolong orang yang hafal al-Qur’an tapi saat mengajar beliau sama sekali tidak memegangnya. Karena dari seringnya membaca sehingga menimbulkan kepekaan pendengaran dalam dirinya. Hal ini sama sekali tidak aneh, sebab tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun dalam keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengajar beliau pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sesekali pergi ke toko dulu untuk belanja keperluan dapur yang sudah habis. Beranjak siang beliau bercengkrama dengan salah seorang cucunya, atau menerima tamu atau bertamu untuk mempererat tali silaturrahim. Namun saat musim hujan tiba biasanya beliau menyempatkan diri ke sawah untuk membantu menyiapkan sarapan bagi warga yang membajak sawahnya dengan upah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekelumit potret tradisi kehidupan keluarga Nyai Sulatri (yang kemudian mengganti nama setelah haji dengan Hajjah Toyyibah). Sebuah keluarga yang patuh dalam beragama, dan menjadi tokoh-tokoh sentral masyarakat sekitar selama turun temurun. Hingga mereka mendapat gelar panggilan khusus di tengah komunitas warga Madura, untuk para bapak dari keturunan ini biasa dipanggil dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bhindere &lt;/span&gt;atau Kyai saat dipanggil ke atas podium, untuk anak mudanya di panggil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bhindere&lt;/span&gt; juga, meski sebagian anak sebaya mereka ada yang memanggil dengan ‘kakak’ atau ‘paman’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tradisi yang seakan membedakan kasta ini, sudah berlangsung lama dan mendarah daging dalam pergaulan warga, sebuah tradisi yang menjadikan sebagian warga enggan untuk sekedar membenarkan jika mereka salah, dan memberikan saran saat orang-orang terhormat ini kebingungan. Mereka adalah manusia-manusia kebal kritik bahkan terkadang hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bhe’ Lat&lt;/span&gt;, demikian biasa Saya memanggil perempuan paruh baya tersebut, (Bhe’) adalah potongan dari kata Obhe yang berarti kakak kandung perempuan dari salah satu orang tua kita, sedangkan (Lat) adalah penggalan nama Sulatri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dari tiga anak ini hidup sangat bersahaja, kesehariannya hanya diisi dengan menjadi ibu rumah tangga, dan mengajar gadis-gadis kampung dasar-dasar ilmu agama. Beliau memang tidak pernah mengenyam pendidikan SR (setingkat SD) pada masanya, mungkin karena orang tua beliau (kakek Saya) yang menjabat sebagai Kyai di kampung tersebut meyakini bahwa SR/SD itu sekolahan kafir. Jadi dampak nyata dari pendidikan Obhe, adalah saat beliau dikaruniai menantu gadis jawa asli, Obhe yang buta huruf latin mendapat kesulitan berkomunikasi dengan menantunya. sehingga putera beliau harus membantu menterjemah tiap kata-kata si menantu. Lucu bukan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau ditanya masalah agama yang berkenaan dengan ibadah beliau akan dengan lancar menjawab. Sebab hukum-hukum fiqih ibadah madzhab Syafii sudah dihafalnya diluar kepala sejak kecil secara talaqqi dari kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tipe Ibu yang sangat penyabar, menurut kesaksian Abah Saya, Obhe adalah orang yang tidak suka bicara banyak apalagi marah-marah. Obhe juga sangat sayang terhadap anak-anaknya dan sama sekali tidak pernah memaksakan kehendak, semua diserahkan pada si anak termasuk masa depan pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga meski beliau buta huruf latin tapi anak-anaknya menjadi orang-orang sukses dalam dunia pendidikan, Kak Tamhid (putera pertama) telah mendirikan pesantren khusus Tahfidz al-Qur’an, Kak Baihaqi (kedua) menjadi guru senior di salah satu pesantren terbesar di kota Bangkalan, dan Kak Abu Bakar (Bungsu) telah berhasil mendapatkan gelar Masternya dengan predikat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Summa Cumlude.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Saya orang tua semestinya  memperlakukan anak sesuai dengan ruang dan waktu tanpa dipaksa ataupun didekte. Sebab anak itu tumbuh di masa yang berbeda dengan masa orang tua, dan tentunya menuntut perlakuan yang tidak sama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk penggemar berat masakan Obhe terutama sambal kacangnya yang biasa Saya lahap setiap musim hujan tiba. Bila musim hujan tiba Saya sering menghabiskan waktu di tengah keluarga ini untuk sekedar mengobrol dan mencicipi sambal kacang plus lauk ikan Bandeng goreng. Wuih rasanya benar-benar nikmat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya masa-masa itu bisa kembali lagi. Namun tepat tanggal 02 Januari 2009 lalu Saya telah kehilangan perempuan perkasa ini, dia telah dipanggil oleh yang maha kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyebutnya perempuan perkasa sebab perempuan masa lalu telah banyak menelan pil pahit kehidupan namun mereka tetap menjalaninya dengan sabar sehingga anak-cucunyalah yang menikmati hasil kesabaran dan jerih payah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obhe hidup persis seperti masa Siti Nurbaya dulu, dia menikah dengan suami pertamanya atas perjodohan orang tua. Madzhab Syafii yang dianut masyarakat Islam Nusantara telah membentuk cara berfikir warga sedemikian rupa. Klimaksnya mereka mengklaim bahwa Madzhab ini sudah final dan inilah agama, tidak boleh ada yang mengutak –atik termasuk hukum memaksa seorang perawan bagi orang tuanya dalam hal perjodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini menjadikan kita jumud dan kaku bahkan terkesan mengenyampingkan Madzhab-madzhab lainnya karena dianggap salah. Meski jauh-jauh hari Imam Syafii sendiri sudah memperingatkan “bahwa jika ada Hadist Sahih maka itulah Madzhabku”. Dalam artian bahwa beliau sebagai Imam madzhab tidak pernah mengklaim dialah yang paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Obhe, Ibu saya  juga menjadi salah satu korban dari praktek fanatisme bermadzhab ini. Perjodohan yang didasarkan paksaan, telah menjerumuskan Ibu pada perceraian yang tak terlerai. Dan tentunya secara psikis Ibu telah mengalami penyiksaan batin yang selalu dia tangisi dalam tiap sujudnya. Saya sangat bersyukur pada Allah yang pada akhirnya menganugerahi Ibu seorang suami (Ayah tiri Saya) yang sangat bertanggung jawab. Mudah-mudahan dia menjadi pelabuhan terakhir Ibu sampai kakek nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika kita mau obyektif menilai, baik dari sisi nash-nash al-Qur’an maupun Hadist dan mau terbuka sedikit saja untuk menelisik melintasi madzhab Hanafi (salah satu madzhab yang empat), kita akan menemukan beberapa dalil kuat yang tidak memperbolehkan adanya praktek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wali majbur&lt;/span&gt; (paksaan orang tua terhadap anak gadisnya dalam menikah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat inilah yang kemudian ditarjih oleh ulama-ulama al-Azhar, bahkan Muhammadil Ghazali salah satu ulama Mesir yang sangat produktif menambahkan bahwa pendapat inilah yang paling mendekati maslahat, dan memberi kesan kelenturan syariat, serta lebih mudah dicerna oleh akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini Saya tulis sebagai bentuk apresiasi terhadap kedikdayaan perempuan-perempuan kampung yang telah mengorbankan hidupnya demi masyarakat. Merekalah perempuan-perempuan perkasa itu, bukan Ibu Megawati apalagi Margareth Theacher, semoga Allah membalas semua amal ibadahnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bhe Lat&lt;/span&gt;. Dan berkenan menempatkannya di sorga Firdaus, Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07 Januari 2009 M&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6014087671806299280?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6014087671806299280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6014087671806299280&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6014087671806299280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6014087671806299280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2009/01/perempuan-perkasa-itu-kini-telah-tiada.html' title='Perempuan Perkasa Itu Kini Telah Tiada'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6794077762196695790</id><published>2008-12-31T05:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T05:46:50.949-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Catatan Kacong Tentang Pilgub Jatim Di Madura</title><content type='html'>“Kurapan, kudisan”. Mungkin inilah kalimat yang tepat untuk saya teriakan, saat saya dipaksa menonton lakon manusia penuh (daya pikat) sekaligus (tipu daya). Seorang yang sanggup menghipnotis kemurnian rasku itu disebut Kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Mahkamah Konstitusi (MK) yang dikepalai Pak Mahfud MD memutuskan rekapitulasi ulang hasil Pilgub di Pamekasan, dan pemungutan dan penghitungan suara ulang di Bangkalan dan Sampang. Kasus ini secara tidak langsung telah menjadi semacam “borok” dalam benakku yang mendesak untuk segera saya tuangkan dalam artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengamatan panjang dan comot data sana-sini, akhirnya saya bisa sedikit menarik benang merah dari kasus “pelecehan warga” seperti keras diteriakkan aktivis Gerakan Madura Bersatu (GMB) Sampang atau sebuah LSM yang menyebut diri Lempar Bangkalan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana yang digelontorkan oleh Pemerintah Daerah terbuang percuma, dan memaksa mereka menggarus APBD untuk kedua kali hanya karena sebuah kecerobohan atau lebih tepatnya kecurangan oknum-oknum anti-jurdil (jujur dan adil) dalam Pilgub Jatim. Putusan kali ini MK menegaskan bahwa mereka telah menyiapkan sekitar 18,6 miliar untuk sekedar rekapitulasi ulang di Pamekasan, sementara untuk pemungutan dan penghitungan ulang di Bangkalan dan Sampang dibebankan kembali ke Pemeritah Daerah Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flashback&lt;/span&gt; sebentar dan mengeja ulang budaya warga Madura, kita akan sadar bahwa bagi warga Madura adanya Pemilu sama sekali tidak ada pengaruhnya. Hal ini didasarkan pada pola hidup dan pola pikir warga yang sangat sederhana dan apa adanya. Bagi warga mendapatkan pagi hari dengan secangkir kopi dan rokok di tangan, ditambah lagi dapur mengepul sudah cukup untuk menyebutnya pagi yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran bila musim Pemilu tiba, mereka seperti terganggu aktifitas sehari-harinya. Konsekwensinya budaya golput masih dominan bahkan pada Pilgub yang lalu golput mencapai 32% suara. Kalaupun ada yang perduli dengan Pemilu itu tidak lepas dari peran para Kyai yang dinobatkan sebagai para Nabi (makshum) bagi masyarakat Madura. Jadi tak mengherankan bila pada Pilgub jilid II ini ada beberapa oknum Kyai yang mencoba mengadu nasib menjadi tim sukses Kar-Sa atau Ka-Ji (sebagai empat pasang kandidat kuat calon Gubernur dan Wakil Gubernur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kabarnya sebuah fatwa yang diperkuat beberapa Ayat Al-Qur’an dan Hadist sudah disebar luas oleh salah seorang Kyai tersohor di Sampang, tepat saat perayaan pernikahan salah satu cucunya (www.inilah.com edisi 10-12-2008). Bagi Kyai yang doyan memperjual belikan suara umat (untuk lebih sopan tidak menyebut memperjual belikan agama), Pemilu menjadi lahan empuk untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik Saya dan sejumlah kawannya yang kebetulan ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(nyantri) &lt;/span&gt;di salah satu pesantren di Jawa Timur tak lepas dari manuver politik Kyai model ini. Dia sekarang diijinkan pulang ke Madura hanya untuk berkampanye sebagai kepanjangan tangan sang Kyai yang menjadi tim sukses salah satu pasangan calon Gubernur-Wagub. Saat saya konfirmasi tentang dana, dia menyebutkan bahwa pesantren mendanai penuh dari misi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bocoran seorang kawan yang aktif dalam Pilgub jilid II Bangkalan yang akan digelar 21 Januari 2009 mendatang. Dia menyatakan pada saya bahwa seorang Kyai di Bangkalan berani menjanjikan 50 ribuan perorang bagi siapa saja yang menyatakan siap memilih bos-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau bukan kekayaan kira-kira apalagi yang membuat beberapa oknum Kyai bertindak sedemikian bodoh. Memberi fatwa tentang bolehnya memilih calon pemimpin perempuan adalah bentuk “pembodohan” terhadap warga yang syarat sah dan batalnya shalat saja mereka tidak mengerti. Mengirim beberapa santri dalam upaya mensukseskan salah satu calon pemimpin adalah tindakan yang tidak dibenarkan, apalagi disertai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;money politic &lt;/span&gt;yang jelas-jelas melanggar aturan Pemerintah dan Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah pembodohan massal apalagi yang akan digunakan Kyai-kyai tersebut dengan otoritasnya. Warga Madura yang lugu dan awam seringkali menjadi obyek manuver politik para Kyai. Anehnya Kyai-kyai yang lain, yang semestinya menjadi contoh baik dalam upaya mencerdaskan bangsa malah diam atau ikut terlibat dalam permainan bola panas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya warga Madura sudah gerah dengan urusan politik yang nyata-nyata tidak memberi perubahan berarti bagi mereka, terbukti dengan meningkatnya golput dari tahun ketahun (www.kompas.com edisi 29/30-12-2008). Seandainya bukan karena takut “kwalat Kyai” mereka pasti lebih memilih untuk pergi ke sawah atau ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kharisma seorang Kyai di mata warga sangat dominan, seandainya kharisma tersebut digunakan sebagaimana mestinya untuk kemudian mereka (para Kyai) mau bersepakat. Maka dalam kurun waktu yang relatif singkat –saya yakin- kita bisa menyaksikan perubahan berarti  baik dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya politik telah membuat warga Madura terkotak-kotak, sehingga fanatisme buta banyak menimbulkan gejolak diantara warga. Figur-figur Kyai yang bisa menentramkan sekaligus mencerahkan adalah impian tiap warga Madura. Jangan salahkan warga bila suatu saat nanti figur Kyai akan tidak lagi mendapat tempat di hati warga. Tindak-tanduk mereka sangat menentukan di masa mendatang, kecerobohan sedikit saja bisa berpeluang menjadi luka mendalam dalam benak masyarakat Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;br /&gt;31 Desember 2008 M&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6794077762196695790?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6794077762196695790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6794077762196695790&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6794077762196695790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6794077762196695790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/12/catatan-kacong-tentang-pilgub-jatim-di.html' title='Catatan Kacong Tentang Pilgub Jatim Di Madura'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2858041973548810527</id><published>2008-12-30T11:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-30T11:18:26.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Salam Takdim Dari Pendurhakamu</title><content type='html'>Ibu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kegagalan itu menyapaku lagi&lt;br /&gt;Saat ruang jiwa terasa menghimpit&lt;br /&gt;Saat fajar bermuka masam&lt;br /&gt;Saat aku terjatuh dalam kusam masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pula engkau begitu dekat&lt;br /&gt;Begitu erat memeluk tubuhku yang remuk&lt;br /&gt;Begitu indah membangunkan pagiku&lt;br /&gt;Belaianmu adalah panca roba tak terputus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin aku mendurhakaimu&lt;br /&gt;Semakin dahsyat rinduku mendera&lt;br /&gt;Semakin aku membangkang&lt;br /&gt;Semakin dalam luka cintaku menyayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan apa keberadaanmu begitu mempesonaku&lt;br /&gt;Masih pantaskah aku maklumatkan pada dunia&lt;br /&gt;Kaulah salam takdim de' panjenengan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2858041973548810527?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2858041973548810527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2858041973548810527&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2858041973548810527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2858041973548810527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/12/salam-takdim-dari-pendurhakamu.html' title='Salam Takdim Dari Pendurhakamu'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-3429074771480605101</id><published>2008-12-06T00:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T06:48:36.979-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>Lahdzat Wada' Dan Eksotisme Ningsih</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lahdzat Wada’&lt;/span&gt;. Demikianlah judul film yang sering kami tonton hampir setiap jam 7 malam waktu Kairo, sebuah film yang mengambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting&lt;/span&gt; di kota Istambul Turki, bekas ibu kota Dinasti Ustmani. Bagiku tak ada yang istimewa dari film ini, sebab ceritanya datar dan lebih pas bila ditonton ibu-ibu rumah tangga, karena memang bercerita tentang kehidupan rumah tangga. Namun yang terpenting bagi kami (bertiga) adalah “kebersamaan”. Apalagi momennya memang sangat tepat, sebab salah seorang dari kami akan berangkat Haji untuk kemudian pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ningsih, demikian nama populer dari karib kami ini, lajang kelahiran pulau Madura ini sangat ramah meski wajahnya sangar (bercanda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broe!&lt;/span&gt;), sangat familiar di kalangan Masisir karena dia suka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;guyon&lt;/span&gt;, gak banyak tingkah karena memang tak pantas untuk bertingkah (sori Mam), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyebelin&lt;/span&gt; sekaligus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngangenin&lt;/span&gt; (cie kayak cewek aja, jangan PD dulu), cerdas namun sangat pemalas, selain diktat kuliah jangan harap bisa maksa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lanceng Madure&lt;/span&gt; ini&lt;div class="fullpost"&gt; untuk baca. Bahkan koranpun dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;emoh&lt;/span&gt; untuk membacanya, kalaupun ada isu menarik, paling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;banter&lt;/span&gt; dia hanya akan baca judulnya saja. Lantas darimana dia dapatkan pengetahuan? Ini dia yang unik dari tokoh kita yang satu ini. Dia biasa dapat tambahan bekal pengetahuan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngobrol&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nguping&lt;/span&gt;, dan diskusi ngalor-ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian bukan berarti dia tidak bisa diajak serius, di saat mendesak dia sering menjelma menjadi pria dewasa penuh karakter. Tak pelak, beberapa problem besar yang belum waktunya ditanggung anak seumuran dia bisa dia selesaikan dengan sangat tepat, teliti, cermat dan penuh tanggung jawab. Jadi tak berlebihan kalau Aku bilang “ini dia lelaki jantan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyelesaikan persoalan hidup, dia pernah bercerita bahwa dia berguru dengan kakak kelasnya di Universitas al-Azhar, dia kerap sekali menyebut nama pria ini (gara-gara gak punya cewek kalee) hiks. Terus terang saja, Imam sangat antipati mendekati perempuan yang bukan mahrom, selain memang dilarang agama tentu saja karena pernah ditolak (he he) kacian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu di Mesir Imam bisa masuk kategori mahasiswa yang rajin sholat berjemaah di Mesjid, sehingga dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saking&lt;/span&gt; seringnya dia bolak-balik ke Mesjid, dia banyak mendapat simpati warga sekitar, tak terkecuali para Syeikh (sebutan untuk seorang Imam mesjid). Bagi masyarakat Mesir sendiri Sholat berjamaah sudah menjadi standart shaleh dan tidaknya seorang mukmin. Jadi, selain bersikap sopan, rajin-rajinlah ke Mesjid, pasti kamu akan mendapat respon positif dari warga sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah fenomena mayoritas Negara-negara Islam yang (masih) memandang agama hanya ritual belaka. Sebagai catatan saja, Aku yakin dia bukanlah orang yang suka pamrih dalam beribadah selain ampunan dan pahala Allah tidak ada lagi yang dia harapkan, semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan Imam dengan warga sekiatar (baca: tetangga), bisa kita saksikan saat-saat terakhir Imam akan berangkat Haji, semua orang merasa kehilangan termasuk Aku. Bahkan dengan senang hati, ada dua orang Syeikh yang menyediakan mobilnya untuk mengantar Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berfikir “makhluk” (bosen nyebut namanya terus he he) yang satu ini juga sangat sederhana, karena dia dibesarkan di sebuah keluarga yang sederhana pula. Dia tidak neko-neko dalam menyikapi kehidupan. Baginya sudah cukup mengajar di pesantren (tempat dia dikaderkan) dan menjadi pengayom bagi warga sekitar. Maka tak heran jika pria berkulit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;celleng seddhe’ &lt;/span&gt;(sawo matang) ini sangat menggandrungi kajian fiqih. Dia sempat berucap bahwa suatu saat nanti dia mengimpikan warga Madura mau dan bisa mempelajari Madzahib Al-Arbaah (Madzhab empat dalam Fiqih), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;semoga Allah mewujudkan apa yang dia harapkan&lt;/span&gt;, amin. Sebab menurut dia, Fiqih Syafi’i saja tidak cukup untuk mencari solusi tepat dari problematika kekinian umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bukanlah tipe orang yang tertutup dengan isu-isu kontemporer, dia sangat responsif. Hanya saja terkadang dia terlalu cepat mengklaim dan menghukumi sesuatu yang belum jelas. Seperti layaknya watak mayoritas warga Madura. Teori fiqihisme yang mereka tekuni cenderung membikin mereka kaku dalam melegitimasi tiap orang yang berbeda pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada celah terang dalam diri Imam, dan Aku pikir warga Madura selayaknya mulai menyadari hal itu, dimana dia sudah mulai merasakan adanya kerancuan dalam beberapa praktek keagamaan masyarakat Madura. Semisal tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sungkem&lt;/span&gt; (mencium tangan Kyai dengan disertai pemberian uang) yang masih belum bisa dicabut dari kebiasaan warga. Menurut dia, tidak seharusnya warga memaksakan diri untuk bersalaman dengan uang, sebab mereka jelas lebih membutuhkan dari seorang Kyai yang terkadang memiliki mobil lebih dari satu, istri lebih dari satu, rumah mewah, dan umroh setiap tahun plus tour kelililng Timur-tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi, kebiasaan rokok dan merokok yang sudah tak dapat dipisahkan dengan umumnya mayoritas warga, adalah termasuk penyakit masyarakat yang perlu segera dibasmi. Bayangkan saja, seorang suami lebih memilih rokok walaupun dapur tidak mengepul. Imam menambahkan bahwa separuh dari daerah subur Pamekasan sudah ditanami tembakau. Padahal sudah jelas warga lebih membutuhkan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dia, kehidupan ala-kapitalis yang dilakoni para Kyai ini sudah selayaknya dilepas. Mengingat mereka adalah panutan dan pemimpin, tak benar bila mereka menimbun kekayaan sementara masyarakat sekitar kelaparan dan diperkosa oleh kemiskinan. Masih menurut Imam, tidak adanya peningkatan mutu dalam pendidikan di Pesantren adalah bukti ketidak seriusan para Kyai dan Ustadz menangani pendidikan. Hal ini menjadi semacam pembodohan massal, apalagi dibumbuhi doktrin-doktrin naïf Kyai, seperti sabda seorang Kyai “yang penting kamu taat terhadap Kyai, urusan Ilmu itu nomor tujuh belas” dan masih banyak lagi doktrin-doktrin “masa jahiliyah” yang mendesak untuk segera direvisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Aku boleh menambahkan, santri- menurut persepsi Aku- sejajar dengan budak di hadapan kyai. Bahkan sampai tujuh turunan, dia seperti dikutuk untuk menjadi budak (santri abadi) dan tidak akan naik levelnya menjadi ustad apalagi Kyai. Di Madura ada semacam ideologi aneh, yang meyakini bahwa benih seorang Kyai hanya akan melahirkan Lora (baca: Gus calon Kyai) meski keluar dari induk "wanita lacur", pun demikian sebaliknya. Realita pengkultusan semena-mena ini sudah bukan rahasia lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sistem aristokrat (kerajaan) yang pernah dikecam oleh Nabi, malah para Kyai yang mempraktekkannya. Apa karena ilmu yang mereka miliki? Bila memang ia, seharusnya mereka sadar bahwa ilmu tersebut sejatinya adalah titipan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa masih ada jurang pemisah yang sangat dalam antara Kyai dan masyarakat biasa, seperti layaknya Raja dan rakyat jelata? Bila kenyataannya mereka membaca ayat-ayat Allah. Bukankah tidak ada yang membedakan antara dia dan siapapun selain takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit “kalimat pengantar” dari kepergian sahabatku ini, semoga menjadi doa’ yang bisa memberinya kekuatan untuk menapaki jenjang hidup selanjutnya. Dengan harapan, kelak dia bisa maksimal menjadi abdi masyarakat bukan memperbudak masyarakat. Setiap salah dariku tolong maafkan, dan terimakasih karena sudah mengajariku banyak hal. Sampai jumpa di pulau Madura tercinta, salamku buat seluruh penghuni pulau (termasuk jin dan dedemitnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Nopember 2008&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-3429074771480605101?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/3429074771480605101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=3429074771480605101&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3429074771480605101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3429074771480605101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/12/lahdzat-wada-dan-eksotisme-ningsih.html' title='Lahdzat Wada&apos; Dan Eksotisme Ningsih'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2306860428962138511</id><published>2008-11-23T14:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T05:01:24.930-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telisik'/><title type='text'>Menelisik Arus Feminisme Di Tunis Dan Turki</title><content type='html'>Saat saya harus menulis tentang perempuan, maka yang terbayang dalam benak saya adalah sosok lemah tak berdaya dan selalu menjadi beban. Berbincang tentang problematika perempuan seakan tak pernah habis, selalu menarik untuk digosipkan layaknya dunia entertainment. Perempuan adalah salah satu komponen terciptanya sebuah tatanan kehidupan, perempuan adalah penyeimbang sebuah peradaban. Adalah kepincangan bila kaum hawa tak pernah dicipta, adalah kecacatan bila kita tak pernah membincangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi perempuan dalam kehidupan tak dapat diabaikan begitu saja, tanpa kaum hawa, lelaki hanya “seekor burung” yang satu sayapnya patah. Dialah simbol kehormatan keluarga, dialah madrasah pertama bagi tiap generasi sebuah bangsa.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tak pernah luput dari catatannya tentang kaum hawa, dari mulai sejarah Babilonia, Mesopotomia, Yunani, Persia, Romawi, hingga Islam, meski dengan porsi berbeda dan kapasitas yang tak sama. Tapi setidaknya catatan-catatan tadi bisa menjadi bukti adanya sebuah kepedulian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara epistemologi apresiasi terhadap perempuan ini mencapai kesempurnaannya pada era Islam, dalam kitab suci al-Qur’an secara massif terungkap adanya sekian ayat yang terang-terangan mengindikasikan bahwa posisi kaum hawa sangat urgen, mulai dari hal terkecil yang melingkupi perempuan hingga urusan pahala dan balasan di akhirat. Yang kesemuanya memberikan pemahaman tentang “kesetaraan hak” dengan pria, atau biasa disebut “gender” dalam istilah kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh apa yang dilegitimasi al-Qur’an merupakan sebuah sikap yang sangat prestisius. Sekedar meretas balik sejarah, bahwa pada masa pra-islam perempuan hanya terlanskap dalam seonggok daging pemuas nafsu, yang diperjual belikan di pasar Budak. Sebagian menilai perempuan itu lebih jahat dari iblis, bahkan sampai abad pertengahan, entitas perempuan masih diperdebatkan: apakah mereka layak untuk dikategorikan manusia atau tidak?, sungguh suatu penilaian yang sangat diskriminatif, dan tentunya menyedihkan bagi kaum hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi ajaran al-Qur’an terhadap eksistensi perempuan yang sedemikian tinggi ini, sedikit demi sedikit mulai melepuh dari para penganutnya, sehingga fakta sejarah seakan berbalik. Dulu Islam yang pernah disinyalir sebagai agama paling apresiatif terhadap kaum hawa, kini memudar seiring berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di masa Dinasti Ustmani tercatat, ada puluhan koleksi perempuan-perempuan muda para Kahalifah yang mereka klaim sebagai budak. Mereka disekap di ujung-ujung lorong istana, dan dikoleksi secara massal di kamar-kamar istana, sebagai penghibur sang Khalifah dan pejabat-pejabat istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah runtuhnya Dinasti Ustmani, bias-bias pelecehan ini masih terasa mencekik umat ini. Sehingga beberapa tokoh terpanggil untuk ikut andil dalam upaya mengembalikan perempuan pada posisi semula. Sebut saja Qasim Amin yang kemudian dipopulerkan sebagai bapak feminis modern, melalui karyanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tahrir al-Mar’ah”&lt;/span&gt;, Amin mencoba merefleksi kembali ide-ide pembebasan perempuan, yang dinilai pada masa itu terkekang kuat oleh kendali adat dan kultur, yang sejatinya bukanlah dari dogma-dogma al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semacam menjadi embrio bagi generasi penerusnya, ide-ide Qasim Amin hingga kini masih terus disegarkan oleh mereka yang menginginkan kesetaraan gender. Perlu dicatat bahwa dari para pejuang gender ini ada sebagian yang terkesan ugal-ugalan dan tanpa perhitungan tepat. Ada juga yang obyektif memperjuangkannya, meski tak menutup mata masih banyak juga yang apatis, hanya karena dianggap produk barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan gerakan kaum feminis semakin hari semakin menunjukan identitasnya, keberadaan mereka juga tak dapat dikesampingkan atau dilihat sebelah mata, tuntutan pro-egaliterianisme ini semakin menggurita di berbagai belahan dunia. Hal ini sungguh menjadi tonggak perkembangan positif yang mestinya kita sambut dengan kemeriahan. Meski disayangkan jika kemudian muncul spekulan kelompok pembela gender yang kehadirannya terasa asing bagi sebuah tradisi lokal dan terkesan menelan mentah tiap wacana feminisme yang datang dari Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah berita yang dimuat disalah satu Koran lokal yang terbit di Tunisia (sebuah kawasan afrika yang mayoritas penduduknya muslim) pada 16/11/2008 lalu, terjadi sebuah kasus (yang mestinya tidak perlu terjadi bila disikapi dengan arif), bahwa menurut keputusan perundang-undangan Republik Tunisia: seorang perempuan muslimah diwajibkan melepas hijab (baca: jilbab) ketika berada di sekolah maupun kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan ini menuai kritikan tajam dari berbagai kalangan, apalagi dengan alasan yang sama sekali tak logis, dimana pemerintah menilai bahwa tindakan ini adalah yang terbaik untuk mewujudkan sistem pemerintahan sekuler, seperti negara-negara eropa umumnya. Jilbab menurut asumsi sebagian anggota parlemen yang berkuasa tergolong pakaian yang bersifat "sekterian" dan dituding akan banyak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat Madani, lebih tragis lagi statemen yang keluar dari al-Hadi Muhanni pimpinan umum partai Demokrat (sebagai partai yang berkuasa): &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bila kita abaikan urusan Jilbab hari ini, maka jangan salah bila suatu saat nanti wanita-wanita kita akan dilarang bekerja, berpartisipasi dalam pemilu, atau bekerja di kantor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan menilai bahwa alas an-alasan diatas terkesan sangat mengada-ngada, bagaimana bisa rakyat Tunisia dipisahkan dari kebudayaan dan adat istiadatnya sendiri, hanya karena sebuah tujuan semu. Gejolak yang dikhawtirkan timbul juga tidak masuk akal. Mengapa? Penduduk Tunisia sudah hidup berdampingan selama berabad-abad, namun tak pernah terjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gap&lt;/span&gt; hanya karena sebuah perbedaan cara berpakain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sah-sah saja bagi pemerintah Tunisia untuk mendirikan Negara sekuler, sebab mereka adalah Negara yang berdaulat. Dan kita sama sekali tidak heran bila mereka demikian mengimpikannnya (Negara sekuler). Sebab  praktek sepaket sudah pernah dihadiahkan pemerintah Turki pada rakyatnya, sejak mereka mendeklarasikan diri sebagai Negara islam sekuler pertama, namun akhir dekade ini praktek sekuleristik di sana banyak mengalami kelesuan. Rakyat yang sudah sangat akrab dengan tradisi mereka akan sulit untuk dipisahkan, bahkan  Gorsal Teken selaku pemimpin partai Republik Turki (sebuah partai berideologi sekuler dan sempat berkuasa selama beberapa tahun, sebelum akhirnya Rajab Tayib Erdogan berhasil memenangkan pemilu pada 2004 silam ) memberi pernyataan mengejutkan akhir-akhir ini: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“sudah tidak masanya lagi kita melarang kaum wanita Turki untuk masuk kelas (sekolah atau kuliah) dengan melepas Jilbanya”&lt;/span&gt;, meski pernyataan ini dinilai oleh banyak kalangan memuat kepentingan politis, namun ini merupakan pernyataan mengejutkan sekaligus juga melegakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini disambut hangat oleh perempuan-perempuan Turki, sebab ini akan menjadi awal yang baik bagi pemerintah Turki mendatang dalam mewujudkan kebebasan berekpresi, sebagai negara yang majmuk. Negara Kamal Attaturk ini seakan menyadari pentingnya keterbukaan dalam menyikapi perbedaan, karena  keterbukaan adalah kunci terciptanya sebuah peradaban, yang dibangun atas dasar kasih sayang bukan dengan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kasus yang terjadi di Tunisia. Berawal dari selembar surat resmi yang dikeluarkan oleh Menteri urusan wanita dan keluarga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mis: Aqilah Bil Tayyib&lt;/span&gt; yang bernomor 752 tanggal 23 April 2008 yang ditujukan pada segenap Peminpin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Riyad al-Atfal&lt;/span&gt; (setingkat TK), yang berisi perintah resmi agar setiap murid perempuan meninggalkan jilbabnya di rumah dan dilarang memakainya di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup dengan surat perintah saja, akhirnya pemerintah membuat keputusan untuk membentuk badan khusus yang bertugas menangani (menggelandang) tiap perempuan yang melanggar peraturan tersebut ke kantor polisi terdekat, untuk kemudian dipaksa agar tidak mengulangi dengan perjanjian diatas materei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terekam dalam sebuah surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Sabil &lt;/span&gt;pada 2 Mei 2008 silam, tepatnya di kota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shafakis &lt;/span&gt;(kawasan utara tunis) selepas shalat jum'at, secara tiba-tiba dan serempak segerombolan orang berseragam resmi memaksa masuk ke sebuah perkumpulan perempuan di rumah Maryam Binti Munsif, dan memaksa sebagian mereka untuk segera ke kantor polisi terdekat. Diantara para perempuan ynag ditangkap adalah Hanan Sya'ban seorang mahasiswi fakultas Adab tingkat I, Funun Bakkar Mahasiswi Fakultas adab, Inas al-Jaluly mahasiswi jurusan Informatika dan bebrapa sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdalih bahwa tindakan ini adalah ralisasi dari peraturan pemerintah bernomor 108, yang secara resmi (meski sepihak) pernah disahkan oleh mantan presiden al-Habib Burqiyah. Karena mendapat banyak “kecaman” operasi ini sempat dihentikan. Namun pada 16 Nopember 2008 kemaren, operasi ini terulang kembali. Kali ini sasaran yang ditujukan adalah siswi-siswi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tsanawiyah&lt;/span&gt; (setingkat SMA) yang tidak diperbolehkan masuk gara-gara memakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya fenomena pemakaian jilbab sudah menjadi tradisi berabad-abad di Tunisia, ia seakan sudah menjadi pakaian tak terpisahkan dari warga Tunis. Kesaksian Aiman (24) seorang penyiar radio lokal ini, setidaknya cukup mewakili keseharian warga Tunis "saya memakai Jilbab modern dengan sangat nyaman di tempat kerja". Bahkan Kholil al-Zamity Sosiolog kenamaan menambahkan bahwa jilbab yang dipakai wanita Tunis selalu mengikuti perkembangan trend, jadi tak benar bila pemakaiannya menimbulkan gejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri luar negeri Tunisia adalah salah seorang yang getol menuntut penghapusan undang-undang kontroversial ini bertanya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bila pemerintah Tunis hendak memerangi model pakaian-pakaian yang datangnya dari peradaban bangsa lain, mengapa fokusnya hanya jilbab saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang asumsi yang berkembang sementara ini, jilbab dianggap pakaian yang paling dominan memberi ciri khas setiap muslimah, bahkan jilbab sudah menjadi standart bagi kesalehan wanita muslimah. Namun bila mau jujur, para &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Biarawati &lt;/span&gt;juga memakai pakaian yang mirip atau bahkan sama persis dengan pakaian seorang muslimah. Tapi kenyataannya mereka tetap melenggang dan melela dengan bebasnya di setiap tempat di negara-negara eropa sana, tanpa ada yang "sok centil" mengusik kebebasan berekpresi mereka. Toh dalam hal ini tak ada yang merugi atau dirugikan, kecuali bila hal tersebut, nyata-nyata menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkadang merasa bingung dengan sistem sekuler yang dianut Tunisia dan Turki, mengapa hanya gara-gara jilbab saja, berani menghalangi warganya dari pendidikan yang diyakini akan membawa pencerahan bagi generasi mendatang. Sementara di eropa dan Amerika dengan segala pernak-perniknya tak ada yang perduli dengan ciri khas sebuah pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan pakaian telah menjadi trend dari identitas negara maju, naïf rasanya bila kita menilai kemajuan sebuah Negara, hanya melalui pakaiannya yang begini dan begitu. Negara maju tak lebih karena sebuah sistem pendidikannya yang maju, sehingga berhasil melahirkan  generasi-generasi andal dan berkwalitas serta siap bersaing di kancah internasional. Saya kira tak ada yang mengatakan “enstein itu adalah orang hebat” karena pakaiannya gak pernah ganti, misalnya (hiks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jilbab menjadi pakaian favorit remaja dan ibu-ibu di Tunis, bukti ini dinyatakan sebuah lembaga independent yang bergelut dalam perkembangan trend mode yang sedang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; in&lt;/span&gt;. Adalah Naimah, seorang pedagang wanita, yang terpaksa berdagang jilbab di perbatasan Tunis-Libya mengungkapkan, bahwa omset penjualan jilbab sebenarnya sangat menguntungkan bagi para pedagang, namun operasi yang sempat dilakukan petugas memaksa mereka untuk berjualan ke perbatasan Libya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang merasuki otak " kaum Feminis"  Tunis sehingga bertindak demikian ceroboh, pemerintah yang mestinya menjamin kebebasan berekpresi setiap warganya malah mengoyak-ngoyaknya. Apakah arus feminisme eropa sedemikian dahsyatnya, sehingga membuat kaum feminis Tunis demikian terkesima hingga kemudian kehilangan identitas diri, dan secara membabi buta mau saja meniru pakaian wanita ala-eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meyakini sebuah ideologi tertentu sah-sah saja, namun memaksakannya pada orang lain, apalagi pada rakyat yang semestinya hak-haknya dihargai dan dihormati, sama sekali tak bisa dimengerti. Kesalahan menginterpretasi arus modernisme telah menyeret beberapa Negara islam pada pem"bebek"an terhadap barat. Klimaksnya segala sesuatu yang jadi standart adalah Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, kita semakin hari semakin kabur dengan identitas kita sendiri, terkadang dengan rela hati menjadi budak kaum imperialis modern. Simak saja perjuangan Turki yang mati-matian ingin menjadi anggota uni-eropa, segala upaya dilakukan pemerintah meski kenyataannya harus menanggalkan sementara komitmennya sebagai negara berdaulat. Tindakan ini juga banyak ditiru negara-negara berdaulat lainnya, yang selalu menempel di bawah ketiak imperialis Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terpilihnya Rajab Tayib Erdogan (pemimpin partai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hizb al-Adalah Wal Tanmiyah&lt;/span&gt;) dari partai berbasis Islam, seakan membawa semangat baru bagi warga Turki, apalagi sejumlah penganut sekuler sudah mulai melunak, dan sepakat untuk menghapus peraturan yang melarang perempuan Turki  ke sekolah dengan jilbab. Puncaknya pada 22/11/2008 lalu Pemerintah secara resmi mempersilahkan para siswi dan mahasiswi memakai kembali jilbabnya baik di kelas maupun kuliah (Aljazeera).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengamat politik Turki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibrahim&lt;/span&gt; menilai: bahwa penghapusan yang didukung oleh mayoritas anggota parlemen ini banyak muatan politiknya dari sekedar penyataan resmi publik, apalagi menyusul jebloknya perolehan suara  Partai Republik di pemilu 2004 silam. Namun, asumsi ini disangkal oleh penulis islam terkenal Turki Ahmad Haqan " saya sudah katakan bahwa Gornal Teken (pemimpin Partai Republik) memang berbeda, dia mempunyai karakter disiplin, dekat dengan orang-orang yang tidak mampu, dan menjalin hubungan khusus dengan tokoh-tokoh agama, dia tipe pemimpin yang sangat merakyat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari wacana di atas, sudah selayaknya Tunis belajar dari pengalaman di Turki, suatu kesalahan fatal bila beranggapan bahwa pemakain jilbab bisa menimbulkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gap&lt;/span&gt;, tak wajar  kiranya bila kita menilai kemajuan sebuah negara hanya dengan baju dan pakainnya. Berikan rakyat kebebasan berekpresi dengan norma yang sudah ada dalam adat mereka, kreatifitas generasi muda akan sangat menguntungkan negara di masa mendatang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;so&lt;/span&gt; jangan dihalang-halangi mereka dari pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Nopember 2008&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2306860428962138511?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2306860428962138511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2306860428962138511&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2306860428962138511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2306860428962138511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/11/menelisik-arus-feminisme-di-tunis-dan.html' title='Menelisik Arus Feminisme Di Tunis Dan Turki'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6048757521674813127</id><published>2008-11-16T22:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T01:31:13.293-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Renungan Masa Transisi Dari Siswa Menjelma Menjadi Mahasiswa Al-Azhar</title><content type='html'>Menang atau kalah bagi saya tak penting, tapi kebahagiaan adalah impian setiap orang, bila kemenangan memang menjanjikan kabahagiaan itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;why not?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sampai detik ini saya masih saja bertanya dalam hati, apakah tidak terlalu egois? Sebab ambisi untuk selalu menjadi pemenang, cenderung membuat orang lupa diri, dan yang paling disayangkan  apabila sudah menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang memang selalu dipuja, dielu-elukan. Tapi, yang kalah  juga banyak mendapat simpati  karena sikap patriotiknya. Kenapa tidak mencoba untuk mengalah? Toh simpati jauh lebih tulus dari sekedar pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah merasa menang dengan kehidupan ini, saya juga tak pernah ingat saya pernah menang. Jadi, bagi saya menang itu&lt;span style="font-style: italic;"&gt; gak ngaruh&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menang atau kalah hanya predikat, yang sewaktu-waktu bisa melekat pada siapapun, termasuk saya, dia, bahkan kamu. Berarti tak ada yang istimewa dengan predikat menang atau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh saya umpamakan seperti  lotre, yang tak mengenal setatus. Menang bisa membuat orang tertawa berjingkrak, kalah bisa bikin orang menangis, mengerang-erang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas setelah tertawa berjingkrak atau menangis sambil mengerang apa yang didapat? Ok, Kebahagian karena berhasil menjadi pemenang, atau kekecewaan karena kalah. Apa hebatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak faktor lain yang bisa membuat orang bahagia maupun kecewa. Bukan cuma dengan menjadi pemenang atau pecundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua predikat ini, sudah terlalu banyak menyita waktu (kita), mempermainkan (kita), menghentikan langkah (kita), bahkan terkadang mengubur (kita). Mengapa kita tak mau mencoba untuk tidak menoleh pada dua predikat yang nyatanya terus menempel pada tiap makhluk hidup baik disadari atau tidak. Terus berkarya dalam hidup jauh lebih berarti dari sekedar menang atau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, menjadi pemenang atau pecundang bukanlah tujuan, tapi itu hanya konsekwensi dari pencapaian kita, bukan tugas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Nopember 2008 M&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6048757521674813127?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6048757521674813127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6048757521674813127&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6048757521674813127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6048757521674813127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/11/renungan-masa-transisi-dari-siswa.html' title='Renungan Masa Transisi Dari Siswa Menjelma Menjadi Mahasiswa Al-Azhar'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6040235456509504286</id><published>2008-10-27T00:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T05:12:51.423-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Tragedi Ain Jalut; Kontribusi Seorang Budak (Sultan Qutuz), Terhadap Eksistensi Islam</title><content type='html'>Setiap kali Saya melewati sekumpulan orang Arab, baik itu di Yaman maupun Mesir, selalu saja ada yang nyeletuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ya Shini"&lt;/span&gt; (wahai orang China) atau kalau di Yaman mereka biasa memanggil kami (orang Asia) dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Shini balalah"&lt;/span&gt;, yang berkonotasi ejekan bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak ada yang aneh dari ungkapan-ungkapan diatas. Hanya dalam hati saya, kemudian timbul beberapa pertanyaan: apakah orang-orang ini (baca: Arab) memang sulit membedakan antara kami orang Indonesia, dengan orang China? Mereka seenaknya saja memukul rata, bahwa kami yang memiliki karakter wajah Asia, adalah China.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya juga berfikiran, atau bisa jadi motif dibalik asumsi yang beredar ini adalah explorasi besar-besaran negeri Tirai bambu tersebut dalam banyak bidang? Semisal dominasi pasar-pasar Timur tengah, yang berjubel dengan produk-produk China, maupun film-film Asia yang tengah bersaing ketat dengan Hollywood di industri perfilman Internasional. Sehingga wajah Indonesia seakan tenggelam, dan sama sekali tidak dikenal Dunia. Selain peringkat ketiga Negara terkorupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di saat Saya mengingat kembali sejarah, Saya langsung menepis anggapan dan asumsi tadi, bahwa tidak sesederhana itu. Yah, imajinasi Saya langsung terbayang saat pasukan Tar-tar membumi hanguskan Baghdad, dan meluluh lantakkan negeri pemasok peradan Islam terbesar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan hal ini yang melatar belakangi sentiment Arab terhadap China. Entahlah, yang pasti trauma dari tragedi menyakitkan ini akan terus terekam dalam benak tiap generasi Islam, terutama warga Arab yang mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan telak yang menembus jantung pertahanan pusat khilafah Islam kala itu, memang sangat mencederai kaum muslimin. Meski tidak sampai lumpuh total. Tapi, khazanah dan peradaban Islam yang sangat dibanggakan selama berabad-abad luluh lantak, manuskrip-manuskrip dari pencapaian pengetahuan Islam, berceceran disepanjang sungai Furat dan Dajlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Mesir sebagai Negara bagian khilafah tak bisa bertahan, musnahlah Islam. Mesir yang waktu itu di pimpin seorang Sultan dari dinasti Mamalik (Al-Mudloffar Qutuz), berhasil membuat tentara Tar-tar kalang kabut dan lari tunggang langgang, Pasukan-pasukan khusus Tar-tar yang terlatih di madan perang, tak sanggup menjalankan tugasnya sesuai harapan. Gagal, dan pulang dengan bersimbah darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekilas Tentang Dinasti Mamalik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamalik; dalam Bahasa Arab adalah bentuk plural (jamak) dari "Mamluk" yang mempunyai arti Budak. Mereka ini awalnya adalah tawanan perang para penguasa Mesir dari Dinasti Ayyubiyah. Yang kemudian dididik dan dilatih perang oleh penguasa Ayyubiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, pada masa Al-Malik Al-Shaleh (sultan terakhir Dinasti Ayyubi) para Budak yang terlatih ini dipercayai menangani tugas-tugas penting negara, dan mendapat hak-hak istimewa baik jabatan maupun material. Mereka umumnya berasal dari kawasan Kaukasus dan laut Kaspia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sultan Al-Malik Al-Shaleh meninggal (1249 M), dan kemudian digantikan anaknya Turansyah, para pejabat Mamalik merasa posisinya terancam, karena Sultan Turansyah muda secara terbuka lebih memihak suku Kurdi yang saat itu menjadi saingan politik Mamalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka (Mamalik) bersepakat untuk melakukan konfrontasi menghabisi nyawa Sultan. Diawaki dua jendral perangnya Aybak dan Baybars, mereka berhasil memenggal kepala Sultan pada (1250 M),kemudian secara sepihak mengangkat permaisuri Syajarat Dur sebagai Ratu. Selang tiga bulan sang Ratu kemudian diperistri oleh jendral Baybak, maka sejak saat itulah Dinasti Mamalik resmi dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Serigala Haus Darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang istimewa dari pemerintahan Dinasti Mamalik, selain catatan sejarah yang mengungkap kesuksesan "tragedi Ain Jalut", yaitu suatu lembah yang menjadi saksi patahnya sayap dominasi tentara Tar-tar untuk menjajah Negara-negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bengis, kejam, dan tak kenal ampun. Demikianlah sekilas potret Pasukan dari Mongolia ini. Setiap kota yang mereka singgahi akan menjadi abu. Mereka tak ubahnya adalah bangsa Bar-bar yang tak tau cara mengapresiasi sebuah peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula mereka memulai dari dataran China, kemudian sampai ke Khurasan, Hamdan, Qazwin, memanjang ke Moro, Nisabur, Harat, dan terakhir Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satupun dari Negara-negara bagian khilafah tersebut, yang sanggup melawan dan mempertahankan kekuasaannya. Semua bertekuk di hadapan bangsa Tar-tar. Sejumlah pengamat menilai bahwa hal itu terjadi karena kelemahan Militer, dan ekonomi, serta konflik internal umat Islam dalam perebutan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengenal Qutuz Salah Satu Sultan Mamalik Yang Berhasil Memukul Mundur Tentara Tar-tar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan sebagai budak yang dijual di pasar Damaskus, dia menghabiskan waktu mudanya di kota itu, dia terlihat cukup antusias membekali diri dengan ilmu agama dan kemiliteran. Sehingga kelak pemuda ini tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, dan bermental baja. Sesekali dia terlihat menghadiri majelis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Izz Ibnu Abdissalam&lt;/span&gt; Sultanul Ulama' (pemimpin ulama' kala itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran bila kemudian Qutuz muda, banyak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Al-Izz, untuk menyatukan umat Islam saat itu di bawah satu bedera, dan secara serempak mengusir tiap ancaman dan intervensi asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tragedi Ain Jalut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan diserahinya tugas sebagai wakil sultan di Mesir, Qutuz mendengar kabar bahwa Baghdad sebagi ibukota khilafah Abasiyah telah berhasil ditaklukan tentara Tar-tar. Dia kemudian bergegas untuk menyusun kekuatan politik dan militer menghadapi Tar-tar. Beberapa intelejen dikirim ke Baghdad untuk mengetahui seberapa besar kekuatan musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peran serta Al-Izz sebagai tokoh utama ulama' saat itu, Qutuz berhasil menghimpun kekuatan yang cukup tangguh untuk menghadapi gempuran Tar-tar, setiap pedagang dan orang kaya dipaksa untuk mengeluarkan harta bendanya, para pemuda diwajibkan mengangkat senjata, dan fatwa jihadpun mulai disiarkan ke seluruh pelosok negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemenangan atau mati syahid" demikianlah teriakan lantang pasukan Qutuz. Benalu di tengah kecamuk peperangan selalu saja ada dalam wujud pengkhianatan, warga Akka (salah satu kawasan Palestina) yang masih berada di bawah jajahan tentara Salib terbukti hendak berkhianat. Namun pengkhianatan ini tercium, dan berhasil diredam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di "Ain Jalut" kedua pasukan saling berhadapan, dan peperanganpun tak terelakkan. Pasukan Tar-tar yang melihat kuda-kuda jantan dihiasi pernak-pernik berharga, dan persediaan bekal lengkap di tengah tentara kaum muslimin, menjadi semakin bergairah untuk merampasnya. Sementara pasukan Qutuz dengan lantangnya berteriak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"wa Islamaah"&lt;/span&gt; (berjayalah Islam!), semakin melecut spirit mereka untuk menutup mulut besar pasukan Tar-tar dan segera mengakhiri krisis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan yang kokoh disertai semangat yang menyala-nyala terbukti tidak sia-sia, pasukan Islam berhasil mempermalukan Tar-tar, dan memaksa mereka menelan pil pahit kekalahan yang sebelumnya tak pernah mereka mimpikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang ini Sultan Qutuz sempat terjatuh dari kudanya. Tapi, dengan pertolongan Allah dia bisa bangkit lagi, dan tampil perkasa dangan tebasan pedangnya, yang berhasil memutus leher pimpinan perang pasukan Tar-tar (jendral Katab Ghu). Kemudian kepalanya diarak di jalanan kota Kairo, sebagai tanda perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Qutuz memangku jabatan setelah tragedi Ain Jalut tidak sampai satu tahun. Tapi, teriakannya di medan perang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"wa Islamaah"&lt;/span&gt; masih akan terus terngiang di telinga sejarah. Yel sederhana, namun terbukti sanggup melecut nadi si pengecut menjadi berani, dan si lemah menjadi kuat. Akan terpahat indah dalam buku-buku sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pasukan terlatih serta kaya pengalaman seperti Tar-tar bisa dibinasakan dan dikalahkan dengan sangat tragis. Keangkuhan dan kesombongan mereka, akhirnya teredam diam dan bisu ditelan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sekelumit tentang seorang budak di mata manusia, namun isensinya dialah tuan yang terhormat di hadapan Tuhan. Akhirnya sejarah selalu mencatat, bahwa Islam yang tidak mengenal ras, kasta, madzhab dan golongan akan (selalu) menjadi pemenang. Akankah kita umat Islam masa kini sudi melupakan perbedaan itu, untuk berdiri sejajar dibawah bendera &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Ilaha Illalloh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;History make man wise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Oktober 2008 M&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6040235456509504286?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6040235456509504286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6040235456509504286&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6040235456509504286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6040235456509504286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/10/tragedi-ain-jalut-kontribusi-seorang.html' title='Tragedi Ain Jalut; Kontribusi Seorang Budak (Sultan Qutuz), Terhadap Eksistensi Islam'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-2514417171749172539</id><published>2008-10-13T05:22:00.000-07:00</published><updated>2009-01-23T01:31:44.046-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Berani Hidup Nyata</title><content type='html'>Entah berapa kilo jauhnya lorong yang telah Aku susuri, dan berapa liku jalan kehidupan yang telah Aku lalui, Aku tak pernah sempat mencatatnya. Yang paling kumengerti adalah, saat Aku menulis catatan ini, Aku sadar, sedang berada di Negeri Kinanah (untuk lebih sopan, tdak menyebutnya Negeri para Fir'aun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam jati diri sempat Aku perankan, tanpa mengerti siapa Aku sebenarnya, yang pasti Aku hanya jadi aktor, yang dituntut bersikap karena tuntutan peran. Dari mulai menjadi seorang Sufi, Faqih, bahkan Filosof kacangan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali Aku juga terus membohongi diri, untuk sekedar terlihat 'suci' di hadapan orang lain, tak jarang Aku memaksakan kehendak diri dan orang sekitar (keluarga) agar tampak perfect di permukaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah ambil pusing dengan urusan orang lain, yang kutahu hanya 'ikut apa kata kyai/habib'. Bagiku merekalah penuntunku (untuk mengganti posisi Nabi), terkadang menjelang tidurpun Aku selalu berharap akan (bisa) berjumpa dengan para guru adikdaya ini untuk sekedar mendengar wejangan semu. Semua yang Aku baca hanya sebuah imajinasi di hadapan mareka, bagiku keputusan mereka adalah sabda yang tak mungkin di langgar apalagi dikritisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga berusaha untuk tampil santun, sopan, dan berakhlak mulya, meskipun hal tersebut hanya dibuat-buat. Petuah  para guru "awalnya budi pekerti itu dimulai dari berusaha (pura-pura) bersikap baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, Aku adalah mayat di hadapan para guruku. Inilah klimaks ajaran tasawuf yang pernah Aku terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga emoh mendengar kata 'doktrin',  yang kutau bahwa, setiap perkataan guruku adalah kebenaran mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiqih, menurutku (waktu itu) jauh lebih tinggi tarafnya dibanding displin ilmu lainnya. Sebab fiqihlah yang akan mentranformasi sah-batalnya ibadah kita. Jadi, taklid madzhab adalah keniscayaan. Apalagi di era yang penuh dengan materialistik, dan jaman yang semakin hedonis ini. Mustahil rasanya, untuk menemukan seorang ulama yang kapabel untuk berijtihad. Pandangan seperti ini menjadikanku kaku dalam menilai tiap orang yang berani beda madzhab denganku. Toleransi beragama yang ditawarkan barat, Aku anggap sebuah kebohongan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di Jakarta, Aku sempat habis-habisan mengkaji madzhab mutakallimin,  dengan spesialisasi Asya'irah (madzhab Imam Asy'ari, wafat pada 324 H/ 936 M), Aku sempat mengklaim aliran ini sangat sempurna dan tak akan ada orang yang bisa beradu argument dengan tokoh-tokohnya. Selama hampir tujuh bulan, aku menyelami lautan ini, hingga kemudian Aku berprinsip; memperdalam fiqih hanya buang umur, sebab dalam fiqih kita hanya tau perbedan pendapat, yang sejatinya adalah rahmat bagi umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang saat itu Aku telah menjadi  Filosof Kacangan yang intens bersentuhan dengan 'kulit' diskursus Filsafat. Sebab diakui atau tidak, hampir semua sekte dalam Islam sudah terakultrasi oleh peradaban Yunani.   Lebih tepatnya sih, Aku di sebut Asy'arian abies, dari mulai kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kifayatul Awam&lt;/span&gt; hingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arbain&lt;/span&gt;nya Ar-Razi pernah Aku lumat habis. Aku juga sempat mengisi beberapa majelis taklim untuk mengenalkan orang-orang pada  pemikiran-pemikiran madzhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan semua ayat (selain ayat ahkam) Aku 'larikan' tafsirannya ke dalam diskursus ketauhidan. Aku dengan lihai mempermainkan ayat-ayat Al-Qur'an untuk memperkokoh madzhab atau membabat habis Muktazilah, Jabariyah, dan Murjiah yang kebetulan menjadi lawan sengit Asya'iroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dalam konsep sifat Sama' dan Bashar, Aku membingungkan orang sekampung, saat itu Aku mencoba merefleksi 2 sifat ini dengan sangat mendetail. Tanpa  perduli, apakah penyampaianku  bisa diterima oleh orang kampung (yang otaknyapun kampungan) atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas sosial (saat itu) kabur bagiku, yang ada dalam benakku, adalah bagaimana menjadikan warga berfaham Asya'iroh dengan benar dan berlandaskan dalil. Sebab iman tanpa dalil, sama saja dengan orang buta, yang berjalan dengan bantuan tongkat. Kemungkinan terjatuh sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, taklid dalam keimanan, sangat membahayakan iman itu sendiri. Tapi disisi lain Aku tidak pernah bisa terima, jika ada orang berseberangan dengan madzhabku, meskipun hasil pencariannya  didasari dalil yang kokoh, bukan hasil taklid semata. Sehingga terjadi dualisme dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu membawaku melintasi benua nun jauh. Tiba-tiba saja aku telah berada di Negeri Ratu Bilqis sang permaisuri Nabi Sulaiman alaihissalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itulah Negeri Yaman, Negeri yang digadang-gadang sebagai negerinya para wali. Kecenderungan tasawuf yang pernah Aku gumuli semasa di pesantren, membuatku begitu berhasrat untuk bisa mengenal tokoh-tokoh sufi dari kawasan Hadramaut lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjatuhkan pilihan di kawasan Hudaidah-Yaman Selatan, mengapa? Sebab aku pikir sudah terlalu banyak pelajar Indeonesia di Hadramaut. Aku tidak suka bila nantinya akan sering ngumpul dengan komunitas tersebut. Bisa-bisa malah bahasa indonesiaku yang tambah lancar, padahal aku belajar di negeri Arab, aneh rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, cuaca  di Hudaidah yang tidak bersahabat membuatku lemas tak berdaya. Aku pun memastikan diri keluar dari Hudaidah. Sisa waktu visa, aku gunakan untuk menyusuri situs-situs sejarah Negeri Ratu Bilqis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat aku terpesona dengan kota tua jajahan dinasti Abbasi. Zabid, begitulah orang memberi nama, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Azzabidy &lt;/span&gt;, panggilan bagi warga kota tersebut. Konon sejumlah tokoh besar masa lalu sempat singgah, bahkan bermukim di sini, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Fairuz Abadi, Ibnu Al-Muqri, Syeikh Abdurrahman Addiba'i&lt;/span&gt; dan sederet nama yang tak asing lagi di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya Takdir membawaku ke Negeri Seribu Mesjid, pusat pemikiran Islam, dengan universitas tertuannya Al-Azhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malu-malu aku mencoba berkenalan dengan universitas yang telah membidani lahirnya ribuan ulama masa lalu sampai masa kini. Karya-karya mereka dikaji di seluruh pelosok negeri, dari timur ke barat. Atheis, Fundamentalis, Liberalis, Orientalis dan is-is lainnya, tak ada yang sanggup berpaling dari peran Azhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas tempat yang Aku sebut 'malu-malu' untuk bisa menjadi muridnya. Aku sangat berharap semoga Al-Azhar tidak pernah mencatat kehadiranku, tak pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir inilah, Aku bertekad hidup nyata, beriman dengan fakta, berfikir lebih terbuka, dan menjadi diri sendiri, tanpa intervensi, tanpa distorsi, tanpa basa-basi, apalagi ilusi. Pelajaran pertama, yang Aku terima adalah "tinggalkan asesoris madzhab, aliran, sekte dan golongan". Kedua jadikan Al-Qur'an prinsip hidupmu, bukan Tasawuf, bukan Fiqih, apalagi Tauhid. Semua harus berlutut di hadapan Al-Qur'an, jangan pernah lagi menginterpretasikan Al-Qur'an karena kepentingan. Ketiga ibadah sosial lebih penting daripada ibadah mahdhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (masih) (akan) (terus)  mencari. Dan terakhir bingkisan terima kasih, Aku hadiahkan bagi mereka yang telah mengisi lembaran-lembaran hidupku, terutama yang paling mempengaruhi perjalananku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku, Abah (tiriku), Abuya Habib Hasan Baharun, putra beliau Ustad Zein Baharun, Syeikh 'privatku' Abah wok (Habib Abdullah al-Attos), kyai Asmawi Tegal. Dr. Ali Hasan Al-Bahr (dosen UIN Jakarta), dan kepada semua ulama' Azhar, yang melalui karyanya telah menyadarkanku………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Azhar ijinkan Aku menghirup harum nafasmu, entah dari mereka (ulama) yang telah memenjarakanmu dalam kejumudan, ataukah mereka yang telah memberimu kesan Rasionalis-Liberalis atau bahkan dari orang yang telah kamu beri, label murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Oktober 2008 M/13 Syawal 1429 H&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-2514417171749172539?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/2514417171749172539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=2514417171749172539&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2514417171749172539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/2514417171749172539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/10/berani-hidup-nyata.html' title='Berani Hidup Nyata'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-643082032165471188</id><published>2008-10-08T06:06:00.000-07:00</published><updated>2009-01-19T05:03:45.597-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Bila Putra Dr. Yusuf Al-Qardlowy Memilih Madzhab Syiah?</title><content type='html'>Tak pernah kita pungkiri, bahwa konflik sekterian dalam islam adalah sesuatu yang harus dihindari dan diminimalisir sebisa mungkin. Kita juga harus selalu optimis untuk bisa  menciptakan kerukunan antara madzhab-madzhab Islam, tak terkecuali Sunni-Syiah, yang sudah berseteru berabad-abad lamanya. Maka adalah suatu keniscayaan  umat Islam saat ini, untuk kembali meneriakan yel-yel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Takrib Al-Madzahib&lt;/span&gt; secara bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik sengit antara Sunni-Syiah, yang hingga saat ini terus memanas, baik secara ideologi maupun pragmatis, adalah realitas umat, yang sudah seharusnya kita tanggapi secara serius. Bahkan “perang ideologi” ini sampai merambah dunia maya, dalam koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alarabiya.net&lt;/span&gt; edisi 29 Ramadan 1429/29 Oktober 2008 disebutkan, bahwa situs &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam.net &lt;/span&gt;yang didirikan oleh salah satu ulama Sunni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dr. Aidl Al-Qarni &lt;/span&gt;diserang hecker Syiah, para hecker sunnipun tak mau kalah, mereka menyerang balik, kali ini situs &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ayatulloh Ali ِِِِAl-Siyastani&lt;/span&gt; yang  jadi sasaran.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Irak dan Libanon, konflik berdarah terus menghiasi koran-koran Timur tengah, fanatisme yang membabi buta dari kedua pengikut Sunni-Syiah, seakan sudah menutupi nurani mereka bahwa Tuhan mereka satu, Kiblat mereka satu, dan Nabi merekapun satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disayangkan, bila kemudian ada seorang ulama sekaliber &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dr.Yusuf Al-Qardlowy&lt;/span&gt;, yang digadang-gadang sebagai ulama Sunni paling kharismatik abad ini, malah melontarkan opini (terkesan) provokatif, justru pada saat kaum muslimin mendambakan figur-figur pencerah dan penyejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alarabiya.net&lt;/span&gt;, edisi 25 Ramadlan 1429/25 September 2008, Qardlowy mengingatkan kaum Sunni agar mewaspadai berbagai propaganda kaum Syiah, untuk “men-syiahkan” pengikut Sunni. Terutama Negara-negara kawasan Afrika, seperti Mesir, Sudan, Maroko, Aljazair, dan Nigeria. Beliau menambahkan bahwa Iran (sebagai negara berbazis Syiah) sangat berambisi untuk mendirikan kembali kekaisaran Persia yang dibalut dengan faham Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fakta coba beliau gelindingkan ke permukaan, seperti tertangkap jelas dalam pernyataannya, “saya mengenal Mesir layaknya mengenal diri sendiri, sejak masa Dinasti Ayyubi hingga 20 tahun silam tidak pernah saya temukan seorangpun yang menganut Syiah. Namun dekade ini suara mereka mulai diperhitungkan oleh publik, artikel-artikel yang berbau Syiah sudah mulai banyak dimuat media-media Mesir, bahkan beberapa kitab telah terbit di sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ketua Majlis ulama sedunia ini, kemudian direspon oleh beberapa tokoh Syiah Libanon, sebut saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syeikh Ali Al-Kurani&lt;/span&gt;, yang memberi pernyataan resmi di situs pribadinya, bahwa itu adalah salah satu bentuk sentimen Qordlowy terhadap anaknya (Abdurrahman bin Yusuf) yang telah berpindah madzhab, dari Sunni ke Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Mahir Hamud Imam Mesjid Al-Quds Libanon, menjustifikasikan penyataan Al-Kurani seraya menunjuk salah satu koran lokal yang terbit di Libanon, dan di Qatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini memantik kritik dari tokoh Syiah Mesir, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syeikh Muhamad Al-Duraini&lt;/span&gt; yang terkenal toleran, “seandainya Abdurrahman (anak Yusuf Al-Qardlowy) telah pindah madzhab, pasti saya mengetahuinya, sebab saya kenal dekat dengan sastrawan muda ini.” Ungkapnya. Al-Duraini menduga bahwa klaim tokoh-tokoh Syiah Libanon, tak lepas dari beberapa bait puisi yang digubah Abdurrahman, sebagai apresiasinya terhadap Hizbullah dan pemimpin heroiknya Sayid Hasan Nasrullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus di atas, tidak serta merta, kita bisa memplot tokoh Sunni (Qardlowy) sebagai sosok yang anti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Taqrib al Madzahib”&lt;/span&gt;, beliau dikenal getol mendedikasikan diri  dalam tiap upaya wahdatul ummah (persatuan umat), tak terkecuali Sunni-Syiah. Bagi beliau, proyek Taqrib Al-Madzahib adalah suatu keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Namun ada beberapa poin yang sangat mencolok dari sekte Syiah, yang tak mungkin didialogkan, daiantaranya; penistaan mereka terhadap beberapa figur sahabat Nabi, bagaimanapun sahabat adalah sosok-sosok yang tidak bisa dipungkiri distribusinya terhadap Islam. Jadi, penistaan terhadap mereka, sama saja dengan penistaan terhadap agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi sikap Qardlawy terhadap Syiah yang terkesan provokatif, pimpinan umum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ikhwanul Muslimin&lt;/span&gt; (IM) Mesir, Muhamad Mahdi Akif mengklarifikasi, bahwa IM dan Qardlawy sependapat mengenai upaya Takribul madzahib. Namun IM secara tegas menolak, bila perselisihan Sunni-Syiah dikatagorikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ikhtilaf Fiqhi &lt;/span&gt;(perselisihan agama), karena menurut dia, perselisihan ini lebih tepatnya adalah  konflik politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, wajar bila Qardlawy sebagai anggota penasehat IM, merasa harus bersikap waspada akan dominasi Syiah di timur tengah, yang akhir-akhir ini banyak disorot media dan mendapat simpati dari masyarakat kawasan teluk dan sekitarnya. Apalagi sikap presidan Ahmadinejad yang berani tampil gagah menentang kebijakan-kebijakan naïf Amerika ‘sebagai polisi Dunia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Qardlowy ini, menurut banyak kalangan, memang dianggap terlalu membesar-besarkan masalah, dan over scaring yang tidak selayaknya terjadi pada seorang tokoh sekelas Qardlowy. Meski dari satu sisi, ulama Sunni tidak boleh bersikap apriori terhadap hegemoni Syiah Iran, bila memang dominasi itu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, umat islam harus cerdas menyikapi tiap perbedaan yang telah, akan ada. Keanekaragaman madzhab dan perselisihan pendapat, selayaknya kita anggap sebagai varian kekayaan khazanah islam, bukan malah dianggap momok yang mengancam stabilitas persatuan umat. Menghargai pendapat orang lain, selama tidak ada unsur SARA, adalah cermin mukmin sejati. Sebab perbedaan itu timbul dari tabiat, dan sifat alamiyah yang Allah anugerahkan pada tiap manusia. Tak ada yang bisa merubah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;likulli ra’sin ra’yun&lt;/span&gt; (dalam tiap kepala, ada pendapat masing-masing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08 Oktober 2008 M / 08 Syawal 1429 H&lt;br /&gt;Tajamuk Khomis, New Cairo, Egypt&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-643082032165471188?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/643082032165471188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=643082032165471188&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/643082032165471188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/643082032165471188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/10/bila-putra-dr-yusuf-al-qardlowy-memilih.html' title='Bila Putra Dr. Yusuf Al-Qardlowy Memilih Madzhab Syiah?'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-1300468196108963073</id><published>2008-09-30T11:59:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T03:02:10.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Sunnatullah (Hukum Alam); Skenario Tuhan yang Tergilas Ideologi Kaum Fatalis</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas Arsy” (Al-A’raf 54&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak ayat, Al-Qur’an selalu menyitir akan pentingnya “proses”, atau lebih kita kenal dengan “hukum alam” dalam mewujudkan impian dan tujuan, sebagaimana termaktub dalam surat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-A’raf 54, surat Fusshilat 9-11&lt;/span&gt; dll. Dimana Allah menciptakan Alam ini dalam waktu 6 hari, dan menyempurnakan isinya dalam waktu 4 hari. Padahal Allah mampu menciptakannya dalam sekejap, tapi Dia (dengan segala keadilanNya) ingin memberi kita pelajaran tentang pentingnya sebuah proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam penciptaan Adam, mula-mula diciptakan dari tanah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;turaab)&lt;/span&gt; yang dicampur air (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma’&lt;/span&gt;) menjadi lumpur, kemudian menghitam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hama’)&lt;/span&gt; dan mengeras &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(masnuun)&lt;/span&gt; tanpa dibakar, dan terakhir mengering&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (sholsol)&lt;/span&gt; saat itulah ditiup ruh dalam diri Adam.&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat ini ayat-ayat tersebut seakan hanya menjadi hiasan saja tanpa ada yang meyadari perannya. Ayat yang diturunkan sebagai aturan, pedoman, dan petunjuk untuk kita kaum muslimin. Malah diperaktekan mereka (non-Muslim) dengan sangat giat dan teliti sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Jerman yang mengalami kekalahan telak dari Perancis dan Inggris pada perang dunia II, bisa bangkit kembali dalam waktu kurang dari 60 tahun. Bahkan ekonomi Jerman melebihi 2 negara yang pernah menaklukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang yang pada Agustus tahun 1945 mengalami pengalaman pahit di dua kota terbesarnya Hirosima dan Nagasaki, akibat jatuhnya bom nuklir Amerika yang menewaskan hampir seluruh warga kota, hewan dan pepohonan. Bahkan seorang penulis menggambarkan bahwa saat itu "dunia seakan sudah kiamat dan tidak akan ada kebangkitan". Tapi, dengan semangat dan kesadaran akan pentingnya proses bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja, Jepang berhasil bagkit. Bahkan Jepang berhasil memposisikan diri masuk dalam deretan negara-negara terkaya di dunia dengan devisa 27.000 dolar dalam setahun bagi tiap warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita umat islam masih saja rela tenggelam ria dalam gelapnya aturan penjajah, seakan tidak pernah mendapatkan pencerahan Al-Qur’an dan tidak pernah sadar bahwa kita pernah mempunyai catatan peradaban yang mendunia dari semua sisi; politik, ekonomi, militer, pendidikan dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan kita akan menangisi kekalahan dan  belajar dari pengalaman masa lalu?! Saya teringat salah satu bait syair Kahlil Gibran bahwa ; manusia ada dua, pertama tidur dibawah sinar terang, kedua bangun di dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama tepat sekali menggambarkan umat islam yang tidak sadar akan pencerahan Al-Qur’an, dan yang kedua adalah non-Muslim yang selalu bekerja keras meski dalam gelap tanpa sinar apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita secara tidak langsung mungkin berdecak kagum menyaksikan kesuksesan negara-negara tersebut di atas, padahal jauh sebelum mereka, kita (umat islam) pernah menorehkankannya dalam sejarah. Bila kegemilangan Amerika, Eropa dan negara-negara maju lainnya yang secara birokrasi, mereka independen dan bukan dipimpin seorang pemimpin saja, maka anda sepatutnya jauh lebih heran menyaksikan kegemilangan islam. Sebab di bawah satu pemimpin (khalifah), islam sanggup menyejahterakan wilayah kekuasaannya yang meluas sepanjang China di timur dan Andalusia di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekali lagi kebangkitan, kesuksekan, dan kegemilangan tidak segampang membalikan telapak tangan, dan tidak semudah pesulap dengan sim-salabimnya. Tapi, semuanya butuh proses.Tak cukup bermodal menunggu dan menghayal, atau yang kerap kita (islam) ucapkan sebagai tindakan defensif “kita tunggu saja Imam Mahdi keluar”. Suatu ungkapan yang salah dalam memahami agama, ibarat pemalas yang sedang menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat salah satu kitab turast yang menjadi diktat kami saat di pesantren, salah satu kitab yang menerangkan Ilmu Kalam, karya al Imam al Bajury yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tuhfatul Muriid Syarh Jauharat Tauhid"&lt;/span&gt;; dalam kitab tersebut diungkap, bahwa pernah ada dialog antara seorang murid dengan gurunya, murid tersebut menanyakan “apakah kekalahan Baghdad dari tentara Tar-tar adalah takdir Tuhan?” maka sang guru menjawab dengan lugasnya “ia”. Sebuah jawaban yang saya pikir terlalu pasrah, seakan kita sebagai manusia di hadapan takdir Tuhan, hanya sepotong kapas yang diterbangkan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah baiknya, bila sang guru mejelaskan faktor kekalahan tersebut secara historis. Bukan malah berpangku tangan menyerahkannya pada takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sayangkan memang, mengapa di era yang menuntut kegigihan, keuletan, dan ketelatenan dalam persaingan antara bangsa. Justru umat ini malah dicengkram kuat oleh ideologi Fatalisme (Jabariah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyerah pada takdir sama saja menyalahkan takdir itu sendiri, bahkan dengan tidak disengaja ia telah menyalahi ratusan Ayat dalam Al-Qur’an, yang menyeru akan pentingnya kerja keras, anti-putus asa, selalu berpikir positif, dengan memupuk kwalitas mental serta mengembangkan SDM-SDA nya .&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-1300468196108963073?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/1300468196108963073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=1300468196108963073&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/1300468196108963073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/1300468196108963073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/09/sunnatullah-hukum-alam-skenario-tuhan.html' title='Sunnatullah (Hukum Alam); Skenario Tuhan yang Tergilas Ideologi Kaum Fatalis'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-5835102148196488766</id><published>2008-09-30T10:46:00.000-07:00</published><updated>2009-01-19T05:05:06.237-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Potret'/><title type='text'>Jagung Bakar</title><content type='html'>Saat  saya membaca salah satu buku terbitan mizan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tears of Heaven from Beirut to Jerussalem”&lt;/span&gt;, tanpa sengaja saya dihantar untuk mengingat kembali ke kampung halaman. Salah satu daerah gersang kepulauan Madura tepatnya di Kabupaten Bangkalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti daerah lainnya, kampung saya termasuk kampung yang kurang beruntung. Mengapa? Dengan komposisi musim kemarau sangat panjang sekitar 7 bulan, pertanian di kampung saya bisa dikatakan tidak ada. Apalagi  curah hujan yang ditunggu hanya berlangsung 2-3 bulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan, warga hanya bisa menanam jagung sekali dalam setahun. Namun &lt;div class="fullpost"&gt; meski hanya sekali panen, warga – termasuk saya – sangat menikmatinya, sebab kwalitas jagung yang dipanen, sangat istimewa dengan rasa manis khas jagung Madura, yang tak jarang  membuat saya dan beberapa saudara yang kebetulan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyantri &lt;/span&gt;(belajar di pesantren) diluar kota, ingin pulang untuk sekedar menikmati jagung bakar hasil panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya curah hujan yang jarang menyapa kampung jika musim kemarau. Tapi, sumber air di sumur-sumur warga juga akan ikut surut. Sehingga pada puncak musim kemarau warga terpaksa harus menempuh jarak 2 km dengan berjalan kaki, sekedar untuk bisa mandi, mencuci baju dsb, di aliran sungai terdekat, yang airnya sudah berwarna kecokelatan karena banyaknya orang yang mempergunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa minum air bersih pakde saya (KH. Turmudzi) biasa menelepon sopir mobil tangki pengangkut air bersih 3 hari sekali, yang kemudian airnya disimpan di penampungan air, berukuran 3 meter kedalam tanah dan tinggi ½ meter diatas permukaan tanah. Kemudian air tersebut beliau jual eceran pada warga, karena untuk bisa membeli air 1 mobil tangki bagi setiap keluarga jelas sangat memberatkan, apalagi tarif air yang cenderung naik 3 kali lipat di musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi warga yang mayoritas kerja serabutan,alias tidak punya pekerjaan tetap, bila musim kemarau tiba, otomatis sangat menyulitkan mereka karena beban belanja keluarga secara tidak langsung bertambah. Untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan, ditambah harus beli air bersih untuk minum. Jadi, bagi kepala keluarga yang memang tidak punya uang untuk membelinya mereka memilih mengambilnya dari sumber mata air yang jaraknya lebih 3 km dari kampung kami. Biasanya mereka memikul air tersebut dalam blek bermuatan 25 kg, tidak hanya bapak-bapak dan ibu-ibu, bahkan para remaja dan gadis desa juga berlomba seakan tidak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali saya melihat mereka berhenti di bawah pohon rindang, untuk melepas lelah sambil bercanda seperlunya, itung-itung buat berlindung sebentar dari terik matahari, yang panasnya bisa mencapai 32 oC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat  pedesaan saling gojlok antar teman adalah siasat jitu untuk sejenak melupakan beratnya hidup. Merekalah sebenarnya para pejuang-pejuang era modern yang tidak kenal lelah, tagguh dan tidak pernah mengeluh serta terus berjalan meski pahitnya hidup harus mereka jalani; ini adalah sekian sifat yang tidak ditemukan pada masyarakat perkotaan, yang notabene  tinggal di balik bangunan megah dan kokoh, namun berjiwa rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga pedesaan adalah pekerja keras bukan pemalas. Tapi ingat, mereka bukan budak keserakahan. Yang mereka inginkan sederhana saja (anak-anak bisa sekolah dan dapur tetap mengepul). Jelas dan tidak berbelit-belit.Saya yakin kok, kita masih punya pemimpin yang loyal dan peduli dengan nasib rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini saya maksudkan, supaya pembaca ikut prihatin dengan realitas kemanusiaan, yang terkadang tak terjamah, terabaikan, atau lebih pasnya, lolos dari sorotan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 april 2008 M&lt;br /&gt;Tagamuk Khomis, New Cairo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-5835102148196488766?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/5835102148196488766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=5835102148196488766&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/5835102148196488766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/5835102148196488766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/09/jagung-bakar.html' title='Jagung Bakar'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-3044338610835130949</id><published>2008-09-27T03:53:00.000-07:00</published><updated>2009-01-19T05:05:30.537-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Kado Lebaran Buat Mbak Inul</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Buka dulu topengmu"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong bait lagu dari salah satu Band papan atas tanah air ini, seakan sangat cocok, untuk memotret sepak terjang para penguasa negeri kita. Sikap jujur dan terbuka menjadi sangat mahal, kata-kata manis serta janji-janji murahan kerap meluncur deras dan berbusa-busa dari orasi mereka. Rakyatpun terbuai, terlena. Merasa bosan dan sering dibohongi, timbul kemudian gejala apatis sebagian rakyat terhadap fenomena ini, puncaknya sikap kritis yang diharap bisa membawa bangsa kearah yang lebih cerah, semakin tenggelam kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah (baca: para wakil rakyat) yang tak terpisahkan dengan "politik obral janji" seakan pasang muka badak, mereka terkesan tak pernah mau belajar untuk menyimpan sedikit  rasa malu terhadap rakyat. Mencibir, senyum kecut, bahkan tak jarang mengumpat, adalah sederet reaksi yang timbul di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan ini berimplikasi pada ketegangan antara dua element bangsa (pemimpin dan rakyat), jurang pemisahpun semakin lebar menganga, ibarat; PKB kubu Gus Dur Vs PKB kubu Muhaimin.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini membuat sekelompok wakil rakyat tampil di depan publik layaknya "super hero" mewakili Superman yang telah lama absent. Agenda mereka jelas (keadilan, kesejahteraan bagi rakyat). Meski sangat disayangkan terkadang statemen-statemen mereka di hadapan publik terlihat naïf, menggelikan, dan kurang mendasar. Entah hal itu karena keterburu-buruan, kurang cermat ataukah ambisi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja komunitas dari wakil rakyat yang berteriak lantang menyeru pada "praktek hukum syariat" di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Atau mereka yang rajin sekali hadir dalam rapat pencanangan RUU Pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, bahwa bersamaan dengan gencarnya pemberitaan di media tentang RUU tersebut, adalah mencuatnya sejumlah kasus pornografi itu sendiri di kalangan wakil rakyat. Sebut saja kasus Yahya Zaini yang berhasil memukau penonton dalam adegan yang diperankannya, menyusul kemudian pelecehan Max Moein terhadap sekretaris pribadinya,dan yang teranyar adalah kasus Al-Amien Nasution yang menjadi tersangka dalam kasus suap penjualan hutan lindung, dengan barang bukti (BB) sejumlah uang plus servis 18+ di salah satu hotel berbintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangan salah, jika dikemudian hari masyarakat berasumsi bahwa RUU ini tak lebih dari sekedar "topeng" untuk menyembunyikan kemunafikan mereka. Ironisnya lagi, para wakil rakyat yang berbaris rapih menuntut pengesahan RUU pornografi ini, bila dikonfirmasi tentang definisi dan batasan mana yang diklaim porno dan yang tidak, mereka masih bingung atau memberi alasan yang mengada-ngada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mendasar itu misalnya menyangkut definisi. Pasal 1 mendefinisikan pornografi sebagai ”materi-materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara bunyi, gambar bergerak... yang dapat membangkitkan seksual.…” Kalimat ”yang dapat membangkitkan seksual” mengandung masalah besar, karena ukuran ”kebangkitan” itu tentu saja berbeda untuk setiap individu. Tak terbayangkan pula bagaimana cara memeriksa setiap orang yang ”seksualnya bangkit”. Perlu lembaga baru bernama direktorat polisi moral?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi nantinya bila RUU ini disahkan, akan terjadi banyak pergesekan dengan budaya dan kultur keindonesian. Seperti budaya pemakain baju "kemben" di Keraton Jogja dan warga asli Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pengamat  menilai bahwa rancangan RUU Pornografi tidak lebih dari kamuflase para wakil rakyat untuk bisa menambah pundi-pundi kekayaan mereka, semakin lama dan semakin alot sidang berlangsung maka semakin besar gaji yang akan mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, rancangan RUU yang mestinya sudah final tahun 2006, malah molor sampai 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, bila RUU ini berhasil disahkan maka para wakil rakyat harus banyak berterimakasih pada si Ratu Ngebor (Inul Daratista). Sebab ide ini menggugus kepermukaan berkat goyang ngebornya dia, tanpa Inul tidak akan pernah ada ceritanya RUU anti pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 September 2008 M/24 Ramadlan 1429 H Tajamuk Khomis,New Cairo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-3044338610835130949?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/3044338610835130949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=3044338610835130949&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3044338610835130949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/3044338610835130949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/09/kado-lebaran-buat-mbak-inul.html' title='Kado Lebaran Buat Mbak Inul'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-7717091446827791199</id><published>2008-09-25T19:45:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T01:50:55.748-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Dilema Wahhabiyah Kampungan Vs Ortodoksi Ke-NUan</title><content type='html'>Tersebut dalam ranah keberagamaan warga Madura yang kolot, tradisional, dan ortodoksi ketokohan. Muncul spekulan pemikiran oknum yang dicap 'nyeleneh', berbeda, dan terkesan tak bersahabat. Mulai dari label bid'ah hingga syirik, kerap diluapkan oknum tersebut untuk sekedar memprovokasi mereka (baca: warga NU) yang masih terikat erat dengan tali kekang tradisi . Seperti ziaroh kubur, membaca maulid, dan istighosah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai reaksi muncul kepermukaan, para tokoh (kyai dan ustadz) yang merasa tradisinya diusik oleh 'cecunguk tak beradab' sontak berang.&lt;div class="fullpost"&gt; Reaksi mereka beragam, kitab-kitab turast yang sudah tertata rapi di rak dan sudah berdebu (karena tak pernah dijamah) tergeletak terurai di lantai langgar (Musholla) dan mesjid. Bahtsul masaa'ilpun digelar, dan ramai pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singgasana para kyai yang telah lama didewakan terancam. Mereka seperti kebakaran jenggot, "santri yang selama ini dididiknya telah murtad' kelakar sebagian gurunya marah.  Baru kali ini ada seorang kyai Madura yang anti-ziaroh kubur. Sebut saja kyai Syinwani yang tinggal di desa Pakong-Bangkalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Syinwani anti ziaroh kubur   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah kyai yang cukup kharismatik, mengelola sebuah pesantren yang menampung lebih 500 santri. Tak banyak yang tau mengapa beliau menjadi seperti sekarang ini, mengaharamkan santrinya ziaroh kubur dst. Yang jelas- seperti dikutip dalam salah satu artikelnya- beliau adalah pengagum Ibnu Taymiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya kyai jebolan UIN Malang ini  biasa saja seperti lazimnya kyai-kyai NU yang sibuk mendidik santri-santrinya. Namun di awal 2006 namanya mulai menjadi buah bibir. Dan penyataan-pernyataan beliau tentang ziaroh kubur,istighosah, bacaan maulid, baik melalui mimbar dan majlis-majlis taklim mulai mengusik keberagamaan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga puncaknya, warga sepakat memposisikan kyai Syinwani berikut santri-santrinya sebagai enemies (musuh) yang layak disingkirkan dan dihabisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainstream dan pendewasaan cara berfikir warga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dosa apa yang telah diperbuat kyai Syinwani, beliau adalah bagian dari warga, namun perlakuan layaknya sebagai warga sudah tidak lagi dirasa. Beliau dikucilkan, dicemooh, bahkan mau dibunuh. Ideologi beliau yang menyalahi mainstream masyarakat Madura, seakan layak untuk menyebutnya telah (kafir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dogma-dogma keagamaan dari para kyai, telah membentuk world view warga Madura menjadi sedemikian rumit, jumud, keras dan terkesan kurang toleran. Sehingga mereka (warga) masih belum bisa menghargai perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski beberapa bahtsul masail dan majelis-majelis taklim digelar. Tapi, agenda utama mereka adalah membabat habis madzhab kyai Syinwani, padahal sebagai entitas, mestinya apa yang beliau yakini harus dihargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, menghargai setiap perbedaan adalah langkah utama, untuk membangun metodolgi berfikir warga Madura, tanpa hal itu kedewasaan berfikir mustahil dicapai. Doktrin-doktrin para tokoh telah demikian menggerogoti kewarasan otak warga, sederet penyimpangan mainstream patut kita cermati. Sebut saja, penokohan kyai yang seakan makshum (luput dari dosa) layaknya para Nabi, kemiskinan yang semakin parah, taraf pendidikan yang sangat rendah, serta pelayanan kesehatan warga yang masih di bawah standart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktrin agama seperti itu lebih mendesak untuk dicermati dari sekedar kasus anti ziaroh kubur-nya kyai Syinwani. Reaksi terhadap kasus kyai Syinwani seakan hanya menjadi topeng para pemuka agama, mengapa saya katakan demikian? Sebab di saat kyai Syinwani meladeni tantangan dialog, kanyataannya argument-argument beliau terbilang kokoh. Malahan para kyai dan ustadz yang hadir saat itu lebih banyak diam. Sebagi isyarat ketidakberdayaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas salah atau benarnya sebagai ideologi yang diyakini, langkah kyai Syinwani –menurut saya- sudah tepat. Beliau adalah tipe kyai yang bertanggung jawab dengan prinsipnya, bukan taklid buta seperti mayoritas warga Madura. Setidaknya kegamangan beliau terhadap tradisi telah terjawab, bukan menyerahkan semuanya pada kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah dalam berijtihad mendapat satu pahala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jamak diketahui, bila diantara keistimewaan umat Muhamad SAW, adalah risalah dan ajarannya yang selalu flexible, sejalan dengan peradaban dan pengetahuan. Namun hal itu tetap memerlukan keterampilan para pakar sebagai manifesto dari upaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijtihad, demikianlah kita kenal. Adalah sebuah keniscayaan dalam beragama. Tanpa ijtihad semboyan islam sholih fi kulli zaman wa makan hanya menjadi idiom palsu. Bahkan islam-dalam rangka menggalakannya-  menjamin bagi para mujtahid yang salah akan mendapat satu pahala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi kyai Syinwani yang kemudian diamini para santrinya, patut kita beri apresiasi, selama ideologi tersebut tidak membawa kecemasan di tengah masyarakat. Beliau berusaha merekonstruksi tradisi atau mainsteam yang sudah lama tidak terjamah oleh kritik. Tak hanya itu, beliau telah bertindak kemudian bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Beliau telah memberikan pengalaman berharga bagi tiap warga Madura, bahwa dalam beriman tidak boleh ikut-ikutan, apalagi membebek pada kyai. Sebab dialah yang akan mempertanggung jawabkannya kelak, bukan sang kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus kyai Syinwani bukan seperti kasus Eden, Ahmad Mushaddeq, dan sederet Nabi palsu lainnya. Ini hanya sempalan dari sekian sekte Islam, yang- dengan dalih kembali pada pemurnian tauhid- sebelumnya sudah pernah menyapa beberapa Negara  di Timur Tengah, meski harus kita akui sekte ini terkesan terlalu radikal dalam menawarkan ideologinya. Tapi, jangan khawatir melihat background pendidikan kyai Syinwani serta kultur beliau yang asli warga Madura, rasanya tak mungkin kelompok ini akan bertindak sedemikian jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus di atas saya harap menjadi awal kesadaran masyarakat Madura, untuk tidak lagi bersikap antipati terhadap gejolak perbedaan yang muncul di tengah-tengah mereka. Karena kedewasaan dalam bermasyarakat akan terwujud bila mereka telah sanggup menghargai tiap perbedaan, masyarakat Madura harus mempersiapkan diri menyongsong globalisasi yang tak terelakan, sebab bila proyek Suramadu terlaksana akan banyak lagi yang bakal mengusik tradisi mereka, bukan hanya komunitas anti-ziaroh kubur tapi lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak dapat ditawar lagi, warga Madura harus menerima dengan legowo tiap perbedaan yang sedang dan akan muncul. Supaya mereka tidak terasing di negeri sendiri. Berbenah diri untuk meningkatkan SDM lebih penting daripada ribut dengan urusan ziaroh kubur, tawasul, istighosah, baca maulid dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempererat tali silaturrahim antara warga tanpa perduli dengan madzhab yang dianut jauh lebih indah daripada beradu argument dengan kepala panas apalagi sampai saling jotos, sikap arif dan memposisikan kyai sebagai figur manusia biasa (menerima kritik) yang terkadang salah, terkadang benar, akan menghantarkan pada tatanan masyarakat yang beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya nilai sebuah bangsa terletak pada ilmu dan peradabannya, bukan pada kekuatan fisik dengan mental kerdilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya dedikasikan untuk warga Pakong-Bangkalan dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tagamuk Khomis, New Cairo 13 September 2008 /13 Ramadlan 1428&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-7717091446827791199?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/7717091446827791199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=7717091446827791199&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/7717091446827791199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/7717091446827791199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/09/dilema-wahhabiyah-kampungan-vs.html' title='Dilema Wahhabiyah Kampungan Vs Ortodoksi Ke-NUan'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4481550969576520984.post-6684550827008706961</id><published>2008-09-22T12:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T01:11:55.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Antara Kebebasan Berfikir dan Vonis Kafir</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Akhir-akhir ini dunia islam dikejutkan kembali dengan maraknya kasus klasik yaitu fonis murtad (keluar dari agama) terhadap beberapa oknum muslimin. Hampir diseluruh Negara-negara Islam kita mendengar berita tersebut. Mulai dari Mesir (kiblat pemikiran Timur Tengah) dengan dakwa teranyar seorang penulis perempuan yang dianggap telah melecehkan Nabi saw dalam sebuah buku yang sempat menghiasi rak-rak buku di International Book Fair 2008 di Cairo, menyusul kemudian Majelis Fatwa Arab Saudi yang memfonis dua orang wartawan local yang dianggap telah memuat tulisan serupa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Di tanah air tak kalah seru, melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI)-nya kasus yang satu ini tergolong cukup gencar, mulai fonis sesat terhadap aliran Ahmadiyah hingga kasus Ahmad Mushaddeq Cs yang sempat mengaku sebagai Nabi yang telah menerima wahyu dari langit.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Fonis murtad dalam Islam adalah salah satu ajaranya yang saat ini semakin disorot di berbagai belahan dunia, berbagai opini masyarakat dunia yang majemuk-pun meruyak ke permukaan. Bahkan tidak jarang tuduhan bahwa Islam agama yang tidak menghargai kebebasan berfikir dan memilih keyakinan kerap mereka arahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bagi yang memahami Islam sebatas kulitnya saja akan sulit merubah persepsi di atas, apalagi virus Islamophobia semakin mengganas di belahan Eropa &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sehingga tidak mengherankan kalau di negeri kincir angin Belanda sebagai penganut kebebasan absolute sempat dirilis sebuah film profokatif berjudul ‘Fitna’ yang mengklaim kitab suci al Qur’an sama kejamnya dengan buku Adolf Hitler (mein kamp).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bila pandangan seperti Geert Wilders produser film Fitna masih mendominasi &lt;i&gt;world view&lt;/i&gt; (pandangan dunia) barat terhadap Islam maka akan banyak kendala bagi kita untuk bisa memperkenalkan Islam secara obyektif terhadap mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Memahami fonis murtad sebagai perang terhadap kebebasan berekpresi jelas sebuah kesalahan apalagi tanpa mengetahui alasannya kenapa Islam memberlakukan hukuman tersebut bagi penganutnya. Dalam banyak kesempatan Islam menegaskan bahwa dalam beragama kita tidak dibenarkan bermain-main dalam memilih sebuah keyakinan, sehingga orang yang murtad dari Islam dianggap telah memanipulasi agama dan layak mendapatkan teguran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Teguran atau peringatan yang diajarkan dalam Islam juga bertahap tidak serta merta dipenggal kepalanya sebagaimana gambaran masyarakat pada umunya. Namun terlebih dulu dinasehati supaya bertobat dan kembali kedalam agama Islam, bila ternyata masih tetap pada pendiriannya barulah diberlakukan &lt;i&gt;Qishaas&lt;/i&gt; (pemenggalan kepala), faskhun Nikah (dipaksa menceraikan istri), tidak berhak mendapatkan warisan, dan bila meninggal tidak boleh dikubur di pekuburan orang Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa ulama berbeda pendapat mengenai masa berlakunya teguran atau peringatan tersebut, ada yang berpendapat bila 3x peringatan diabaikan maka qhisaas diberlakukan, sebagian lagi berpendapat masanya 1 tahun bahkan ada yang mengatakan seumur hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Terlepas itu semua qhisaas adalah salah satu bentuk hukuman dalam Islam yang dimaksudkan agar menjadi peringatan bagi yang lain supaya menjahui &lt;i&gt;the big crime&lt;/i&gt; pekerjaan keji tersebut (murtad) sehingga keutuhan beragama tetap berjalan dan tidak terjamah oleh tangan-tangan jahil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Dari sini tampak jelas betapa Islam sangat menghormati kebebasan dan kemanusiaan yang hakiki dan tanpa tebang bulu, tidak seperti kebebasan barat disatu sisi mengajak untuk menghormati kemanusian tapi disaat yang sama dia berkhianat seperti kasus &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Iraq&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Palestina dll mengapa suara mereka terdengar parau? Dan terkesan pengecut menghadapi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang nyata-nyata telah mencaplok kedaulatan rakyat Palestina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Mengapa umat Islam masih dikritik di saat pemeluknya menjalankan ajaran yang mereka yakini, bila kenyataannya mereka (barat) memang perduli terhadap HAM mestinya mereka memberi kebebasan bagi tiap agama untuk melaksanakan ajaran dan keyakinannya masing-masing. Termasuk pemberlakuan Qhisaas, yang mereka sebut menyalahi HAM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;HAM model apa yang mereka maksud, kita masih sering bingung. Di Amerika anjing piaraan bisa lebih berarti dari nyawa manusia. Tindakan kriminal terhadap seekor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anjing bisa menjalani 2-3 minggu persidangan di pengadilan sementara pembunuhan, perampokan, pemekosaan hampir ada tayangannya di TV setiap 1 menit tanpa diketahui tindak lanjutnya. Apa begitu model HAM ala amerika?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Klaim kebebasan berfikir yang mereka maksud juga tak kalah peliknya, karena kenyataanya di balik kebebasan berfikir yang mereka maksud selalu ada pelecehan terhadap orang lain bahkan agama. Contohnya pemerintah Belanda yang diminta menghentikan rilisnya film tersebut malah berdalih bahwa “kami tidak bisa menghentikannya karena hal ini menyalahi undang-undang negara”. Padahal seluruh dunia saat itu berteriak termasuk sekjen PBB Ban-Ki Mon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Di tubuh umat Islampun muncul kelompok spekulan yang termakan dengan dogma-dogma naïf barat, sehingga mereka mengingkari syariat Qishaas yang dianggap melanggar HAM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kelompok ini kemudian menebar pesona kebohongan dengan mengatakan bahwa yang berhak menghukum orang itu murtad atau tidak hanya Allah bukan manusia. Bila demikian buat apa Rasul diutus? Sebab diakan juga manusia yang mestinya tidak boleh menghukum apa dan siapapun. Tapi realitanya beliaulah pelopor berjalannya syariat di muka bumi. Jadi, filosofi seperti ini sebenarnya adalah pengingkaran yang nyata terhadap syariat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Atau dengan alasan usang yang sering mereka teriakkan; bahwa syariat Qishaas itu ada dalam ruang &amp;amp; waktu tertentu yang sudah tidak bisa lagi dipraktekkan dewasa ini. Pertanyaannya kemudian, berapa banyak ayat di dalam al Qur’an yang terpaksa kita abaikan aturannya hanya karena kita anggap sudah kadaluarsa alias tidak relevan dan tidak sesuai ruang &amp;amp; waktunya. Semudah itukah kita perlakukan ayat-ayat Allah swt?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Fenomenanya Negara yang mempraktekkan hukum Qishaas lebih rendah tindak kriminalnya. &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Saudi   Arabia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; misalnya, terlepas Negara tersebut dipimpin seorang pemimpin yang otoriter dan korup. Paling tidak kriminalitas di masyarakat bisa terkendali, sebab untuk melakukan tindak kriminal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, orang akan mikir berkali-kali akibat hukuman yang bakal diterima. Membayangkan bila saya membunuh saya akan dipenggal, bila saya mencuri saya akan dipotong tangan dan seterusnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Saya kira pemerintah Arab Saudi jauh lebih menghormati HAM daripada Amerika. Meskipun sangat kita sayangkan pelecehan terhadap TKW (tenaga kerja wanita) &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sering menghiasi pemberitaan media akhir-akhir ini. Namun yang jelas skala kriminal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; jauh lebih rendah sekian persen dari negara yang tidak menjalankan syariat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;21 april 2008 M, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;CAIRO&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4481550969576520984-6684550827008706961?l=sibtufadil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sibtufadil.blogspot.com/feeds/6684550827008706961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4481550969576520984&amp;postID=6684550827008706961&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6684550827008706961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4481550969576520984/posts/default/6684550827008706961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sibtufadil.blogspot.com/2008/09/antara-kebebasan-berfikir-dan-fonis.html' title='Antara Kebebasan Berfikir dan Vonis Kafir'/><author><name>Abdul Mun'im Kholil</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01348016004510329088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLk8U-UkV_M/SNwapemlzdI/AAAAAAAAAAM/rU8g-4_yxlk/S220/Ma%27rodl%2707+(6).JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
