glossymenu, .glossymenu li ul{ list-style-type: none; margin: 0; padding: 0; width: 185px; /*WIDTH OF MAIN MENU ITEMS*/ border: 1px solid black;

1/27/2010

Tarian Gaudy Old Style untuk Gus Dur

Waktu itu saya menghadiri sebuah diskusi reguler SAS Center yang digelar sebulan dua kali. Salah seorang presentator menulis sebuah artikel tentang tasawauf (saya sudah lupa judulnya) dengan menggunakan font Gaudy Old Style. Saya sendiri takjub dengan tampilan elegan dan apik font ini. Sesampai di flat, saya langsung membuka laptop dan mencari: kira-kira font apa yang dipakai kawan saya itu? Ternyata Gaudy Old Style.

Sampai detik ini, saya masih merasa nyaman menggunakan font ini, meski terlihat irit dalam spasi sehingga tulisan yang seharusnya sudah penuh satu halaman jika memakai Gaudy Old Style akan tampak setengah halaman. Tapi bagi saya, setidaknya tak membuat bosan dan melelahkan ketika membaca. Bahkan beberapa artikel Gus Dur yang saya koleksi dalam format Notepad, ketika ingin kembali membaca saya segera mengcopynya terlebih dahulu di Microsoft Word dengan pilihan font Gaudy Old Style. Tentunya setiap orang mempunyai pilihan masing-masing, seperti Brad Pitt yang merasa nyaman dengan pasangannya, Angelina Jolie.


Semenjak wafatnya Bapak Demokrasi dan Pluralisme Indonesia (meminjam istilah SBY), saya semakin dibuat penasaran dengan sosok nyentrik ini. Gus Dur yang semasa hidup sering melawan arus dan tradisi dengan ide-ide ‘gila’ tentunya, telah menyita perhatian media, baik lokal maupun internasional, hampir sebulan penuh. Bahkan hampir semua tokoh internasional turut berduka dan merasa kehilangan dengan wafatnya mantan Presiden RI ke 4 tersebut, beliau seperti keluar dari kodratnya sebagai cucu seorang ulama besar Nusantara, menjadi tokoh yang disegani sekaligus disukai semua golongan tanpa melihat setatus agama, bahasa, dan ras tertentu. Gus Dur adalah tokoh multidimensi yang mendunia dan terbukti sanggup menerobos sekat-sekat dunia Pesantren yang membesarkannya.

Wafatnya Gus Dur, bagi saya memberi kenangan tersendiri yang cukup menggelitik. Pasalnya, saya yang sore itu berkunjung ke rumah seorang karib yang kebetulan seorang aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), sambil tertawa dia menyodori saya sebuah sms “Alhamdulillah khilafah akan segera berjaya di Indonesia, karena satu dari pejuang demokrasi sudah mati (Gus Dur) sore ini.” kira-kira demikian bunyi sms itu. Dua hari setelahnya, PCINU Mesir segera memaklumatkan pada warganya untuk melaksanakan shalat ghaib bersama di Griya Jawa Tengah. Saya kembali terkaget, katika salah seorang pentolan Kifayah (salah satu anak organisasi yang bernaung di bawah Persis) menyapa di tengah perjalanan, dan di sela obrolan basa-basi kami dia sempat menyinggung wafatnya Gus Dur, tentunya dengan senyum simpul terselip di bibirnya.

Ternyata sampai meninggalpun seorang Gus Dur masih menyisakan sejuta kisah untuk dikenang, termasuk bagi saya; pengagumnya. Bagi saya wafatnya tokoh ini adalah petaka, mungkin bagi yang lain bisa jadi dianggap sebagai “berkah”, termasuk beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan menancapkan ideologi anti demokrasi seperti yang saya sebut tadi. Gus Dur memang bukan manusia sempurna tanpa cacat dan cela, tapi setidaknya beliau sudah mengajarkan kita banyak hal (silahkan baca kembali artikel-artikel yang pernah ditulis oleh Gus Dur).

Setiap orang bebas berpendapat mengenai figur eksentrik Gus Dur. Apabila ada nilai-nilai positif yang diperjuangkannya sudah selayaknya kita lestarikan, sebaliknya kalau ada yang dirasa tak sesuai dengan cita-cita luhur keutuhan berbangsa dan bernegara harus segera kita campakkan.

Kita bangga dengan keislaman kita, namun bukan berarti semua harus diislamisasi. Kebebasan beragama yang dijamin dalam undang-undang dasar NKRI sudah cukup. Bagi seorang muslim sejati, agama terlalu sakral untuk diformalisasi. Ketika rukun Iman dan Islam yang diyakini bisa ia jalankan dengan hati ikhlas, damai, dan dibumbuhi toleransi maka negara itu sudah cukup untuk kita sebut “negara Islam”. Kalaupun dalam Islam dikenal konsep jihad, maka kita harus cermat memahaminya. Karena makna Jihad sesungguhnya adalah merengkuh kebebasan beragama kita, bukan memaksakan agama kita agar dipeluk orang lain.

Goresan tinta emas sejarah adalah saksi: bahwa Nabi dan sahabat tak mengangkat bendera Jihad kecuali untuk tujuan merebut kembali kebebasan melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai muslim yang taat. Di saat hak-hak itu telah kembali, maka Islam segera menjadi simbol agama paling toleran di dunia. Sebagai bukti, banyak situs dan peninggalan kaum pagan yang bisa kita saksikan di bumi-bumi taklukan Islam, bukan dengan berulah melempar granat dan bom bunuh diri ingin menghancurkan simbol dan jargon keagamaan atau bangsa lain.

Mungkin itu hanya satu dari sekian pesan yang saya tangkap dari sosok Gus Dur. Pluralisme yang diperjuangkannya mengakar kuat pada kecintaannya terhadap negeri “gemah ripah loh jinawi” ini. Beliau tak ingin bangsa yang telah berhasil merebut kemerdekaannya dengan cucuran keringat dan darah pejuang yang mati syahid, akhirnya akan ambruk dalam keranda-keranda kelompok dan aliran yang saling tikam. Kemajemukan dengan masyarakat yang heterogen di negeri ini harus dijaga, jangan sampai ada “tangan-tangan jahil” menggilasnya, meski dengan alasan apapun (termasuk formalisasi syariat).

Kecanggihan tekhnologi dan pesatnya informasi sudah selayaknya dijadikan pelajaran bahwa kita tak lagi hidup di ‘jaman Onta atau Kuda’. Merupakan sebuah ironi atau bahkan ilusi ketika kita mengimpikan sebuah komunitas Islam yang terlepas dari kemajemukan bangsa-bangsa di dunia, semisal dalih mendirikan Khilafah yang ekslusif. Kita hidup dalam era kebebasan dan keterbukaan, semuanya bisa diwujudkan tanpa harus memperjual belikan agama yang suci. Bahkan jika ada seorang muslim merasa ditindas dan diperkosa hak-haknya, ia bisa berteriak sekencangnya dan dalam hitungan detik dunia akan segera memberitakannya.

Negeri ini terlalu muda untuk kehilangan sosok Gus Dur, semoga di masa mendatang akan lahir ribuan atau bahkan jutaan Gus Dur yang turut mamperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan toleransi.

Semoga arwah Gus Dur mendapat siraman rahmatNya dan diampuni segala dosa yang diperbuat, amin.

Tajamuk Khomis
28 Januari 2010

Read More......

1/02/2010

Catatan Awal Tahun 2010

“Aku tak mau menjadi pecundang.” Demikian kata itu terus menghantui hari-hariku. Gambar demi gambar keluarga sering menyapa di sela lamunanku: ada Ibu, adik-adik, sepupu, dan kawan-kawan kecilku, bukan sebagai penghibur, tapi penunggu bak hantu di sebuah rumah tua.

Hari-hariku di Kairo penuh ketidak pastian, ketidak disiplinan, ketidak berdayaan, selain ketololanku yang semakin membatu. Yah… aku merasa bahwa nikmat yang Allah berikan tak ada yang kurang; dari mulai kesehatan fisik hingga kecerdasan otak (meski tak seencer Einsten). Namun aku seperti hewan yang tak tau bagaimana mensyukuri nikmat, goblok.


Kalau alasan kesempatan sering membuat beberapa orang menyerah, maka kesempatan itu selalu tersenyum. Namun entah bagaimana, aku selalu akan menyiakannya. Bahkan dalam 24 jam sehari, setidaknya aku menghabiskan 8 jam tidur, 8 jam ngenet, dan 8 jam lainnya entah ke mana. Buku-buku yang aku beli dari Darul Ma’arif tempo itu belum satupun aku sentuh. Kepalaku senut-senut katika tangan mulai menjamah buku-buku itu.

Selain memelototi laptop Fujitsu Siemens-ku, tak ada lagi yang bisa kukerjakan. Buku diktat kuliah yang telah habis kulahap seminggu yang lalu, tak pernah lagi kusentuh. Seperti umumnya kawan mahasiswa, yang lebih suka menggunakan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) menjelang ujian, akupun demikian. Padahal nilai akademik yang bagus tak bisa diraih melalui sistem borok seperti itu. Tapi sebenarnya ada alasan laten lainnya: aku masuk dalam daftar orang yang tak bisa membaca sebuah buku untuk kedua kalinya kecuali buku tersebut benar-benar menyihirku.

Sampai detik ini aku sadar bahwa masih banyak yang bisa aku lakukan selain memaki diri, menyesali diri, dan merasa kehilangan diri. Sungguh aneh! mirip dengan bangsa Arab yang dipecundangi Israel di depan mata, bukan karena jumlah mereka sedikit atau persenjataan perang mereka kurang canggih (karena baru-baru ini Kerajaan Saudi telah membeli pesawat perang termutakhir dari Uwak Sam) tapi lebih pada mental kerdil. Mental untuk berubah seakan hanya ada dalam mimpi.

Proses, yang menjadi bagian terpenting sejarah perubahan manusia tak pernah menyadarkanku dari mimpi perubahan itu sendiri. Telah banyak kubaca, telah banyak kusaksikan, dan telah banyak kudengar, meski tak satupun kupraktekkan. Nilai-nilai kehidupan, bagiku seakan tak ada nilainya. Semu, untuk kemudian melilitku dalam lembah penyesalan. Bahkan malam yang kerap menghiburku dengan puji-pujian sunyinya, saat ini hanya mau datang dalam wujud yang benar-benar asing sehingga aku semakin terasing.

Kubenturkan kepalaku pada dinding ketidak berdayaan berharap dinding itu pecah atau kepalaku yang terbelah.

2 Januari 2010 (jariku terasa kaku untuk menulis angka “2010”). Apakah setiap perbahan itu selalu membuat kita kaku dan kurang nyaman? barangkali ia.

Read More......

12/21/2009

Penat

Kontemplasi jadul, hanya ingin posting!

Ketika waktu melelahkan, tiada ungkapan yang paling mendamaikan selain “Rehatlah barang sejenak, supaya pikiran menjadi fresh kembali”. Kepenatan yang menghimpit kita sehari-hari adalah karunia tak terhingga, tanpa penat kita tak akan bisa merasakan nikmatnya rehat.



Carilah penat maka imbalanmu adalah rehat, jangan pernah menganggap penat sebagai momok sebab di sanalah entitasmu dihargai, dan saat itulah kamu telah menjadi orang yang berharga. Meloloskan diri dari penat adalah favorit tiap orang, padahal secara tidak sadar telah menjerumuskan diri dalam keranda ketidakberdayaan.

Tak ada ceritanya, kesuksesan bisa diraih dengan santai, enjoy, dan tanpa penat. Penat adalah setengah dari kesuksesan itu sendiri, bagaimanapun hasil yang anda raih. Ingat usaha anda tak ada yang sia-sia meski gagal (versi orang umum) kerap mendera, asal niat tulus ikhlas menyertai tiap langkah anda.

Allah SWT tak pernah ‘iseng’ menanyakan apa pencapaian yang anda raih, namun usaha apa yang anda tempuh, bagaimana cara dan kemana anda optimalkan pencapaianmu? Demikian pertanyaan-pertanyaan itu (pasti) menyapamu.

Namun dari ulasan singkat di atas, bukan berarti anda tidak berhak untuk bersantai atau berehat. Kita bukanlah robot tak pusar, kita sadar bahwa kita mempunyai batasan dan kelemahan. Kita adalah makhluk Tuhan dengan jiwa dan raga yang keduanya mempunyai hak yang sama. Tak adil, bila memberi porsi keduanya dengan tidak seimbang.

Hanya para Malaikat yang diciptakan Allah tanpa rasa lelah, manusia tidak. Manusia diperbolehkan menikmati apa saja sebatas tidak menyalahi aturan-aturan Tuhan, dia boleh makan sepuasnya asal tidak sampai ishraf (berlebihan yang dilarang agama), dia boleh memiliki rumah megah, mobil mewah selama dia mampu mensyukurinya, dia juga diperbolehkan menikah dan mempunyai anak. Semua itu adalah fasilitas Tuhan yang tidak diberikan kepada siapapun, kecuali kapada makhlukNya yang bernama “manusia”.

Meski disebut fasilitas, namun tak jarang ia membuat manusia lalai akan tugasnya sebagai “Khalifah Allah”. Saat itulah manusia melupakan orientasi asalnya untuk menghamba hanya pada Allah. Menusia kemudian berpaling karena tersilaukan oleh fasilitas-fasilitas tadi, sehingga tanpa disadari dia telah memilih fasilitas-fasilitas itu sebagai Tuhannya.

Menuhankan fasilitas-fasilitas ini tidak harus menyembah dan bersujud di hadapan benda-benda tersebut dengan membakar kemenyan. Mencintai dalam hati lebih dari segalanya atau memposisikannya di atas Keagungan Allah sudah cukup untuk menyebutnya sebagai sekutu bagi Tuhan.

Untuk mengetahui sebatas mana kecintaan kita pada Allah dan kecintaan kita pada fasilitas yang Allah anugerahkan, kita bisa mengukurnya di saat kita tertimpa musibah kehilangan barang titipan Allah tersebut. Bila kehilangan ini membuat anda setres dan seakan dunia sudah berakhir apalagi bunuh diri, maka saat itulah anda bisa menilai cinta anda pada Tuhan.

Menerima dengan ketentuan Allah adalah cermin mukmin sejati. “Menerima” di sini bukan berarti lepas tangan ketika ada musibah dan hanya tawakal pada takdir, hal ini salah. Ketika anda kehilangan sesuatu yang anda miliki, anda wajib melapor pada pihak yang berwajib. Kalau tidak, buat apa anda membayar pajak pada negara.

Jadi, semua ada aturannya. Menerima semua apa yang ditakdirkan Allah (simpanlah sikap ini dalam hati sebagai bukti keimanan terhadap Kekuasaan absolut Tuhan), sementara usaha untuk mencari solusi dari problem yang sedang dihadapi tetap dan harus anda jalankan.

Naif, bila anda menyatakan beriman namun tanpa amal. Sifat menerima adalah iman anda dan melapor pada yang berwajib adalah amal anda. Ini hanya contoh sederhana yang bisa anda kembangkan sendiri. Nabi sendiri secara tegas berucap “I’qil fa tawakkal” tambatkan tungganganmu kemudian tawakallah pada Tuhanmu. Ringkasnya, berusaha dulu selebihnya anda perbanyak berdoa dan berserah.

Kepenatan yang kerap menyelimuti hari-hari kita; seperti pekerjaan yang tak jua usai, nasib yang tak jua berubah, dan keinginan-keinginan yang mengendap tanpa ada wujud nyata telah memeras energi dan pikiran kita. Semestinya kita bisa membuat skema yang jelas untuk mewujudkan impian-impian tadi, mulailah dari yang termudah atau teremeh atau terkecil. Molekul-molekul kecil ini bila anda rajin mengumpulkannya, di masa mendatang akan membuat semua mata terbelalak, percayalah!

Read More......

9/20/2009

Sekuel 'Nyonya Tua' Blog Vs 'Isteri Muda' Fesbuk

Di tengah malam nan sepi, di ujung ruas hari lebaran. Hasratku untuk menulis di blog 'angker' ini berdebur, ada kerinduan dahsyat setelah sekian lama tenggelam dalam pelukan 'isteri baruku' fesbuk. Iseng-iseng kucoba mengunjungi blog-blog kawan Masisir (mahasiswa Mesir), ternyata sama: angker tanpa penghuni.

Ada apa ini? mengapa rumah-rumah mewah itu sekarang terlihat lengang dan berdebu. Jangankan pengunjung yang datang, si empunya saja emoh untuk sekedar menyapu dan membersihkan rumahnya. Ah, blog-blog itu seperti kota mati. Kabar teraktual yang aku terima, adalah akibat kekejaman isteri-isteri baru, fesbuk.


Fesbuk adalah cewek manis, manja, dan centil. Hanya MUI yang pernah memfatwa HARRAM (baca dengan tasydid), mungkin karena kesulitan menjalankan aplikasikannya. Meski terbilang isteri muda, namun pengalamannya dalam merayu, bergenit-genitan, bahkan bercinta, ia tak kalah dengan Cleopatra sekalipun.

Tak hanya tukang ojek, presiden pun kesemsem sama 'anak gadis' Mark Zuckerberg ini. Ia berhasil menyihir hampir 300 juta pengguna di seluruh dunia; melebihi jumlah penduduk Indonesia. Omsetnya pun terus melonjak naik, Zuckerberg cuma bilang "“Awal tahun ini, kami berharap cash flow positif tercapai di sekitar tahun 2010, dan saya sangat puas dengan pendapatan yang kami peroleh di kuartal terakhir ini”.

Pelayanan istimewa ala fesbuk benar-benar memanjakan penggunanya. Selain mempererat tali silaturrahi antar keluarga, ia juga memudahkan anak-anak muda mencari pasangan (perhatikan: bila fesbuker sudah jarang posting di wall, ada indikasi bahwa dia telah mendapatkan pasangan yang cocok dan memilih aktif di message yang lebih privat).

Namun karena kehebatan sihirnya, 'makhluk abu-abu' ini tak jarang membuat penggunanya lena, lupa waktu, lupa tugas, lupa janji, lupa makan, lupa matikan kompor, dan lupa-lupa lainnya. Di beberapa belahan dunia, fesbuk telah terbukti menjadi arsitek di balik meningkatnya kriminalitas, dari sekedar saling olok di forum sampai menghantarkan beberapa penggunanya ke liang lahat (lihat kasus Hayley Jones). Mungkin yang terbaru adalah kasus pemukulan seorang isteri oleh suaminya di Bekasi, akibat cemburu melihat perubahan setatus fesbuk isterinya dari married ke single.

Fesbuk menjadi salah satu fenomena abad ini, ia mencatat sejarah spektakuler dan berhasil menyatukan kemajemukan penduduk bumi. Fesbuk adalah 'agama' baru, yang sanggup meleburkan semua entitas manusia, tanpa sekat-sekat ras, bangsa, dan negara. Ia adalah pisau bermata dua layaknya media lain, tergantung siapa dan bagaimana memakainya.

Sementara blog, tetap sebagai si Nyonya tua penunggu rumah tua nan wibawa. Hanya mereka yang tak tau balas budi, yang sudi melupakan isteri tua. Bukankah Raditya Dika menjadi penulis terkenal gara-gara catatan konyolnya di blog? bukankah Bang Arif sukses menerbitkan novel-novelnya (Eniwei Its Cairo Uncensored- Fatimeh Goes to Cairo) di Indonesia karena blog? Jadi, 'mukjizat' blog belum sepenuhnya kalah dengan 'sihir' fesbuk itu.

Sekedar catatan untuk mengusir sunyi, semoga berkenan. 'Met lebaran & mohon maaf lahir-bathin buat semua rekan/rekanita Masisir. Kullu 'am wa antum bi khair.

Read More......

8/21/2009

Aku Bukan Lelakimu

Selepas natijah (nilai) ujian keluar, aku bergegas menuju pusat telepon murah yang berada di beberapa titik Hayy 10 Madinat Nasr, Kairo, untuk menghubungi keluarga. Dalam hidup kita kerap dibuat tersenyum dengan kabar-kabar baik, namun tak jarang hidup menjadi kejam dengan menghunjamkan kabar buruknya. Semua ada hikmah, yang baik menuntut kita agar bisa bersyukur dan labih baik, sementara yang buruk mengajarkan kita bersabar dan cerdas dalam mencari solusi bagi problem yang sedang dihadapi.


Jayyid (predikat nilai baik), mungkin itulah yang membuat hatiku berbunga bak musim semi. Aku yang siang itu berpeluh dan kepanasan karena memaksa untuk menerobos kerumunan manusia berjubel di sepanjang jalanan kota Kairo merasa kekesalanku terbayar. Mogok kerja, demikian berita yang hangat hari itu, lebih dari 1200 sopir dan kondektur bus berdemo di depan kementrian transportasi Mesir, para awak bus segala jurusan itu menuntut kenaikan gaji, yang kabarnya hanya 4% dari penghasilannya sehari, sementara di Alexandria mencapai 12% sehari (koran Almashri Al-Youm).

Keluarga yang mendengar kabar itu otomatis juga turut bahagia terutama Ibu, lantas Ibu mencecarku dengan pertanyaan klasik; bagaimana dengan beasiswa? Yah…sudah sedewasa ini aku memang masih sebagai pecundang, tak bisa lepas dari beban orang tua, sungguh prestasi yang menyedihkan. Mendengar kata-kata itu, imajinasiku menerawang jauh membayangkan adik-adikku yang sudah mulai menempuh jenjang pendidikan di Pesantren. Pasti biaya yang dikeluarkan ortu setiap bulannya tidak sedikit, bisikku dalam hati.

Seperti biasa obrolanku dengan Ibu deras menerobos dimensi ruang dan waktu, hingga sampai pada titik terserius mengenai “tunangan”. Ada selaksa sejuk menelusuk pori-pori, berjibaku dan mengaduk-aduk seisi perasaanku. Aku memang telah cukup umur, kalau hanya sekedar bertunangan, siapa takut?

Nyi’ yang saat ini dituakan dalam keluarga besar kami adalah tokoh sentral di kawasan desa Pakong dan sekitarnya. Beliau perempuan tangguh yang mendidik santri (aku tidak tau pasti jumlahnya) bak anak kandungnya sendiri, telah membisiki Ibu perihal setatusku, yang kebetulan masih sebagai cucu jauhnya.

Nyi’ Pakong, demikian kami biasa memanggilnya, berinisiatif menjodohkan aku dengan salah seorang cucunya atau mungkin cicitnya. Perempuan paruh baya ini berapologi hendak membaiatku sebagai ganti dari Kiai Rahbini, suami beliau sekaligus kakek kami, yang meninggal di Mekah hampir setengah abad silam.

Melihat keseriusan ini Ibu tak bisa menghindar, beliau sebagai orang yang sangat mengerti aku menjawab “InsyaAllah, tapi Mun’im masih belum selesai studinya”. Usut punya usut ternyata Abah Muhajir (Ayah tiri yang paling berjasa dalam hidupku) telah menyepakati pertalian ini meski belum berani mengambil langkah lebih jauh. Ibarat pedagang, masih dalam taraf tawar menawar.

Aku sendiri sebagai manusia normal ikut senang, siapa yang tak mau menjadi menantu dari orang paling berpengaruh dan terpandang. Setidaknya ketika aku pulang aku bisa langsung turun berkiprah di tengah masyarakat. Namun di sisi lain aku seperti merasakan adanya trauma sejarah. Contoh paling kongkrit adalah Ibu, akibat dari perjodohan sebelah pihak yang dilakukan orang tua masa lalu, beliau terlibat perceraian beruntun. Tak hanya Ibu, kakak perempuannya Obhe’ juga pernah menjadi korban dari tradisi ini.

Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, mungkin petuah ini pas untuk melukiskan suasana hatiku. Perjodohan tidak selamanya memberi efek negative, apalagi didasari tujuan luhur, menyambung tali silaturrahim. Namun prakteknya yang cenderung sebelah pihak, membuat si gadis nampak sebagai barang dagangan yang seenaknya diperjual belikan. Para orang tua masa lalu jarang sekali bersikap arif ketika memilihkan jodoh buat anak gadisnya, mereka terkesan menjustifikasi bahwa apa yang baik buat mereka pasti baik buat anaknya.

Tradisi seperti ini harus direkonstruksi, masyarakat Madura yang agamis biasanya selalu menggantungkan tindakannya pada klaim-klaim agama, bila perjodohan itu dilasanakan dengan dalih mengikuti madzhab Syafii maka kita harus tau bahwa di sana masih terdapat madzhab Hanafi yang cenderung lebih lunak menyikapi perjodohan. Perjodohan dalam madzhab Syafii dinilai kurang humanis karena seorang gadis (bukan janda) tidak mempunyai hak atas pilihannya, sementara madzhab Hanafi tegas mengatakan bahwa memilih juga hak para gadis karena merekalah yang akan menjalankan pernikahan bukan orang tua.

Sebagai antisipasi awal aku hanya bisa menjawab dengan nada bercanda “Emang di sana ada yang cantik?” Ibu berucap “Cantik semua kok”. Bagaimanapun aku tak akan mengulangi kesalahan sejarah, pernikahan itu sakral dan tak bisa diputuskan secara tergesa-gesa apalagi ada kesan diskriminasi pada perempuan.

Aku bukan tipe laki-laki yang kompetitif tapi juga tidak gampangan, bagiku kecocokan visi antara pasangan sangat penting. Perempuan harus mendapat porsi sama dengan pria dalam hal ini, kesepakatan gadis yang akan menikah denganku haruslah dipertanyakan sejak awal dan tak boleh ada keterpaksaan. Sebab awal akan menentukan akhir sebuah cerita, aku tak percaya kalau keserasian bisa diraih bila sudah berumah tangga kelak, karena menikah bukan permainan lotre.

Di era modern ini, tanpa memandang status remaja manapun, biasanya mereka sudah memiliki pujaan hati (baca: pacar), aku tak mau dianggap “virus” yang membuat suasana hati seorang gadis berantakan.
Pedekate sewajarnya aku anggap sangat urgen dalam proses menjalin sebuah hubungan yang kita sepakati “sakral”.

Tak ada kata coba-coba dalam kamus pernikahan, setiap pasangan yang akan mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga harus mencapai sebuah kesepakatan bersama untuk saling mengisi kekurangan pasangannya, saling menghibur kala didera musibah, dan saling berbagi kebahagiaan, serta berjanji untuk tak ada lagi tabir-tabir rahasia antara keduanya.

Kita harus tau bahwa manusia tak ada yang sempurna, dalam pergaulan sehari-sehari saja kita sering menemukan ketidak cocokan dengan seorang kawan, pun demikian dengan pasangan kita kelak. Tak ada pasangan yang 100% cocok dengan pasangannya, mereka sendirilah yang harus berusaha cocok dengan pasangan lainnya, dan hal itu tidak mudah kecuali bila sebelumnya sudah tumbuh embrio-embrio CINTA atau paling tidak ada kesan saling pengertian antar keduanya. Barangkali bila setiap pasangan menyadari bahwa pasangannya adalah amanat Allah yang tak boleh diabaikan, maka akan
langgeng pernikahan itu.

Bila aku berkesempatan mengenalmu kelak, sebagai suamimu, maka aku bersumpah akan menjadi pasangan paling bertanggung jawab (tentunya semampuku). Bila ternyata takdir berbicara lain, maka aku akan selalu mengingatmu dalam sujudku sebagai bentuk syukur karena telah diberi kesempatan untuk mengenalmu. Karena saat aku menulis artikel ini aku bukan lelakimu dan kamu bukan perempuanku.

Sebagaimana aku, kamu pastinya ada dalam entry anak-anak shaleh dan shalehah yang selalu menaruh hormat
takdzim pada orang tua. Tapi kita harus sadar bahwa kitapun mempunyai hak pribadi yang tak mau bila diabaikan orang lain. Terus terang aku paling tidak bisa untuk mendurhakai orang tua terutama Ibu. Jadi, aku pikir tak ada salahnya kita berkenalan terlebih dahulu. Kalau memang tak menemukan alasan untuk melanjutkannya kepelaminan, kita pasti punya cara sendiri untuk menyampaikan sikap, tentunya tanpa melukai pihak manapun.

Aku sendiri tak mau menikahi seorang perempuan hanya dengan alasan kepentingan keluarga, meski aku tau keluarga adalah segalanya bagiku. Cinta dan pernikahan tak bisa dipisahkan, menikah tanpa cinta adalah kejahatan tak termaafkan, karena isensi pernikahan sejatinya mengarah pada objek utama: menciptakan rumah tangga yang dihiasi taman
mawaddah (cinta) dan bertabur bunga-bunga rahmah (kasih sayang).


Special dedikasi buat ‘calonku’ di taman mimpi
21 Aguatus 2009 M/1 Ramadlan 14230
Tajamuk Khomis, Qahirah Jadidah.

Read More......

8/10/2009

Trend Mahasiswi Bercadar ala Ayat-ayat Cinta

Bila anda pernah bertanya pada wanita muslimah yang memakai cadar, maka jawabannya pasti bermacam. Nina Mahasiswi tingkat III Syariah misalnya, mengaku memakai cadar dengan alasan di Mesir banyak debu, sementara Wiwik mahasiswi tingkat I Ushuludin, beralasan agar lebih dihormati orang Mesir, ada juga yang dengan motif agar tidak digodain pria hidung belang. Namun mayoritas dari mereka tak ada yang mengaku karena prinsip ideologi. Meski ada satu-dua orang yang mamakai cadar dengan alasan perintah agama.

Saya tak ada niat mengusik kebebasan berekpresi wanita muslimah manapun,
belakangan malah saya sedikit terusik dengan kasus “ikon Jilbab dunia Arab” Marwa Al-Syarbini yang ditusuk 18 kali oleh pria rasis di pengadilan Dresden Jerman hingga tewas. Seperti biasa, media-media barat bungkam bahkan terkesan antipati dengan kasus tersebut. Meski ada yang memberitakan, tak satupun yang memajangnya di halaman utama, beda dengan kasus Neda Sulthana yang tertembak bersama beberapa demonstran pro Mir Mousavi di Iran.


Cadar Sebagai Ideologi Agama atau Budaya

Burkuk, dalam bahasa Arab berarti penutup kepala perempuan yang hanya memperlihatkan kedua mata dari balik kain (lihat Ibnu Al-Mandzur). Kemudian dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan “Cadar”.

Di Indonesia sendiri, pakaian khas timur tengah ini masih terlihat asing terutama di perkotaan. Sesekali mungkin akan terekspos media saat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) atau kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera) melakukan aksi demo anti Israel. Ada juga beberapa pesantren di Indonesia yang mulai menerapkan wajib cadar bagi santriwati saat keluar pesantren.

Meski begitu belum ada dari mereka yang secara terang-terangan dan terbuka mengklaim sebagai ideologi Islam yang wajib dijalankan oleh setiap muslimah. Barangkali hal ini dirasa tak etis karena menyalahi Ijma Jumhur Ulama dari madzhab empat dengan madzhab Hambali sebagai pengecualian, apalagi akhir-akhir ini perempuan bercadar kerap dihubungkan dengan jaringan teroris. Kalaupun ada yang berani memvonis sebagai kewajiban agama, itu terjadi pada islam minoritas, yang dipandang banyak berbenturan dengan ayat-ayat ahkam oleh M. Al-Ghazali (lihat Qadlaya Al-Mar’ah).

Penulis prolifik dari Al-Azhar ini memberikan contoh sederhana dengan ayat 31 Al-Nur, yang memerintahkan laki-laki maupun perempuan menjaga pandangan pada selain mahramnya. Kalimat “Yaghuddu” dan “Yaghdudna” dalam ayat tersebut akan tumpul dan impotent, sebab perintah menahan pandangan tak lagi berfungsi karena setiap perempuan sudah mamakai cadar, jadi tak perlu lagi kaum laki-laki menundukkan pandangannya.

Untuk lebih jelas, marilah kita runut penuturan Qasim Amin dalam magnum opus-nya Tahrir Al-Mar’ah: Perempuan-perempuan Yunani masa lalu juga memakai hijab seperti yang dipakai wanita di Timur sekarang. Bahkan para pengikut Kristus juga memakainya hingga abad 13 M untuk melindungi wajah mereka dari panas dan debu. Kemudian wanita muslimah zaman Nabi banyak memakainya meski masih terbatas kalangan berduit. Hingga akhirnya turunlah wahyu yang mempertegas pemakaian hijab dalam surat Al-Ahzab, Al-Nur dst.

Dari sini terungkap bahwa cadar sama sekali bukan budaya istimewa Arab apalagi Islam, agama hanya mengingatkan muslimah yang taat agar menutup tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Cadar tak bisa lagi disebut sebagai perintah agama meski agama tak pernah melarang seorang wanita muslimah memakai cadar. Cadar adalah warisan masa lalu yang masih dilestarikan sebagai kekayaan budaya timur tengah.

Fenomena Cadar di Kalangan Masisir (Mahasiswi Mesir)

Bagaimana dengan mahasiswi Indonesia di Mesir? Mahasiswa/i adalah insan yang matang dalam berfikir, cermat dalam bersikap. Mereka adalah manusia yang melek dalam berbagai bidang, tak ada yang sanggup memprovokasi apalagi mengintimidasi kedewasaan para calon pemimpin bangsa masa depan. Mereka adalah manusia-manusia merdeka yang tak bisa diracuni oleh iming-iming apapun. Cara berfikir, sikap, dan mental mereka dibentuk berdasarkan pribadi dan bacaan masing-masing.

Saya yakin pilihan mahasiswi untuk memakai cadar di Mesir adalah hasil kontemplasi panjang yang tidak tergesa-gesa apalagi hanya membebek pada teman. Sebab kita semua tau pasti bahwa cadar sama sekali bukan standart kesalehan seorang muslimah.

Jadi, apa sih keuntungan mamakai cadar? Kan hanya bikin ribet? Seorang kawan mahasiswi menjawab sambil berkelakar “yang jelas saat di bus wanita bercadar akan lebih mudah mendapatkan tempat duduk di tengah penumpang yang berdesakan”. Sementara Rozi seorang kawan yang ngebet banget ingin menikahi wanita bercadar dengan tanpa malu (maaf) mendambakan kulit putih muslimah yang memakai cadar. Saya yang mendengar pengakuan Rozi, menjawab sekenanya “ kalau dasarnya hitam, ya hitam”.

Kreativitas Mahasiswi Bercadar

Menyusul rilisnya film fenomenal AAC (Ayat-ayat Cinta) tahun lalu, di Mesir semakin hari saya lihat semakin menjamur Aisya-aisya ala AAC dengan cadar-cadar khasnya. Entah mata saya yang mulai rabun? Atau memang benar begitu? Yang jelas saya termasuk mahasiswa yang kecewa dengan fenomena ini, karena tak bisa lagi menikmati pemandangan terindah ciptaan Tuhan. Saya akhirnya semakin bingung memilih calon isteri kelak, mungkin kegelisahan M. Al-Ghazali ada benarnya “Jangan salah bila kelak pemuda muslim lebih memilih wanita non muslimah karena tak dapat memandang langsung wajah-wajah teduh bekas ibadah wanita muslimah”.

Kita semakin miris menghadapi fenomena mahasiswi bercadar yang terlihat semakin menarik diri dari panggung kreativitas masisir. Mereka seperti risih berjumpa mahasiswa di forum-forum kajian maupun pentas seni. Entah kalau ternyata WIHDAH sebagai wadah khusus mahasiswi mesir telah mencapai independensinya sehingga sanggup mengakomodasi segala bentuk aktivitas dan kreativitas mahasiswi. Yang saya amati forum-forum diskusi, kajian dan dialog ilmiyah yang sarat ilmu itu selalu sepi dari mahasiswi bercadar.

Pemandangan ini tentunya sangat kontradiktif dengan perempuan-perempuan muslimah masa Nabi, yang sangat bergairah menghadiri rutinitas pengajian Nabi dan para Sahabat. Apa mungkin forum-forum tadi ditengarai sudah tidak kondusif? Bisa jadi begitu. Namun sejauh ini tak pernah ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi di sana, sebab kita semua sabagai mahasiswa Al-Azhar mengerti koridor-koridor agama.

Dalam moment-moment tertentu, kadang muslimah bercadar perlu melepasnya, semisal makan di warung atau restoran. Bagi mereka yang bercadar tak harus bersembunyi dan tak ada salahnya bila sesekali memilih pendapat Jumhur Ulama.

Atau mungkin saat mereka pulang ke tanah air. Bila ternyata masyarakat sekitar sock dan tidak siap menerima perubahan anda yang bercadar, maka lepaslah untuk sementara waktu. Kenyataannya, mayoritas warga Indonesia tak biasa menghadapi ustadzah yang memakai cadar.

Di kampung kami ada seorang ustadzah yang baru pulang dari univ. Al-Ahgof Yaman, dia termasuk lulusan terbaik ketika di pesantren sampai masa kuliah. Kecerdasan dan kealimannya diakui oleh guru-gurunya, namun ustadzah tersebut tak sanggup memikat hati masyarakat bahkan kemudian dijauhi karena tak bisa lepas dari cadar yang dipakainya. Selain itu, beliau terkesan idealis dan tertutup dari pergaulan masyarakat sehingga kehadirannya dirasa tak pernah ada oleh warga.

Qasim Amin menyayangkan pemahaman Hijab yang disalah artikan pada masanya, di mana perintah Hijab dipahami sebagai larangan keluar rumah sekaligus perintah menutup diri dari pergaulan umum. Bahkan lebih jauh, ada yang meyakini suara perempuan sebagai aurat. Akibatnya tak ada lagi sopan santun antara pria muslim ketika berjumpa wanita muslimah, semisal untuk sekedar saling beruluk salam.

Cadar yang membuat muslimah terpinggirkan seperti kasus di atas sudah sepatutnya dihindari. Memberikan manfaat bagi orang banyak lebih mendesak dari sekedar mempertahankan keyakinan yang masih dabatebel, bukankah Nabi sendiri ketika dihadapkan pada dua pilihan selalu memilih yang termudah. Pendapat Jumhur, why not?

Marwa Al-Syarbini dan Fatwa Abduh

Kasus Marwa Al-Syarbini kembali mengingatkan kita pada tokoh reformis abad 20 Al-Imam Muhamad Abduh yang pernah mengeluarkan fatwa “nyeleneh”: Bagi perempuan muslimah boleh memakai pakaian ala Barat saat mereka tinggal di Barat, dengan catatan tetap menutupi aurat tubuhnya. Fatwa ini seakan menyadarkan kita akan relevansi dan elastisitas ajaran Islam yang ditawarkan Abduh. Seandainya Marwa dan wanita muslimah lain di Eropa mempertimbangkan fatwa tersebut, saya yakin pelecehan semacam itu tak perlu terjadi.

Toh kita sepakat, bahwa Allah tak menilai kwalitas ketakwaan hambanya dari pakaian dan penampilan jasmaniyah. Asal tau saja, hampir semua PSK di Yaman memakai cadar, biasanya mereka menjajakan barang dagangannya melalui sopir-sopir taksi yang beroperasi di sepanjang jalanan kota Sana’a, Hudaidah, dan Aden menjelang malam.

Penutup

Muslimah yang santun tanpa cadar jelas lebih dinamis dan elastis bergaul untuk menambah wawasan dan menjaring teman-teman silaturrahim yang luas. Sikap tertutup bukan sikap muslimah sejati, sebab setiap muslimah apalagi mahasiswi dituntut memperhatikan tetangga dan masyarakatnya. Dia tak boleh antipati dengan problematika sosial masyarakat yang melingkupinya. Bersembunyi di balik secarik kain penutup muka adalah sebuah tindakan munafik, bila ternyata masyarakat sekitar sedang merindukan kehangatan sikap dan pancerahan nasehatnya.

Saya terkesan dengan seorang wanita Mesir bercadar yang bekerja sebagai kasir toko dekat flat yang kami tinggali, cadar tidak menghalangi dirinya untuk menyapa dan berbasa-basi dengan pembeli bahkan dengan kami sebagai orang asing. Perangainya lembut dan hangat meski kami tak bisa melihat senyum manisnya, padahal dia mengaku masih gadis dan belum menikah.

Mungkin hanya wanita bercadar Mesir itulah yang membuat saya tak ragu untuk menyapa dan berbasa-basi. Biasanya perempuan bercadar, setidaknya bagi saya, terlihat serem dan sangat berwibawa untuk saya sapa apalagi mengobrol dengannya. Di samping juga khawatir salah orang, sebab dari pengalaman saya selama ini sulit untuk membedakan antara Nina dan Wiwik.

dimuat di www.nu.or.id edisi 11/08/2009

08 Agustus 2008
Tajamuk Khomis, Qahiroh Jadidah

Read More......

7/14/2009

Kakek dan Peti Kotak Ajaibnya

Peti kotak itu berwarna biru, mungkin peninggalan kompeni, atau bisa jadi pembelian Kakek ketika tour tahunannya ke Surabaya, tepatnya di pasar favorit beliau, pasar Turi. Tak ada yang tahu, karena memang tak ada yang bertanya atau lebih tepatnya tak ada yang berani bertanya.


Kakek Hasan dengan segala dominasinya sebagai tokoh masyarakat adalah satu dari sekian memorial kami yang amat sangat berharga. Beliau seorang tokoh yang bersahaja, alim, kharismatik dan super disiplin (istiqomah). Segala lika-liku kehidupan masyarakat, tak ada yang boleh lepas dari amatannya. Beliau adalah pemimpin sejati.

Sekotak peti tua itu memuat segala pernik dan perlengkapan paling berharga beliau, dari mulai pisau potong hewan kurban sampai kain kafan mayat, dan tentu juga sejumlah uang. Ibarat agen FBI, hanya beliau yang boleh membuka dan menutup kotak “ajaib” ini. Tak seorangpun boleh mengutak-atik kotak kesayangan yang terlihat nangkring manja di samping tempat tidurnya, bahkan tidak juga Nenek.

Aku menyebutnya ajaib, sebab apa saja yang dibutuhkan dalam kesehariannya pasti ada dalam kotak besi ini. Ia merupakan bagian terpenting dalam kehidupan Kakek, meski sampai saat ini belum ada yang tau dari mana asalnya barang tersebut.

Menurut prediksiku, peti tersebut didapat dari Surabaya. Berdasarkan adanya beberapa peti serupa yang juga dimiliki oleh beberapa sesepuh kampung kami, selain itu di pasar-pasar lokal tempat kami tinggal, tak pernah aku jumpai peti kotak semacam itu.

Apalagi setiap bulan Ramadan tiba, Surabaya akan segera menjadi tujuan utama dari tour tahunan Kakek. Selain tali silaturrahim dengan beberapa santrinya, moment ini juga dipergunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi zakat fitrah yang beliau kumpulkan dari mereka. Pendapatannya lumayan buat menyongsong lebaran Idul Fitri secara sederhana bersama keluarga dan warga di kampung.

Sosok kakek yang kokoh dan keras dengan prinsip yang diyakininya, membuatnya menjadi seorang tokoh yang disegani di kalangan tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Meski begitu, beliau sangat santun dan ramah terhadap siapa saja, bahkan anak kecil.

Yang tak mungkin dilupakan oleh generasai penerusnya adalah Himmah (semangat)nya dalam menambah pengetahuan keagamaannya, bahkan sampai tua renta beliau masih dan terus menghadiri majlis-majlis taklim Kyai-kyai di kota Bangkalan guna menambah wawasannya atau paling tidak mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang pernah diterimanya dulu semasa di Pesantren, apalagi di masa tuanya ini, mata rabun Kakek semakin tak bisa diajak kompromi untuk sekedar mambaca kitab.

Rutinitas ini berlangsung dua kali dalam seminggu. Hidupnya hanya untuk ilmu dan masyarakat, tak ada yang lain. Padahal untuk bisa ke kota, beliau harus berjalan kaki sejauh 2 Km untuk sekedar bisa menyetop mobil angkot di jalan beraspal. Tapi, hal itu sama sekali tidak bisa memadamkan api semangat petualangan ilmiyahnya.

Setiap adzan Subuh menjelang, beliau sudah bangun. Selanjutnya menuju Mesjid yang ada di depan rumah untuk mengimami para jemaah yang sudah menanti. Selepas Subuh, lelaki yang dikaruniai cucu-cicit lebih dari 30-an orang ini, mengajar ngaji anak-anak muda kampung, termasuk aku.

Hampir semua sholat lima waktu selalu beliau laksanakan dengan berjamaah bersama beberapa warga di Mesjid kesayangannya. Selain peka terhadap ritual ibadah, beliau juga sangat peka terhadap kondisi sosial warga. Apabila ada yang sakit, beliau akan menjadi orang pertama yang menjenguk, kalau ada yang meninggal beliau akan menjadi pelayat paling dinanti yang akan membawakan kain kafan sekaligus mengukur dan memotongkannya sendiri buat si mayat.

Pelayan masyarakat dalam arti sebenarnya, demikianlah aku melihat sosok Kakek. Tak seperti umumnya para pemimpin masyarakt zaman sekarang yang hanya ‘memanfaatkan’ masyarakat bukan ‘memberi manfaat’ pada masyarakatnya. Prinsip hidup beliau adalah memberi sebanyak-banyaknya tanpa mengharap pujian apalagi imbalan. Keikhlasan dan kejernihan hati terpancar jelas dari air muka tokoh ini. Tak ada yang diinginkannya selain Ridla dan Sorga Allah SWT.

Penempaan panjang dan liku-liku hidup telah membentuk kepribadian Kakek menjadi sosok yang sulit untuk dicarikan penggantinya. Beliau menjadi “ruh” dalam keluarga sekaligus “tiang penyangga” segala ketimpangan sosial dalam masyarakat kami. Dialah guru spiritual warga yang telah menyatu dengan hati. Keberadaannya lebih dari sekedar tokoh tapi sudah dianggap orang tua bagi setiap warga yang setia menunggu nasehat-nasehat beliau.

Hanya mereka yang tidak obyektif yang berani menilai wawasan keilmuan Kakek pas-pasan. Beliau adalah seorang alim yang benar-benar matang dan berpengalaman seluas samudera. Matan-matan kitab klasik, semacam Sullam Tufiq, Safinatun Naja dll sudah beliau hafal sejak kecil dan bahkan sudah mendarah daging. Al-Qur’anpun demikian, meski mengaku tidak pernah menghafal kitab suci ini, namun saat mengajar kami, beliau tidak pernah terlihat memegang mushaf.

Bila keilmuan para ulama masa kini terbatas pada pembacaan mereka di buku dan kitab serta teori-teori kosong di kepala saja, maka keilmuan Kakek melampaui semua dimensi tersebut. Ilmu dan praktek nyata sudah akrab dijalaninya dalam mengarungi tiap sisi kehidupan. Beliau adalah tokoh yang banyak makan garam kehidupan, yang tidak pernah sembunyi saat masyarakat memerlukannya.

Sepeninggal beliau isi peti kotak Kakek berhamburan dibagi-bagikan oleh paman kepada anak-cucu yang berminat mewarisi barang paling berharga ini (setidak berharga di mata Kakek yang sederhana). Selanjutnya kotak kesayangan Kakek yang berupa seonggok besi tak berguna itu ditinggal begitu saja, sekarang tak ada yang tau di mana keberadaan kotak peti Kakek, persis seperti saat beliau membawanya ke rumah dulu (mungkin saat itu aku belum lahir).

Memang sesuatu yang sudah tak berguna selayaknya dibuang saja, logika ini sama sekali tidak salah. Apalagi yang dibuang hanya sebuah peti kotak klasik yang tentunya sudah tidak layak pakai. Namun Aku selalu berharap ajaran dan petuah-petuah Kakek tidak bernasib sama dengan peti kotak beliau. Petuah-petuah beliau bisa terus hidup dan terpatri dalam jiwa para anak-cucunya.

Special dedication for his Grandchild and Lovers

Read More......