Orang bilang pengumpul data adalah penguasa abad ini, Aku tak lantas percaya. Betapa banyak pengumpul data dipecundangi oleh penguasa dan harta.
Sempat beberapa kali terhenti, mencoba menata ulang asa yang mulai retak karena erosi waktu. Ada semacam janji tak pasti menggelayut ringan di pelupuk mata, ia kemudian mengilhami hati yang mulai kering.
Debur magma dari kedalaman ambisiku menggericik, membangunkan tiap penghuni nadi-nadiku. Ia kemudian menggelegar seakan mau memotong tiap persendianku. Kucoba berteriak, tapi malam itu benar-benar lengang, yang tersisa hanya jejak langkah para musafir sufi.
Terkesiap, mungkinkah Aku telah tertinggal bersama mimpi-mimpi ini?! Tak ada jawaban. Sesekali Aku meraung bak srigala lapar, menampar wajah bak Majnun Laila, menunduk lesu untuk kemudian terhempas dalam jerami kemunafikan.
Hampa, adalah penyesalan tak berujung bagi pengumpul data sepertiku. Aku semakin yakin akan titik zenith kelemahanku. Tak aneh bila seorang Socrates menelanjangi dirinya sambil ngoceh (gila) di pusat kota.
Entah berapa orang yang telah menarik air liurnya, hanya karena telah dipecundangi mimpi dan ambisinya. Semakin kau kejar, ia akan semakin jauh.
Ketidakpuasan, telah menghantarkan Adolf Hitler ke ujung peluru bedilnya sendiri. Memalukan, Mao yang dielukan bak dewa telah mempertalikan rakyatnya sendiri dengan kelaparan yang terus mendera.
Tak usah kau permalukan mereka dengan puisi-puisi sufistikmu, sebab mereka akan menertawakanmu. Petuah bijak para filosof, bagi mereka tak lebih dari tontonan opera besutan Shakepearse.
Mungkinkah hujan rahmatMu akan mengguyuri jiwa-jiwa kering ini. Hingga emosi tak lagi mendustai hati, dan lidah-lidah kotor itu kembali menyucikanMu dalam alunan Subhanallah…Walhamdulillah…Walailahaillah…Allohu Akbar.
Tajamuk Khomis, New Cairo
22 Pebruari 2009 M
0 komentar:
Poskan Komentar