7/14/2009

Kakek dan Peti Kotak Ajaibnya

Peti kotak itu berwarna biru, mungkin peninggalan kompeni, atau bisa jadi pembelian Kakek ketika tour tahunannya ke Surabaya, tepatnya di pasar favorit beliau, pasar Turi. Tak ada yang tahu, karena memang tak ada yang bertanya atau lebih tepatnya tak ada yang berani bertanya.

Kakek Hasan dengan segala dominasinya sebagai tokoh masyarakat adalah satu dari sekian memorial kami yang amat sangat berharga. Beliau seorang tokoh yang bersahaja, alim, kharismatik dan super disiplin (istiqomah). Segala lika-liku kehidupan masyarakat, tak ada yang boleh lepas dari amatannya. Beliau adalah pemimpin sejati.

Sekotak peti tua itu memuat segala pernik dan perlengkapan paling berharga beliau, dari mulai pisau potong hewan kurban sampai kain kafan mayat, dan tentu juga sejumlah uang. Ibarat agen FBI, hanya beliau yang boleh membuka dan menutup kotak “ajaib” ini. Tak seorangpun boleh mengutak-atik kotak kesayangan yang terlihat nangkring manja di samping tempat tidurnya, bahkan tidak juga Nenek.

Aku menyebutnya ajaib, sebab apa saja yang dibutuhkan dalam kesehariannya pasti ada dalam kotak besi ini. Ia merupakan bagian terpenting dalam kehidupan Kakek, meski sampai saat ini belum ada yang tau dari mana asalnya barang tersebut.

Menurut prediksiku, peti tersebut didapat dari Surabaya. Berdasarkan adanya beberapa peti serupa yang juga dimiliki oleh beberapa sesepuh kampung kami, selain itu di pasar-pasar lokal tempat kami tinggal, tak pernah aku jumpai peti kotak semacam itu.

Apalagi setiap bulan Ramadan tiba, Surabaya akan segera menjadi tujuan utama dari tour tahunan Kakek. Selain tali silaturrahim dengan beberapa santrinya, moment ini juga dipergunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi zakat fitrah yang beliau kumpulkan dari mereka. Pendapatannya lumayan buat menyongsong lebaran Idul Fitri secara sederhana bersama keluarga dan warga di kampung.

Sosok kakek yang kokoh dan keras dengan prinsip yang diyakininya, membuatnya menjadi seorang tokoh yang disegani di kalangan tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Meski begitu, beliau sangat santun dan ramah terhadap siapa saja, bahkan anak kecil.

Yang tak mungkin dilupakan oleh generasai penerusnya adalah Himmah (semangat)nya dalam menambah pengetahuan keagamaannya, bahkan sampai tua renta beliau masih dan terus menghadiri majlis-majlis taklim Kyai-kyai di kota Bangkalan guna menambah wawasannya atau paling tidak mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang pernah diterimanya dulu semasa di Pesantren, apalagi di masa tuanya ini, mata rabun Kakek semakin tak bisa diajak kompromi untuk sekedar mambaca kitab.

Rutinitas ini berlangsung dua kali dalam seminggu. Hidupnya hanya untuk ilmu dan masyarakat, tak ada yang lain. Padahal untuk bisa ke kota, beliau harus berjalan kaki sejauh 2 Km untuk sekedar bisa menyetop mobil angkot di jalan beraspal. Tapi, hal itu sama sekali tidak bisa memadamkan api semangat petualangan ilmiyahnya.

Setiap adzan Subuh menjelang, beliau sudah bangun. Selanjutnya menuju Mesjid yang ada di depan rumah untuk mengimami para jemaah yang sudah menanti. Selepas Subuh, lelaki yang dikaruniai cucu-cicit lebih dari 30-an orang ini, mengajar ngaji anak-anak muda kampung, termasuk aku.

Hampir semua sholat lima waktu selalu beliau laksanakan dengan berjamaah bersama beberapa warga di Mesjid kesayangannya. Selain peka terhadap ritual ibadah, beliau juga sangat peka terhadap kondisi sosial warga. Apabila ada yang sakit, beliau akan menjadi orang pertama yang menjenguk, kalau ada yang meninggal beliau akan menjadi pelayat paling dinanti yang akan membawakan kain kafan sekaligus mengukur dan memotongkannya sendiri buat si mayat.

Pelayan masyarakat dalam arti sebenarnya, demikianlah aku melihat sosok Kakek. Tak seperti umumnya para pemimpin masyarakt zaman sekarang yang hanya ‘memanfaatkan’ masyarakat bukan ‘memberi manfaat’ pada masyarakatnya. Prinsip hidup beliau adalah memberi sebanyak-banyaknya tanpa mengharap pujian apalagi imbalan. Keikhlasan dan kejernihan hati terpancar jelas dari air muka tokoh ini. Tak ada yang diinginkannya selain Ridla dan Sorga Allah SWT.

Penempaan panjang dan liku-liku hidup telah membentuk kepribadian Kakek menjadi sosok yang sulit untuk dicarikan penggantinya. Beliau menjadi “ruh” dalam keluarga sekaligus “tiang penyangga” segala ketimpangan sosial dalam masyarakat kami. Dialah guru spiritual warga yang telah menyatu dengan hati. Keberadaannya lebih dari sekedar tokoh tapi sudah dianggap orang tua bagi setiap warga yang setia menunggu nasehat-nasehat beliau.

Hanya mereka yang tidak obyektif yang berani menilai wawasan keilmuan Kakek pas-pasan. Beliau adalah seorang alim yang benar-benar matang dan berpengalaman seluas samudera. Matan-matan kitab klasik, semacam Sullam Tufiq, Safinatun Naja dll sudah beliau hafal sejak kecil dan bahkan sudah mendarah daging. Al-Qur’anpun demikian, meski mengaku tidak pernah menghafal kitab suci ini, namun saat mengajar kami, beliau tidak pernah terlihat memegang mushaf.

Bila keilmuan para ulama masa kini terbatas pada pembacaan mereka di buku dan kitab serta teori-teori kosong di kepala saja, maka keilmuan Kakek melampaui semua dimensi tersebut. Ilmu dan praktek nyata sudah akrab dijalaninya dalam mengarungi tiap sisi kehidupan. Beliau adalah tokoh yang banyak makan garam kehidupan, yang tidak pernah sembunyi saat masyarakat memerlukannya.

Sepeninggal beliau isi peti kotak Kakek berhamburan dibagi-bagikan oleh paman kepada anak-cucu yang berminat mewarisi barang paling berharga ini (setidak berharga di mata Kakek yang sederhana). Selanjutnya kotak kesayangan Kakek yang berupa seonggok besi tak berguna itu ditinggal begitu saja, sekarang tak ada yang tau di mana keberadaan kotak peti Kakek, persis seperti saat beliau membawanya ke rumah dulu (mungkin saat itu aku belum lahir).

Memang sesuatu yang sudah tak berguna selayaknya dibuang saja, logika ini sama sekali tidak salah. Apalagi yang dibuang hanya sebuah peti kotak klasik yang tentunya sudah tidak layak pakai. Namun Aku selalu berharap ajaran dan petuah-petuah Kakek tidak bernasib sama dengan peti kotak beliau. Petuah-petuah beliau bisa terus hidup dan terpatri dalam jiwa para anak-cucunya.

Special dedication for his Grandchild and Lovers

0 komentar: