11/07/2012

0 Miniatur Akhirat atau Simbol Kapitalis?


Orang yang mencari "kecukupan duniawi" dengan [cara mengumpulkan] harta seperti memadamkan api dengan jerami (Bakr bin Abdullah), demikian statemen yang saya kutip dari kitab Ihya milik imam Al-Ghazali.

Akhir-akhir ini saya semakin merasa aneh dengan kondisi negeri Islam perdana ini. Seharusnya, seperti diilustrasikan Al-Ghazali, negeri ini menjadi tempat untuk bertafakkur dan mengingat akhirat. Setiap praktek ibadah haji atau umrah adalah miniatur dari perjalanan seorang hamba menuju alam terakhir setelah maut menjemput.

Alih-alih bisa berkontemplasi, negeri ini sudah menjelma menjadi negeri kapitalis nomer wahid se-timur tengah. Tak usah jauh-jauh ke luar tanah haram untuk menikmati fasilitas lux ala kehidupan modern, di depan masjid haram saja sudah menyuguhkan pemandangan kontras 180% dengan jejeran-jejeran hotel-hotel berbintang lengkap dengan mall tempat perbelanjaan.

Obrolan-obrolan penduduk yang mendiami Mekkah sudah bukan lagi ilmu, ibadah dan tetek bengeknya. Mereka sudah terbuai oleh perburuan kertas-kertas bergambar foto raja Fahad, raja Abdul Aziz, raja Su’ud dan raja lainnya. Uang real jauh lebih eksotik dari sekedar janji nabi “shalat satu rakaat di Masjid Haram sama dengan 100 ribu rakaat di tempat lain”.

Hati dan otak anda yang awalnya dibaluti rasa khusuk, dalam hitungan hari akan berubah menjadi es akibat menyaksikan fenomena di luar haram. Rumah Allah yang berdiri semenjak dunia diciptakan sulit untuk menggetarkan hati anda sebagaimana pandangan pertama. Entah, ini negeri apa? Kata orang ini negera “paling Islam” sejagat, terbukti dengan baliho super besar yang terpampang di pintu masuk kota haram, Mekkah, di sana tertulis “Non Muslim dilarang masuk”. Namun saat anda berjalan menyusuri perbelanjaan di depan haram anda akan dibuat tertawa dalam hati: aneh, non Muslim dilarang masuk tapi produk-produk terkenal dunia semacam Dior, Gucci, Giordano, Nike, dll akan segera menggoda anda. Mirip dengan gaya hidup Bin Laden yang anti-Barat tapi selalu menggendong klasnikov buatan Rusia itu.

Lebih miris jika anda membandingkan nama-nama gagah para raja dinasti Su'ud yang terpampang di setiap pintu masjid haram dengan jalanan dan gang sempit di kawasan Syarafiyah-Jeddah. Di sana nama-nama pembesar sahabat Nabi Saw. menghiasi setiap blok bangunan kumuh para warganya yang notabene penduduk asing, termasuk warga Indonesia.

Mulai dari para khatib masjid hingga pekerja media sibuk dengan memuji, mempublikasikan prestasi penguasa dan raja. Jarang ada yang berani mengkritik karena terancam akan dibui atau media akan dibredel. Jejaring sosial diawasi secara ketat sehingga warga Syiah yang mulai menggeliat memberontak dengan melakukan demo karena diperlakukan sebagai warga kelas dua hanya seperti suara sumbang.  

Para imam dan ulama Saudi terdepan dalam melabeli saudara Muslimnya yang dianggap tak sealiran sebagai pelaku bid'ah, fasik bahkan murtad dan kafir. Tapi lidah mereka akan kelu saat melihat kemesraan petinggi kerajaan dengan politikus Amerika dan negara-negara eropa pada umumnya. Terakhir, bagi para tetamu Allah yang mendapat kelebihan rejeki untuk melakukan perjalanan umroh atau haji non-wajib sebaiknya mempertimbangkan tetangga kalian yang kekurangan. Wallahu a'lam!
  

Jiyed-Mekah 29 Agustus 2012 








10/29/2010

0 Dari Kasus Sayyid Qutb Hingga Aksi Membakar Al-Qur’an Sedunia; Sinyal Keharusan Reinterpretasi Ayat Qitâl (Perang)

Aksi membakar al-Qur’an sedunia, demikian pemberitaan itu menghiasi media di seluruh dunia, pekan ini. Sebenarnya ini bukan yang pertama. Pada masa Islam primordial, kasus semacam ini sudah biasa dialami oleh Rasul saw. dan kaum Muslimin, dan terbukti mereka bisa keluar dari krisis ini. Apa yang diteriakkan kelompok fundamentalis Kristen di Florida, Amerika. adalah hal yang biasa-biasa saja. Al-Qur’an sempat mengabadikan kasus-kasus serupa saat sang Rasul dituduh “penyihir”, “pembohong”, “pemfitnah” dll. Bagaimana Rasul saw. menyikapinya? Di sini kita diajak untuk kembali membuka lembar-lembar sejarah.

Kelompok ini mengklaim bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci kaum Muslimin adalah sumber malapetaka yang mendoktrin pengikutnya untuk berbuat anarkis bahkan mengalirkan darah. “Islam agama kekerasan” tandas Terry Jones, pemimpin Dove World Outreach, yang bermarkas di Florida, AS itu.

Trauma yang tersisa sejak tragedi 11 September 2001 silam, yang menelan korban hampir 1000 orang lebih, sah-sah saja. Bahkan hampir seluruh masyarakat dunia turut mengutuk tragedi itu, termasuk kaum Muslimin sendiri. Tindakan ahumanis kelompok garis keras Islam itu sama sekali tak bisa disebut sebagai ajaran Islam, yang datang sebagai agama damai. Tindakan anarkis dengan melegitimasi ayat-ayat keagamaan seperti itu hanya bisa timbul dari interpretasi serampangan, dan tak bersandar pada akal sehat.

Ayat-ayat Qitâl (perang) yang termaktub dalam al-Qur’an sering disalah interpretasikan demi kepentingan individu maupun kelompok. Di sisi lain mereka seakan tak pernah membaca ayat-ayat Rahmah (kasih sayang) yang bertaburan di dalamnya.

Sejatinya Ada banyak faktor yang melatar belakangi tindakan anarkis semacam itu: di antaranya sosial, politik, atau psikis sang pelaku. Sayyid Qutb, seorang penulis Mesir yang banyak mengilhami kelompok fundamentalis Islam misalnya, sebelum dibui oleh pemerintah masa itu, terlihat biasa-biasa saja. Namun ketika pemerintah mengeluarkan surat penangkapan terhadap semua pemimpin Ikhwân al-Muslimin (IM), termasuk di dalamnya Sayyid Qutb. Seketika karya-karya Qutb yang ditulis di balik jeruji besi menjadi beringas dan menyeramkan. Karya-karya Qutb kemudian acapkali menjadi santapan kelompok radikal Islam untuk melegitimasi tindakan anarkis yang mereka lakukan.

Bercermin dari kasus diatas, bahwa tindakan anarkis sejatinya tak hadir dengan ‘keluguannya’. Ia didorong oleh faktor-faktor lain. Sesunggunya al-Qur’an yang multi tafsir itu adalah kitab suci yang mengajarkan kedamain, toleransi dan sederet etika agung pada pembacanya, sehingga mampu menciptakan tatanan kehidupan dunia yang ideal. Kalaupun ada beberapa ayat yang menyuruh untuk mengangkat senjata, itu hanya diperbolehkan dalam situasi tertentu (baca: darurat).

Ayat-ayat Qitâl tak bisa lepas dari konteks dan realitas yang melingkupinya. Teks-teks suci itu tak boleh tercerabut begitu saja dari “realitas” sebagai neraca untuk memahaminya. Apa yang kemudian dipahami secara ‘telanjang’ oleh kelompok fundamentalis Islam adalah ketololan. Teks tak hadir dengan lugu, ia hadir dalam dinamika tertentu.

Reaksi yang kemudian mengendap ke permukaan akhir-akhir ini merupakan sesuatu yang alamiah. Menurut penulis, aksi kaum Muslimin yang jauh dari nilai-nilai luhur agama dan humanisme, serta reaksi tak proporsional dari kelompok radikal agama lain, sama-sama tak bisa dibenarkan. Mestinya kita obyektif menyikapi krisis semacam ini secara kolektif. Menyalahkan agama tertentu bukan sikap yang tepat.

Kekerasan yang berdalih agama tak hanya terjadi dalam Islam, tapi hampir semua agama di dunia. Bahkan apa yang dipertontonkan oleh negara paling rasis, Israel, saat ini juga kerap melegitimasi pada teks-teks distorsif Talmud. Begitu pula misi perang Salib I & II yang pernah menghiasi penggalan sejarah peradaban manusia di abad pertengahan. Semua berusaha menjustifikasi naluri kolonial-barbar mereka pada masing-masing kitab sucinya.

Rasanya, rentetan kasus yang tak kunjung usai seperti yang kita saksikan melalui media adalah home work terberat, bukan hanya bagi kaum Muslimin tapi seluruh umat manusia. Penduduk dunia sudah gerah dengan lakon kekerasan yang dipertontonkan oleh kelompok superior pada kelompok inferior maupun sebaliknya sebagai reaksi dari ketertindasan.

Mari kita kembali pada ayat-ayat Qitâl. Perang dalam Islam diperbolehkan ketika kita merasa terancam atau diserang. Perang yang dikenal dalam Islam tak lebih dari sikap defensif (baik demi agama, harta dan harga diri). Sudah menjadi hukum alam bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam beberapa karakter, ada yang memiliki tabiat baik dan ada yang buruk. Seringkali eksistensi kita tak disenangi oleh sekelompok orang yang tak biasa menyaksikan perbedaan. Apa yang dianggapnya berbeda adalah salah, dan bukan tak mungkin akan menghantarkannya untuk berbuat lebih, anarki misalnya. Saat itulah sikap defensif menjadi keharusan.

Ayat Qitâl hanya boleh dipraktekkan dalam situasi tertentu. Ia hanya wasîlah (perantara/sarana) untuk menuju kedamaian abadi. Ingat perang bukan tujuan! Futûhât (penaklukan-penaklukan) Islam yang membentang sepanjang sejarah merupakan keputusan yang disepakati bersama: untuk menbebaskan rakyat negeri yang ditaklukkan dari kelaliman pemerintah sebelumnya, meski penulis tak menutup mata dari catatan sejarawan yang mengklaim bahwa Futûhât Islam memiliki tendensi politik. Namun tegasnya, penaklukan-penaklukan itu awalnya mempunyai misi suci sebagai upaya dekolonisasi dari pemerintah lalim dan otoriter sebelumnya. Terbukti, kaum Muslimin tak hanya mengeruk keuntungan dan memeras kekayaan dari negeri yang ditaklukkannya, tapi kemudian membangunnya sehingga bisa sampai pada puncak peradaban yang mengagumkan. Bedakan dengan motif imperialisme Barat!

Apa yang kemudian kita saksikan dari aksi-aksi teror kelompok ekstrimis yang mengangkangi nama Islam adalah sebuah sikap pecundang dari orang-orang yang haus darah, meminjam istilahnya Fahmi Huwaidi “tak mengenal bahasa selain bahasa kekerasan”. Selain kedangkalan pemahaman agamanya, ada semacam phobia-modernitas. Layaknya orang Badui yang tersesat di keramaian kota, gagap.

Islam adalah agama inklusif yang tak pernah menutup pintu dari setiap perubahan, termasuk modernisme. Sejarah mencatat bahwa Islam adalah agama yang selalu bisa berakselerasi dengan zaman. Bahkan moderenitas yang dicapai Barat saat sekarang ini banyak berhutang budi pada Islam. Perhatikan catatan obyektif Gustav Lobon berikut “Seandainya bukan karena Arab-Islam, Barat tak akan pernah menikmati kejayaannya.”

Bagi penulis, ayat Qitâl semakin menemukan momentumnya untuk tak lagi dipahami sebagai “perintah”—meski redaksi ayatnya memakai bentuk amr (perintah)-- ketika seluruh negara yang tergabung dalam PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) menandatangani konvensi penghapusan sistem perbudakan dan penjajahan dalam berbagai bentuknya pada 1-12-1949 M. Ayat Qitâl bisa kita pahami sebagai al-irsyâd (petunjuk). Hal ini bukan berarti mengenyampingkan perintah Tuhan yang termaktub dalam al-Qur’an, tapi lebih pada upaya kontekstualisasi al-Qur’an itu sendiri. Bukankah kita sepakat bahwa tak semua bentuk amr (perintah) yang ada dalam al-Qur’an bisa dimaknai sebagai perintah an sich.

Dimuat di majalah Afkar PCINU-Mesir edisi 55 dengan tema Islam Pasca Kolonial

8/28/2010

0 Purifikasi Agama; Sebuah ‘Laku Mengangkangi Agama’

“... Setiap kelompok yang muncul dari masa ke masa, sejatinya adalah reaksi untuk menjawab problematika kekinian”
[Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya]

Purifikasi agama sebuah terma menggiurkan, mendendang di telinga setiap muslim ghayyur (punya kepedulian lebih pada agamanya), dan membuat kita mengamini sebagai “misi suci”. Berawal dari asumsi “Islam yang terkontaminasi”, langkah purifikasi menjadi suatu keharusan. Di masa Ahmad Bin Hambal, persetubuhan Islam dan peradaban bangsa-bangsa adidaya masa lampau (Yunani, Persia, dan Romawi) mencapai titik yang mencengangkan. Filsafat sebagai produk Yunani telah demikian akrab dikaji oleh akademisi muslim kala itu.

Islam sebagai agama yang inklusif, tak pernah menutup jendela peradabannya dari bangsa lain. Semenjak orasi nabi SAW “ Hikmah serupa harta temuan bagi setiap muslim, di mana dan kapanpun kalian temukan maka rengkuhlah” jendela itu masih [terus] terbuka lebar serta tak seorangpun berhak menutupnya. Al-Qur’an sendiri sebagai kitab suci umat ini, dengan cemerlang berhasil membuka mata bangsa Arab Badui yang kolot menjadi bangsa penakluk dengan misi damai. Kisah-kisah kejayaan umat masa lampau, baris-baris kata yang diarabisasi (musta’rab) dalam al-Qur’an, dll. secara tak langsung telah memancing bangsa Arab masa itu untuk berpetualang mencari tahu kebenaran kisah, maupun dari mana akar “kata asing” yang dimuat al-Qur’an.

Namun kemudian akselerasi peradaban yang mengusung modernitas (setidaknya masa itu) ditengarai telah jauh bergeser dari Platform agama Islam awal. Ahmad Bin Hambal, raksasa ilmuwan Islam abad II, merasa terpanggil untuk mengambil sikap tegas guna purifikasi agama dari hal-hal bid’ah.

Kemudian Ibnu Hambal mendapat perlakuan tak semena-mena dari penguasa Abbasiyah yang mendaulat ideologi Muktazilah sebagai ideologi resmi Negara. Konspirasi tokoh-tokoh Muktazilah dan penguasa masa itu mendakwa sekte lain, yang dirasa berseberangan dengan ideologi negara untuk diberangus. Ibnu Hambal bersikukuh bahwa al-Qur’an itu qadim (tak berawal karena kalam Allah), bukan hadist (baru) seperti yang diimani oleh negara masa itu, meski konsekwensinya ia harus dibui.

Saat sejarah ‘dengan ringan membalik tangan’ dan Mutawakkil diangkat sebagai khalifah, kini giliran pengikut Sunni yang mendapat angin untuk melestarikan ajarannya. Muktazilahpun mendapat getahnya. Karya-karya spektakuler mereka diberangus habis, hingga mungkin yang tersisa hanya dalam hitungan jari.

Politik selalu membutuhkan landasan ideologi untuk memantapkan kebijakan kenegaraan. Maka tak heran kalau dari masa ke masa -sepanjang sejarah Islam yang membentang- ideologi menjadi semacam martir bagi kepentingan politik oknum yang haus kekuasaan. Pembenaran ideologis terkadang senyawa dengan kepentingan politik, sehingga tercipta keharmonisan dua unsur yang sejatinya berbeda: penguasa yang gila jabatan dan agamawan yang silau dengan ideologinya.

Ada benarnya bila seorang sejarawan menulis “Sejarah selalu mengulangi dirinya”, meski realita dan konteksnya berbeda. Di masa kini, kita dipaksa menonton parodi kelompok ekstrimis Islam (Wahhabiyah) yang kembali berdalih dengan gerakan purifikasi agama telah ‘bertindak aneh’ terhadap saudaranya sesama muslim. Mereka adalah generasi ‘culun’ Islam yang sok tahu mengenai Islam. Bagi mereka, Islam hanya tampil dalam satu wajah; Islam kita. Sementara yang lain, adalah bid’ah, syirik, bahkan kafir.

Kelompok ini diidentifikasi kuat berafiliasi pada faham-faham konstruktif yang diusung Ibnu Taimiyah. Meski ketika ditelusuri lebih jauh, terkesan mencopot konstruks yang dibangun Ibnu Taimiyah secara parsial, sehingga bisa dibilang “Faham Taimiyah yang tak utuh”. Hal itu wajar saja, mengingat sosok Muhammad Bin Abdul Wahhab, sebagai pendiri Wahhabisme modern, sempat mendapat kontrak politik bersama King Saud, penguasa Nejd (Saudi Arabia).

Setelah ditemukan sumber minyak terbesar dunia di Saudi Arabia. Negara yang awalnya hanya dihuni kabilah-kabilah yang bertebaran di gurun sahara semenanjung Arabia, kini menjelma menjadi salah satu negara terkaya dunia dengan petro dollarnya. Wahhabiyah seperti kejatuhan durian, mereka menjadi semakin bergairah melancarkan praktek-praktek keagamaannya. Bahkan ‘arabisasi Islam’ yang mereka usung mendapat respon yang cukup massif dari kalangan muslim abangan. Dengan dana melimpah dan gerakan terorganisir rapih, Wahhabisme pelan tapi pasti, sanggup bernyanyi merdu di tengah kegamangan umat muslim yang nyinyir menyaksikan dunia yang semakin hedonis.

Jargon “purifikasi Islam” menjadi alternatif paling menggiurkan bagi mereka yang emoh mendalami Islam secara utuh. Konsep ketuhanan (tauhid) diacak-acak, sehingga di tangan Wahhabiyah serupa film kartun yang disukai anak-anak, remaja, dan orang tua. Asal tahu saja, di masa lalu kajian tauhid merupakan kajian yang sangat
bergengsi dan menjadi salah satu ikon kematangan berpikir intelektual muslim. Namun sekarang, tauhid menjadi begitu mudah dan dangkal. Motif tampilnya Wahhabiyah, bagi penulis, merupakan bentuk pendangkalan agama itu sendiri.

Selain purifikasi agama yang mereka tawarkan sebagai trademark (merek dagang), ada juga syahwat menghidupkan kembali tradisi berijtihad. Memang hampir semua muslim meyakini bahwa pintu ijtihad masih terbuka, dan setiap intelektual muslim selalu dituntut berkreasi sehingga sanggup menghadirkan Islam yang lebih dialogis dan ramah terhadap lingkungannya. Namun ‘fatwa serampangan’ yang didengungkan Nashiruddin al-Albani, seorang pendiri sempalan dari Wahhabiyah yang juga memiliki banyak pengikut, bahwa bertaklid pada Imam-imam madzhab merupakan tindakan bid’ah yang dilarang oleh agama, telah menimbulkan gejolak di kalangan umat Islam itu sendiri. Setidaknya, pengikut al-Albani akan mengklaim bahwa umat Islam sejak masa Imam Malik, Hanafi, Syafii, dan Hambali hingga kemunculan al-Albani, telah terjerumus dalam perilaku salah dan tak satupun dari jutaan umat Islam itu menyadarinya, absurd.

Anehnya, tradisi ijtihad yang mereka koar-koarkan itu kembali hadir dalam satu peran antagonis; kebenaran hanya ada pada Imam-imam kami, yang lain salah. Terbukti, tak seorangpun dari pengikut Wahhabiyah yang berani mengkritisi [secara terbuka] Imamnya. Ini dilematis, dari satu sisi mereka menuduh pengikut madzhab sebagai pelaku bid’ah karena taklid dan di sisi lain mereka membebek murni pada Imam-imamnya. Ibarat pepatah Arab bilang “Membumi hanguskan seluruh kota untuk membangun sebuah istana.” sebuah sikap irasional.

Konsep ijtihad ala Wahhabiyah juga masih ambigu. Kita lihat, meski motif kemunculan Muhammad Bin Abdul Wahhab dinilai sama dengan renaissance Muhammad Abduh di Mesir: purifikasi agama. Namun pisau analisis yang dipakai oleh kedua tokoh ini berbeda, bila Ibnu Abdul Wahhab selalu mengungkung pemahaman keagamaannya pada teks, maka Abduh lebih mengandalkan nalar logika. Hasilnya, yang pertama kaku, keras, dogmatis, pragmatis, dan statis, yang kedua lebih lentur, toleran, membaur dengan tradisi daerah, dan sanggup bersanding mesra dengan modernitas.

Dalam memahami teks dibutuhkan analisa jernih sehingga tak terjerembab dalam ‘asumsi kosong’, karena teks tak selugu yang kita lihat. Sejatinya teks selalu berdialog dengan realitas sosio-kultural, sosio-politik, dan psikologi penulisnya. Ia tak sesederhana pembacaan awal kita, ia juga tak sekonyol idiom ‘cinta pada pandangan pertama’. Namun Wahhabiyah dengan misi pendangkalan agamanya, telah mencerabut teks dari konteks. Wahhabiyah kemudian mengiming-imingi pembaca dengan “Inilah agama Islam sebagaimana nabi SAW dan para sahabatnya”.

Apalagi dalam metode dakwah, Wahhabiyah seperti tak pernah mengenal urgensi kesantunan layaknya legitimasi al-Qur’an. Mereka meloncat, dari yang semestinya berdakwah dengan kalam hikmah, kemudian mauidzah hasanah (nasehat baik), pada tradisi jidal (debat). Tak hanya itu, kata bid’ah, syirik, sampai kafir, demikian renyah meluncur dari mulut-mulut kelompok puritan ini. Padahal Imam Malik jauh-jauh hari sudah mengultimatum “Jika kau mendapati seorang muslim terjerembab dalam jurang kekufuran dari beberapa arah, namun ada kemungkinan dia masih mukmin, meski hanya dari satu sudut pandang. Maka jangan sekali-kali kau menuduhnya [telah] kafir”. Ungkapan ini kemudian dipopulerkan kembali oleh Muhammad Abduh sebagai reaksi atas menggugusnya fenomena takfir (saling mengkafirkan) di tubuh kaum muslimin. Wallahu a’lam.

8/25/2010

0 Pesona Perpustakaan Islam Klasik

“Buku serupa penghibur yang tak akan datang saat kau sibuk. Tak suka basa-basi membuang waktu. Buku adalah kawan yang tak akan menyakitimu, kawan yang tak akan menipumu, kawan yang tak hanya memanfaatkanmu. Buku adalah penasehat tanpa melecehkanmu”. Demikian ungkap salah seorang cendikiawan muslim masa silam, Ahmad bin Ismâil.

Di sini, penulis tak hendak mengajak pembaca bernostalgia dengan kemegahan peradaban Islam klasik semata. Namun lebih tertarik pada adagium raksasa pemikir Mesir, Abbas Mahmud Al-Akkâd, yang pernah menulis “Perpustakaan adalah simbol kemajuan peradaban sebuah bangsa”, sekaligus berharap bisa menginspirasi pembaca tentang urgensi kepustakaan dalam membentuk peradaban.

Seperti yang kita pelajari semasa sekolah dasar, bangsa Sumeria (abad 6 SM) adalah bangsa pertama yang mengenal seni baca-tulis. Demikian pula seni mengumpulkan data, informasi, dan dokumen penting lainnya. Setidaknya penemuan arkeologi dari kota-kota kuno bangsa ini telah menegaskan bahwa bangsa Sumeria kerap mengabadikan catatan perundangan, teologi, sejarah, dan legenda pada lempengan batu liat, yang tersimpan rapi di salah satu kuil di Mesopotemia. Bahkan di perpustakaan Ashurbanipal saja terpendam lebih dari 30.000 tablet tanah liat.

Dari Yunani kuno, kita dikenalkan pada beberapa pustakawan: diantaranya ada Polycrates, sang Raja tiran yang menjajah Athena. Selain Raja dia juga kolektor buku. Euripedes, sang penyair yang gila buku. Dan tentunya Aristoteles sendiri, sang Failasuf.

Di Barat, perpustakaan pertama didirikan oleh Julius Cesar, kaisar Romawi, yang mengaku banyak terinspirasi oleh apa yang dia saksikan di Yunani dan Alexandria. Ia kemudian berinisiatif mendirikan beberapa pusat bacaan (perpustakaan), yang membentang di seantero negeri Romawi: mulai dari perpustakaan Porticus Octaviae -dekat teater Marcellus-, kuil Apollo Platinus, hingga Capitoline Hill. Konon, sikap Cesar ini adalah bentuk permintaan maafnya pada ratu Alexandria masa itu, Celeopatra: karena telah ceroboh membakar lebih dari 400.000 koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan Alexandria, saat negeri itu ditaklukannya.

Sementara Cina, sebagai salah satu bangsa tertua juga tak mau ketinggalan. Pada masa kekaisararan Qin (abad 3 SM), perpustakaan menjadi saksi kemegahan peradaban yang mereka bangun. Meski sistem klasifikasi buku, baru dipraktekkan oleh dinasti Han (abad 2 SM) yang datang setelahnya. Pada saat itu, katalog perpustakaan ditulis pada gulungan sutera yang disimpan dalam kantong terbuat dari kain sutera pula.

Dalam sejarah Islam, kegemaran mengoleksi buku tak hanya menjangkiti kalangan borjuis dan penguasa, tapi juga rakyat jelata. Barangkali risalah Islam yang bermula dengan turunnya surat Iqra’ telah mengilhami khalifah dan rakyatnya untuk bersama menggemakan budaya baca. Sehingga mereka seperti ‘keranjingan’ untuk mengoleksi buku-buku, yang dianggapnya unik dan berkualitas tinggi. Bahkan ketika tentara Romawi berhasil diusir dari kawasan Kostantinopel dan sekitarnya, yang pertama kali dijadikan syarat pelepasan tawanan oleh khalifah masa itu adalah dengan barter buku-buku Yunani, yang selama ini hanya menghiasi ruang pribadi para raja atau tersimpan di rak-rak buku gereja.

Perpustakaan Islam klasik bisa diklasifikasi dalam dua macam: pertama milik pribadi atau perorangan, kedua milik negara yang lazimnya didirikan bersebelahan dengan lembaga lainnya, semisal mesjid atau sekolah. Meski disebut milik pribadi tapi perpustakaan Islam masa itu bisa diakses layaknya fasilitas umum. Pustaka pribadi milik Ali bin Yahya bin Al-Munajjim yang berlokasi di perkampungan Karkur kawasan Baghdad misalnya, berhasil menjadi favorit pecinta ilmu yang datang dari seluruh penjuru negeri. Fenomena ini tak lepas dari pelayanan istimewa yang memanjakan pengunjung; selain dibebaskan membaca, menyunting, menyalin, pengunjung juga mendapat beasiswa dan fasilitas penginapan sehingga tak disibukkan dengan pekerjaan lain.

Untuk perpustakaan umum, khalifah atau penguasa akan menunjuk seseorang untuk menjadi direktur perpustakaan (khâzin al-Maktabah), yang mengkoordinir kepala bagian tertentu. Sebab perpustakaan masa itu sudah cukup sistematis: di sana ada bagian percetakaan (dengan cara menyalin teks karena memang belum ada alat cetak), penjilidan untuk menjaga keutuhan buku, dan bahkan cleaning service sendiri. Setiap perpustakaan, baik besar maupun kecil, telah menyiapkan katalog lengkap yang memudahkan pengunjung untuk mengakses buku yang sedang diperlukannya.

Mungkin yang paling mengesankan dari pelayanan pustaka era itu adalah fasilitas beasiswa yang sangat memanjakan pengunjung. Di masa kini, hampir tak dapat kita temui perpustakaan dengan fasilitas semacam itu.

Perpustakaan Bait al-Hikmah Baghdad

Di sini penulis hanya akan memotret perpustakaan terbesar yang melahirkan cendikiawan Muslim masa keemasan. Mungkin yang paling layak disebut pertama kali adalah Bait al-Hikmah di Baghdad, ibu kota daulah Abbasia. Ketika khalifah Al-Mansûr (170 H) berkuasa, manuskrip-manuskrip yang dikoleksinya sempat membuat sesak istana khalifah. Sampai kemudian keponakannya, Harun Al-Rasyid, naik tahta. Al-Rasyid-lah yang kemudian berinisiatif untuk mengeluarkan buku dan manuskrip dari dalam istana dan membangun perpustakaan yang bisa dinikmati oleh khalayak umum. Ia kemudian diberi nama Bait Al-Himah. Inilah perpustakaan pertama dan terbesar dalam sejarah bangsa Arab-Islam.

Dalam Bait al-Hikmah, ada semacam stand khusus terjemah manuskrip kuno dari Yunani, Romawi, dan Persia. Megaproyek ini dikomandani oleh Yuhana bin Masawiyah, yang diprioritaskan untuk menterjemah teks-teks Suryani ke dalam bahasa Arab. Adapun teks-teks Persia yang mengupas tentang ilmu filsafat dan astronomi diterjemah oleh Abu Sahl al-Fadl bin Nubikht, sebagai penerus proyek Ibnu al-Muqaffa’.

Saat al-Rasyid tutup umur, Al-Makmun putera beliau yang melanjutkan roda pemerintahannya, tak mau kalah untuk berkonstribusi mengembangkan Bait Al-Hikmah. Ia mengirim beberapa pakar ke Asia Tengah, India, Ethiopia, dan kawasan Kaukasus untuk mendapat tambahan koleksi perpustakaan negara. Konon, untuk terjemah dari Yunani ke Arab saja, pemerintah menghabiskan dana sekitar 300 ribu dinar.


Perpustakaan Al-Azîz Billah Kairo


Dinasti Fatimiyah yang berdiri di Kairo bisa dibilang sebagai sebuah negara otonomi Abbasiyah. Bahkan dianggap akan menggoyah eksistensi Abbasiyah di Baghdad. Tak hanya persaingan politik dan madzhab yang menghiasi perjalan dua dinasti Islam tersebut, tapi juga budaya dan pemikirannya. Meski secara historis, dinasti Fatimiyah relatif lebih muda 1 ½ abad dari Abbasiyah yang berdiri pada abad kedua, tapi kebijakan Fatimiyah tak kalah bersaing dari induknya.

Perpustakaan ini didirikan oleh khalifah Al-Aziz Billah (365 H) setelah naik tahta menggantikan ayahandanya, Al-Mu’iz Lidinillah. Awalnya perpustakaan ini hanya berawal dari hobi baca sang khalifah, yang tak segan membelanjakan hartanya demi sebuah buku yang sedang diburu. Konon setiap kali khalifah Al-Aziz menemukan sebuah buku yang ‘menyihir’nya, dia akan segera menyuruh nussakh untuk menggandakan. Bahkan kitab al-Ainnya Al-Khalil Bin Ahmad saja digandakan sampai 30 eksemplar. Perpustakaan ini terus berkembang hingga koleksi buku yang ada mencapai jutaan. Menurut Dr. Musthafa al-Siba’i jumlah berkisar antara 1-2 juta kolesksi buku.

Jangan dikira koleksi buku yang ada saat itu hanya sebagai ekspresi bangga diri dan persaingan politik semata layaknya masa dinasti Ustmaniyah, tapi khalifah Al-Aziz Billah benar-benar seorang penguasa yang memiliki perhatian khusus pada buku. Ibnu Khalkan bercerita bahwa sang khalifah kerap keluar masuk perpustakaan, mengawasi sendiri koleksi buku-bukunya, dan bahkan berjam-jam membaca dan mendiskusikannya pada para penasehat dan ilmuwan yang sengaja diundangnya ke Kairo.

Perpustakaan Al-Zahra’ di Cordoba Spanyol

Ketika dinasti Abbasiyah berhasil menggulingkan Umawiyah (132 H), di saat yang sama beberapa penguasa Umawiyah yang melarikan diri berhasil membuka dunia baru, Maroko-Spanyol. Diantara pemimpin Umawiyah yang paling fenomenal adalah Abdurrahman Al-Dâkhil. Semenjak Andalusia ditaklukkannya, para penguasa Umawiyah seperti ‘mendapat angin’ untuk mempertahankan eksistensinya, di Andalusia inilah mereka membangun peradaban baru.
Masa keemasan Andalusia dapat disaksikan ketika khalifah VIII, Abdurrahman Al-Nâshir, naik tahta. Andalusia menjadi kiblat ilmu, seni, dan sastra dunia. Al-Nâshir menjadi sosok di balik kejayaan Andalusia, ia berhasil mendidik putera mahkotanya menjadi pribadi yang cinta ilmu. Al-Mustanshir, gelar itulah yang disematkan pada putera mahkota. Di masa kepemimpinan Al-Mustanshir, perpustakaan ini didirikan. Para pakar kepustakaanpun dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri untuk mewujudakan pelayanan terbaik buat rakyatnya.

Ada cerita menarik ketika Al-Mustanshir mendengar bahwa di Baghdad ada sebuah buku baru – tepatnya Al-Aghâni karya Al-Ashbihâni-, dengan serta merta ia mengirim 1000 dinar emas demi mendapat salinan nuskhah kitab Al-Aghâni tersebut. Saat itu pula buku tersebut bisa dinikmati di Andalusia sebelum warga Baghdad bisa menikmatinya.

Ada yang membedakan tradisi perpustakaan di Timur (meliputi Baghdad, Kairo, dan sekitarnya) dan Barat (Spanyol, Maroko). Pertama jika di Baghdad menterjemahkan literatur kuno ke dalam bahasa Arab, maka di Còrdoba menterjemahkan teks-teks buku berbahasa Arab ke bahasa Latin. Kedua para ilmuwan muslim di Baghdad sibuk menyelami literatur-literatur klasik untuk memperkaya khazanah Islam, sementara di Còrdoba ‘melompat jauh’ untuk memperkenalkan literatur Arab-Islam pada bangsa Eropa, yang waktu itu masih mempelajari spirit modernitas ala Islam Còrdoba. Ketiga di Baghdad peran perempuan dalam dunia pustaka terpinggirkan, namun di Còrdoba cenderung lebih perduli jender: tercatat lebih dari 170 wanita bertugas sebagai penulis dan penterjemah di perpustakaan Al-Zahrâ.

Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab adalah: ke mana khazanah kekayaan Islam masa lalu itu? Setidaknya kita bisa mengungkap dua faktor untuk menjawabnya: Pertama faktor internal, di mana kaum muslimin masa itu sudah tak berdaya dan termakan oleh politik yang memecah belah. Sehingga syahwat kekuasaan lebih mendominasi, pendidikanpun terbengkalai: akibatnya koleksi buku di perpustakaan banyak tak terawat atau bahkan dijual murah dan covernya dibuat pelapis sendal. Kedua faktor eksternal, meliputi 1. Agresi Tar-tar yang membumi hanguskan Baghdad. Koleksi buku Bait Al-Hikmah banyak dibuang ke sungai Furat dan Tigris 2. Gelombang perang Salib yang berakhir dengan runtuhnya dinasti Umawiyah di Andalusia. Koleksi buku umat Islampun dihabisi, sehingga yang tersisa saat ini hanya beberapa koleksi di perpustakaan Escorial Madrid 3. Konflik antar madzhab; selain korban nyawa, karya-karya yang ditulis menurut ideologi masing-masing madzhab juga menjadi sasaran.

1/27/2010

0 Tarian Gaudy Old Style untuk Gus Dur

Waktu itu saya menghadiri sebuah diskusi reguler SAS Center yang digelar sebulan dua kali. Salah seorang presentator menulis sebuah artikel tentang tasawauf (saya sudah lupa judulnya) dengan menggunakan font Gaudy Old Style. Saya sendiri takjub dengan tampilan elegan dan apik font ini. Sesampai di flat, saya langsung membuka laptop dan mencari: kira-kira font apa yang dipakai kawan saya itu? Ternyata Gaudy Old Style.

Sampai detik ini, saya masih merasa nyaman menggunakan font ini, meski terlihat irit dalam spasi sehingga tulisan yang seharusnya sudah penuh satu halaman jika memakai Gaudy Old Style akan tampak setengah halaman. Tapi bagi saya, setidaknya tak membuat bosan dan melelahkan ketika membaca. Bahkan beberapa artikel Gus Dur yang saya koleksi dalam format Notepad, ketika ingin kembali membaca saya segera mengcopynya terlebih dahulu di Microsoft Word dengan pilihan font Gaudy Old Style. Tentunya setiap orang mempunyai pilihan masing-masing, seperti Brad Pitt yang merasa nyaman dengan pasangannya, Angelina Jolie.

Semenjak wafatnya Bapak Demokrasi dan Pluralisme Indonesia (meminjam istilah SBY), saya semakin dibuat penasaran dengan sosok nyentrik ini. Gus Dur yang semasa hidup sering melawan arus dan tradisi dengan ide-ide ‘gila’ tentunya, telah menyita perhatian media, baik lokal maupun internasional, hampir sebulan penuh. Bahkan hampir semua tokoh internasional turut berduka dan merasa kehilangan dengan wafatnya mantan Presiden RI ke 4 tersebut, beliau seperti keluar dari kodratnya sebagai cucu seorang ulama besar Nusantara, menjadi tokoh yang disegani sekaligus disukai semua golongan tanpa melihat setatus agama, bahasa, dan ras tertentu. Gus Dur adalah tokoh multidimensi yang mendunia dan terbukti sanggup menerobos sekat-sekat dunia Pesantren yang membesarkannya.

Wafatnya Gus Dur, bagi saya memberi kenangan tersendiri yang cukup menggelitik. Pasalnya, saya yang sore itu berkunjung ke rumah seorang karib yang kebetulan seorang aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), sambil tertawa dia menyodori saya sebuah sms “Alhamdulillah khilafah akan segera berjaya di Indonesia, karena satu dari pejuang demokrasi sudah mati (Gus Dur) sore ini.” kira-kira demikian bunyi sms itu. Dua hari setelahnya, PCINU Mesir segera memaklumatkan pada warganya untuk melaksanakan shalat ghaib bersama di Griya Jawa Tengah. Saya kembali terkaget, katika salah seorang pentolan Kifayah (salah satu anak organisasi yang bernaung di bawah Persis) menyapa di tengah perjalanan, dan di sela obrolan basa-basi kami dia sempat menyinggung wafatnya Gus Dur, tentunya dengan senyum simpul terselip di bibirnya.

Ternyata sampai meninggalpun seorang Gus Dur masih menyisakan sejuta kisah untuk dikenang, termasuk bagi saya; pengagumnya. Bagi saya wafatnya tokoh ini adalah petaka, mungkin bagi yang lain bisa jadi dianggap sebagai “berkah”, termasuk beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan menancapkan ideologi anti demokrasi seperti yang saya sebut tadi. Gus Dur memang bukan manusia sempurna tanpa cacat dan cela, tapi setidaknya beliau sudah mengajarkan kita banyak hal (silahkan baca kembali artikel-artikel yang pernah ditulis oleh Gus Dur).

Setiap orang bebas berpendapat mengenai figur eksentrik Gus Dur. Apabila ada nilai-nilai positif yang diperjuangkannya sudah selayaknya kita lestarikan, sebaliknya kalau ada yang dirasa tak sesuai dengan cita-cita luhur keutuhan berbangsa dan bernegara harus segera kita campakkan.

Kita bangga dengan keislaman kita, namun bukan berarti semua harus diislamisasi. Kebebasan beragama yang dijamin dalam undang-undang dasar NKRI sudah cukup. Bagi seorang muslim sejati, agama terlalu sakral untuk diformalisasi. Ketika rukun Iman dan Islam yang diyakini bisa ia jalankan dengan hati ikhlas, damai, dan dibumbuhi toleransi maka negara itu sudah cukup untuk kita sebut “negara Islam”. Kalaupun dalam Islam dikenal konsep jihad, maka kita harus cermat memahaminya. Karena makna Jihad sesungguhnya adalah merengkuh kebebasan beragama kita, bukan memaksakan agama kita agar dipeluk orang lain.

Goresan tinta emas sejarah adalah saksi: bahwa Nabi dan sahabat tak mengangkat bendera Jihad kecuali untuk tujuan merebut kembali kebebasan melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai muslim yang taat. Di saat hak-hak itu telah kembali, maka Islam segera menjadi simbol agama paling toleran di dunia. Sebagai bukti, banyak situs dan peninggalan kaum pagan yang bisa kita saksikan di bumi-bumi taklukan Islam, bukan dengan berulah melempar granat dan bom bunuh diri ingin menghancurkan simbol dan jargon keagamaan atau bangsa lain.

Mungkin itu hanya satu dari sekian pesan yang saya tangkap dari sosok Gus Dur. Pluralisme yang diperjuangkannya mengakar kuat pada kecintaannya terhadap negeri “gemah ripah loh jinawi” ini. Beliau tak ingin bangsa yang telah berhasil merebut kemerdekaannya dengan cucuran keringat dan darah pejuang yang mati syahid, akhirnya akan ambruk dalam keranda-keranda kelompok dan aliran yang saling tikam. Kemajemukan dengan masyarakat yang heterogen di negeri ini harus dijaga, jangan sampai ada “tangan-tangan jahil” menggilasnya, meski dengan alasan apapun (termasuk formalisasi syariat).

Kecanggihan tekhnologi dan pesatnya informasi sudah selayaknya dijadikan pelajaran bahwa kita tak lagi hidup di ‘jaman Onta atau Kuda’. Merupakan sebuah ironi atau bahkan ilusi ketika kita mengimpikan sebuah komunitas Islam yang terlepas dari kemajemukan bangsa-bangsa di dunia, semisal dalih mendirikan Khilafah yang ekslusif. Kita hidup dalam era kebebasan dan keterbukaan, semuanya bisa diwujudkan tanpa harus memperjual belikan agama yang suci. Bahkan jika ada seorang muslim merasa ditindas dan diperkosa hak-haknya, ia bisa berteriak sekencangnya dan dalam hitungan detik dunia akan segera memberitakannya.

Negeri ini terlalu muda untuk kehilangan sosok Gus Dur, semoga di masa mendatang akan lahir ribuan atau bahkan jutaan Gus Dur yang turut mamperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan toleransi.

Semoga arwah Gus Dur mendapat siraman rahmatNya dan diampuni segala dosa yang diperbuat, amin.

Tajamuk Khomis
28 Januari 2010

12/21/2009

0 Penat

Kontemplasi jadul, hanya ingin posting!

Ketika waktu melelahkan, tiada ungkapan yang paling mendamaikan selain “Rehatlah barang sejenak, supaya pikiran menjadi fresh kembali”. Kepenatan yang menghimpit kita sehari-hari adalah karunia tak terhingga, tanpa penat kita tak akan bisa merasakan nikmatnya rehat.


Carilah penat maka imbalanmu adalah rehat, jangan pernah menganggap penat sebagai momok sebab di sanalah entitasmu dihargai, dan saat itulah kamu telah menjadi orang yang berharga. Meloloskan diri dari penat adalah favorit tiap orang, padahal secara tidak sadar telah menjerumuskan diri dalam keranda ketidakberdayaan.

Tak ada ceritanya, kesuksesan bisa diraih dengan santai, enjoy, dan tanpa penat. Penat adalah setengah dari kesuksesan itu sendiri, bagaimanapun hasil yang anda raih. Ingat usaha anda tak ada yang sia-sia meski gagal (versi orang umum) kerap mendera, asal niat tulus ikhlas menyertai tiap langkah anda.

Allah SWT tak pernah ‘iseng’ menanyakan apa pencapaian yang anda raih, namun usaha apa yang anda tempuh, bagaimana cara dan kemana anda optimalkan pencapaianmu? Demikian pertanyaan-pertanyaan itu (pasti) menyapamu.

Namun dari ulasan singkat di atas, bukan berarti anda tidak berhak untuk bersantai atau berehat. Kita bukanlah robot tak pusar, kita sadar bahwa kita mempunyai batasan dan kelemahan. Kita adalah makhluk Tuhan dengan jiwa dan raga yang keduanya mempunyai hak yang sama. Tak adil, bila memberi porsi keduanya dengan tidak seimbang.

Hanya para Malaikat yang diciptakan Allah tanpa rasa lelah, manusia tidak. Manusia diperbolehkan menikmati apa saja sebatas tidak menyalahi aturan-aturan Tuhan, dia boleh makan sepuasnya asal tidak sampai ishraf (berlebihan yang dilarang agama), dia boleh memiliki rumah megah, mobil mewah selama dia mampu mensyukurinya, dia juga diperbolehkan menikah dan mempunyai anak. Semua itu adalah fasilitas Tuhan yang tidak diberikan kepada siapapun, kecuali kapada makhlukNya yang bernama “manusia”.

Meski disebut fasilitas, namun tak jarang ia membuat manusia lalai akan tugasnya sebagai “Khalifah Allah”. Saat itulah manusia melupakan orientasi asalnya untuk menghamba hanya pada Allah. Menusia kemudian berpaling karena tersilaukan oleh fasilitas-fasilitas tadi, sehingga tanpa disadari dia telah memilih fasilitas-fasilitas itu sebagai Tuhannya.

Menuhankan fasilitas-fasilitas ini tidak harus menyembah dan bersujud di hadapan benda-benda tersebut dengan membakar kemenyan. Mencintai dalam hati lebih dari segalanya atau memposisikannya di atas Keagungan Allah sudah cukup untuk menyebutnya sebagai sekutu bagi Tuhan.

Untuk mengetahui sebatas mana kecintaan kita pada Allah dan kecintaan kita pada fasilitas yang Allah anugerahkan, kita bisa mengukurnya di saat kita tertimpa musibah kehilangan barang titipan Allah tersebut. Bila kehilangan ini membuat anda setres dan seakan dunia sudah berakhir apalagi bunuh diri, maka saat itulah anda bisa menilai cinta anda pada Tuhan.

Menerima dengan ketentuan Allah adalah cermin mukmin sejati. “Menerima” di sini bukan berarti lepas tangan ketika ada musibah dan hanya tawakal pada takdir, hal ini salah. Ketika anda kehilangan sesuatu yang anda miliki, anda wajib melapor pada pihak yang berwajib. Kalau tidak, buat apa anda membayar pajak pada negara.

Jadi, semua ada aturannya. Menerima semua apa yang ditakdirkan Allah (simpanlah sikap ini dalam hati sebagai bukti keimanan terhadap Kekuasaan absolut Tuhan), sementara usaha untuk mencari solusi dari problem yang sedang dihadapi tetap dan harus anda jalankan.

Naif, bila anda menyatakan beriman namun tanpa amal. Sifat menerima adalah iman anda dan melapor pada yang berwajib adalah amal anda. Ini hanya contoh sederhana yang bisa anda kembangkan sendiri. Nabi sendiri secara tegas berucap “I’qil fa tawakkal” tambatkan tungganganmu kemudian tawakallah pada Tuhanmu. Ringkasnya, berusaha dulu selebihnya anda perbanyak berdoa dan berserah.

Kepenatan yang kerap menyelimuti hari-hari kita; seperti pekerjaan yang tak jua usai, nasib yang tak jua berubah, dan keinginan-keinginan yang mengendap tanpa ada wujud nyata telah memeras energi dan pikiran kita. Semestinya kita bisa membuat skema yang jelas untuk mewujudkan impian-impian tadi, mulailah dari yang termudah atau teremeh atau terkecil. Molekul-molekul kecil ini bila anda rajin mengumpulkannya, di masa mendatang akan membuat semua mata terbelalak, percayalah!

9/20/2009

0 Sekuel 'Nyonya Tua' Blog Vs 'Isteri Muda' Fesbuk

Di tengah malam nan sepi, di ujung ruas hari lebaran. Hasratku untuk menulis di blog 'angker' ini berdebur, ada kerinduan dahsyat setelah sekian lama tenggelam dalam pelukan 'isteri baruku' fesbuk. Iseng-iseng kucoba mengunjungi blog-blog kawan Masisir (mahasiswa Mesir), ternyata sama: angker tanpa penghuni.

Ada apa ini? mengapa rumah-rumah mewah itu sekarang terlihat lengang dan berdebu. Jangankan pengunjung yang datang, si empunya saja emoh untuk sekedar menyapu dan membersihkan rumahnya. Ah, blog-blog itu seperti kota mati. Kabar teraktual yang aku terima, adalah akibat kekejaman isteri-isteri baru, fesbuk.

Fesbuk adalah cewek manis, manja, dan centil. Hanya MUI yang pernah memfatwa HARRAM (baca dengan tasydid), mungkin karena kesulitan menjalankan aplikasikannya. Meski terbilang isteri muda, namun pengalamannya dalam merayu, bergenit-genitan, bahkan bercinta, ia tak kalah dengan Cleopatra sekalipun.

Tak hanya tukang ojek, presiden pun kesemsem sama 'anak gadis' Mark Zuckerberg ini. Ia berhasil menyihir hampir 300 juta pengguna di seluruh dunia; melebihi jumlah penduduk Indonesia. Omsetnya pun terus melonjak naik, Zuckerberg cuma bilang "“Awal tahun ini, kami berharap cash flow positif tercapai di sekitar tahun 2010, dan saya sangat puas dengan pendapatan yang kami peroleh di kuartal terakhir ini”.

Pelayanan istimewa ala fesbuk benar-benar memanjakan penggunanya. Selain mempererat tali silaturrahi antar keluarga, ia juga memudahkan anak-anak muda mencari pasangan (perhatikan: bila fesbuker sudah jarang posting di wall, ada indikasi bahwa dia telah mendapatkan pasangan yang cocok dan memilih aktif di message yang lebih privat).

Namun karena kehebatan sihirnya, 'makhluk abu-abu' ini tak jarang membuat penggunanya lena, lupa waktu, lupa tugas, lupa janji, lupa makan, lupa matikan kompor, dan lupa-lupa lainnya. Di beberapa belahan dunia, fesbuk telah terbukti menjadi arsitek di balik meningkatnya kriminalitas, dari sekedar saling olok di forum sampai menghantarkan beberapa penggunanya ke liang lahat (lihat kasus Hayley Jones). Mungkin yang terbaru adalah kasus pemukulan seorang isteri oleh suaminya di Bekasi, akibat cemburu melihat perubahan setatus fesbuk isterinya dari married ke single.

Fesbuk menjadi salah satu fenomena abad ini, ia mencatat sejarah spektakuler dan berhasil menyatukan kemajemukan penduduk bumi. Fesbuk adalah 'agama' baru, yang sanggup meleburkan semua entitas manusia, tanpa sekat-sekat ras, bangsa, dan negara. Ia adalah pisau bermata dua layaknya media lain, tergantung siapa dan bagaimana memakainya.

Sementara blog, tetap sebagai si Nyonya tua penunggu rumah tua nan wibawa. Hanya mereka yang tak tau balas budi, yang sudi melupakan isteri tua. Bukankah Raditya Dika menjadi penulis terkenal gara-gara catatan konyolnya di blog? bukankah Bang Arif sukses menerbitkan novel-novelnya (Eniwei Its Cairo Uncensored- Fatimeh Goes to Cairo) di Indonesia karena blog? Jadi, 'mukjizat' blog belum sepenuhnya kalah dengan 'sihir' fesbuk itu.

Sekedar catatan untuk mengusir sunyi, semoga berkenan. 'Met lebaran & mohon maaf lahir-bathin buat semua rekan/rekanita Masisir. Kullu 'am wa antum bi khair.
 

Kacong Academy Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates