6/11/2009

Abe yang Malang Mengemis Pengampunan Kyai

Aku memang tidak seperti pengejar mimpi pada umumnya, arahku tidak jelas dan agendaku juga tidak nyata. Apa yang aku impikan di masa depan sama sekali tak terimaji dalam ruang mimpi itu. Sehingga tak heran bila aku terkadang berbelok arah ke kiri dan ke kanan hanya ikut arus. Aneh dan sangat menyedihkan, meski aku sadar bahwa hidup harus dimenej sejak dini dan ia tidak mengenal istilah, apa kata nanti deh…, namun aku masih tetap tak perduli.


Dulu aku pernah ingin menjadi Kyai tulen yang hanya mengurusi kitab-kitab bulukan (berdebu) dengan segelintir santri yang kolot. Orientasiku waktu itu hanya ingin selamat dari api neraka, semua ini gara-gara aku sering menyaksikan para Syeikh sufi dengan sorban panjang dan jenggot lebatnya . Pernah juga aku bermimpi di masa mendatang, aku harus kaya dan dermawan, untuk bisa memarginalkan angka kemiskinan di kampungku, yang semakin hari semakin membengkak.

Mimpi pertamaku harus kandas, gara-gara ada seorang kawan menasehati, bahwa cita-cita ingin menjadi kyai bukan cita-cita yang benar sebab para Kyai sendiri tak ada yang bercita-cita seperti itu, cita-cita semacam itu pasti menyimpan unsur riya (ingin dipuji orang lain).

Aku terpaksa menanggalkan baju kebesaran Kyai ini, apalagi peluang ke sana susah, melihat fenomena para Lora (anak Kyai) yang mulai menjelma menjadi Kyai cadangan dari abah-abahnya yang sudah berumur. Jadi bagi aku yang hanya seorang anak Kyai kampung, yang tentunya juga kampungan, tak cocok untuk bersaing merebut tahta mereka, pasti kalah.

Ini bukan masalah keilmuan atau leadership, namun lebih pada kenyataan sistem aristokrasi yang mengakar kuat dalam tradisi kami sebagai warga Madura, yang menghamba dan membudakkan diri di hadapan para Kyai (untuk lebih sopan jangan dulu menyebut mereka para “Nabi Madura”).

Jangan pernah bermimpi bisa menggoncang apalagi merubah sistem aristokrasi di Madura, para Kyai sangat menikmati posisi mereka sebagai Sultan-sultan terhormat di kepulauan dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa ini. Warga Madura? Apa lagi, mereka itu khawatir “kwalat dan kena bala” jika berani menggugat tahta para Sultan (baca: Kyai) yang dari hari ke hari terlihat seperti agen resmi Kapitalis yang sedianya hanya memperkaya diri dan bukan menjadi pengayom masyarakat, mereka menghisap dan memperalat masyarakatnya sendiri tanpa ampun.

Kyai serupa dengan tuan tanah zaman kompeni, yang suka mengambil keuntungan bejibun dan merintah ini-itu tanpa ada yang bisa protes. Di sisi lain mereka serupa para Nabi yang terbebas dari dosa, dengan keramahan ala-keraton Solo, dan senyum menawan mengalahkan senyuman Brad Pitt si bintang Hollywood itu. Warga yang berhasil sungkem dan mencium tangan Kyai, meyakini bahwa hal itu adalah ritual pelebur dosa, bila sungkeman mereka diterima oleh Kyai itu berarti tobatnya juga diterima oleh Allah. Sebenarnya ritual seperti ini tidak hanya ada di kalangan warga Madura, dalam tradisi keagamaan umat Kristiani kita kenal dengan istilah “pengaduan dosa” di hadapan Pendeta.

Aku tidak sedang mencoba mempropaganda pembaca, ada banyak bukti nyata yang bisa aku ceritakan di sini. Ceritanya begini, salah seorang anak sepupu Ibuku (paham gak?), suatu hari diusir gurunya (Kyai) dari Pesantren tempat dia belajar sekaligus mengajar hampir sepuluh tahun lebih tanpa alasan jelas. Namun seperti aku bilang tadi, sepahit apapun keputusan Kyai tidak boleh ada yang protes, sebab Kyai itu dikaruniai “Ilmu Makrifat” sejenis ilmu yang bisa mengetahui apapun yang ghaib.

Keputusan Kyai ini menjadi pukulan berat pada mental Abe (nama samaran keponakan yang diusir), dia kemudian menjadi pria kampung yang tertutup dan tak bisa bergaul bebas dengan warga sekitar, dia seakan telah menjadi pelaku kriminal paling kejam yang baru dibebaskan dari penjara Nusa Kambangan. Bahkan saat dia ingin mengakhiri masa lajangnya dan mencoba melamar salah satu gadis tetangga kampung, Abe ditolak mentah-mentah. Identitas Abe sudah diblacklist warga yang dari kecil mengenalnya, sungguh menyedihkan.

Yang bisa dilakukan Pamanku sebagai tokoh di kampung kami hanya meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat salah satu keponakannya ini. Hampir sebulan sekali beliau sowan ke Dalem (rumah Kyai) untuk peleburan dosa keponakannya, hingga suatu saat meluncurlah “sabda agung” dari mulut suci Kyai yang memberitahu bahwa Abe sudah dimaafkan.

Abe yang mendengar kabar ini meloncat kegirangan, dengan berbusa-busa dia menceritakan pada setiap kenalannya; bahwa dia telah dimaafkan oleh Kyai. Hal ini dirasa perlu untuk memperbaiki kembali citranya yang remuk diamuk persepektif jahiliyah warga Madura.

Meski begitu, Abe tidak akan pernah bisa berhasil 100% mengembalikan kepercayaan warga pada dirinya yang telah roboh akibat “sabda semu” Kyai. Aku sempat berfikir, bila Abe memang salah mengapa Kyai tidak mudah untuk memaafkannya? Bukankah seorang Kyai dituntut mempunyai hati yang pemaaf, penyayang dan belas kasih yang seluas samudera. Apa susahnya memaafkan seorang Abe? Yang nyata-nyata masih tercatat sebagai muridnya sendiri.

Sepaket dengan kasus Abe, adalah tradisi ‘menggelikan’ yang biasa dilakukan para begundal dan preman Madura. Sekotor dan sekeji apapun kelakuan mereka di luar sana, mereka pasti menyempatkan diri sowan ke para Kyai bila mereka pulang ke Madura, tentunya dengan membawa segepok uang yang tidak diketahui dari mana asalnya. Para Begundal Madura meyakini bahwa sowan dan mencium tangan Kyai akan meringankan penghitungan dosa di akhirat kelak. Sebab Kyai, yang diyakini sudah mendapat tiket ke Sorga itu, akan memintakan syafaat pada Allah buat mereka kelak.

Aku tak pernah tau pasti, dari mana asalnya doktrin-doktrin ini meracuni otak mayoritas masyarakat Madura. Ia seperti kebenaran absolut yang tak mungkin lagi dibantah apalagi dirubah. Ada yang bersumsi, bahwa ini adalah pengaruh ajaran Tasawuf. Tapi Tasawuf yang mana? di kitab apa? Al-Ghazali sebagai bapaknya kaum Sufi misalnya, terang-terangan menolak taklid buta seperti tradisi salah dari sebagian sekte Sufiyah (lihat Mizan al-Amal karya al-Ghazali, hal: 403).

Apa tradisi aristokrasi semacam ini yang dipilih oleh Nabi dan Sahabat-sahabatnya? Jelas bukan. Abu Bakar yang memangku Khilafah Islam pertama, dengan nada keras berorasi di depan pembesar Sahabat dan kaum muslimin waktu itu “Aku memang pemimpin kalian, tapi aku bukan yang terbaik di antara kalian. Orang yang mempunyai posisi kuat di kalangan mereka akan menjadi orang lemah di depan hukum”.

Yang jelas sikap acuh tak acuh dari para Kyai dengan fenomena di atas merupakan konspirasi keji yang berujung pada pembodohan massal warga, sebab diamnya Kyai telah menghalangi warga dari pengetahuan hakiki; bahwa yang makshum (terbebas dari dosa) hanya para Nabi, Kyai selalu bisa salah dan harus bersikap dewasa ketika dikritik karena mereka manusia biasa, bukan Nabi.

15 Mei 2009 M
Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah.

1 komentar:

Syaifullah Rizal Ahmad mengatakan...

kita teriakkan dgn 'KERAS', change for Madura!!ha3. Tulisanmu tambah matang.....